Kamis, 27 Agustus 2009

Beratnya cobaan ini


1 Kor 10 : 13 ‘Pencobaan…’

Malam tadi saya terlibat dalam pertarungan yang sangat sengit dengan seseorang, seluruh kemampuan dan kesaktian sudah dikerahkan tapi lawan yang saya hadapi tak kunjung menyerah dan takluk. Entah sudah berapa jurus sudah saya keluarkan, baik untuk pukulan mapun tendangan namun dia selalu bisa mengelak bahkan tak jarang dia balik menyerang dengan kuatnya. Setelah lama lawan tak juga mampu dikalahkan dan saya merasa lelah dan hampir menyerah tiba-tiba saya tersentak bangun dari tidur dan seketika itu juga lawan berat yang saya hadapi lari entah kemana.

Rupanya saya baru saja bermimpi bertarung dengan lawan yang sepadan dan seimbang, hal itu terbukti sampai saya selesai bermimpi lawan tersebut belum berhasil dikalahkan. Saya ingat saya terbangun dan lawan itu lari setelah saya bertanya kepada Tuhan dalam mimpi saya ‘Tuhan kenapa lawan ini sangat sukar dikalahkan ? Saya tidak sanggup lagi melawannya. Tuhan tolonglah saya ! ‘

Segera setelah saya terjaga dan mimpi itu buyar saya teringat akan Firman Tuhan dalam 1 Kor 10 : 13. Pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kemampuan kita dan pada waktu kita dicobai Tuhan akan memberikan jalan keluar supaya kita cakap menangungnya.

Alkitab mengatakan bahwa persoalan, pencobaan ataupun ujian yang kita alami atau hadapi sesungguhnya adalah hal biasa yang tidak akan melebihi kekuatan kita. Tapi yang sering terjadi adalah suatu tanggapan berlebihan yang kita hasilkan. Seolah-olah masalah atau persoalan itu terlalu berat, terlalu sulit untuk dihadapi. Kita berpikir Allah meninggalkan kita dan membiarkan kita terkapar dan dikalahkan oleh masalah tersebut. Tetapi sesungguhnya yang terjadi adalah kita merasa masalah itu terlalu besar tidak sebanding dengan kemampuan kita, padahal kita belum mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan yang kita miliki atau walaupun setelah semua daya dan kekuatan telah dikerahkan kita belum menambah kekuatan kita dengan kekuatan dan pertolongan dari Allah.

Salah satu contoh yang sering kita dengar adalah seorang ayah yang bijaksana tidak akan memberikan beban 5Kg kepada anaknya yang masih kecil yang hanya mampu mengangkat beban 1Kg.

Saya berpikir sesuatu yang lain, seorang anak kelas 1SD ketika dia harus diuji, tidak akan mungkin diuji dengan soal-soal untuk kelas diatasnya, begitu juga sebaliknya seorang siswa kelas 3SMA tidak akan mungkin diuji dengan soal kelas 6SD. Apakah kebanggaannya, ketika siswa kelas 3SMA itu bisa menjawab ujian kelas 6SD ?. Ketika seorang karateka Ban Hitam diuji dengan karateka Ban Hijau, apakah kebanggannya ? Atau sebaliknya karateka Ban Hijau tidak mungkin diuji dengan karateka Ban Hitam. Kita tambahkan lagi, seorang petinju kelas Ringan tidak mungkin bertanding dengan petinju kelas berat atau apakah kebanggaannya petinju kelas berat jika mampu mengalahkan petinju kelas ringan?

Tentu hal-hal tersebut adalah suatu keanehan. Jadi percayalah semua ujian, pencobaan atau masalah yang kita hadapi sesungguhnya masih sesuatu yang bisa kita atasi apalagi kita yakin bahwa Allah ada di pihak kita. Dia senantiasa siap menolong dan memberikan jalan keluar, Jadi jangan pernah merasa terlalu sulit, terlalu lemah, terlalu pesimis. Percayalah bersama dengan Tuhan kita pasti sanggup, pasti bisa menjadi pemenang.

Jangan pernah putus asa, karena sesungguhnya semua pencobaan itu adalah pencobaan biasa, jangan berlebihan dengan mengatakan persoalan kita sudah melewati kemampuan kita, jangan menjadi cengeng, percayalah kepada Kristus. Nyawa saja Dia berikan apalagi yang lain. Selamat bertanding, selamat berjuang dan jadilah pemenang dan selamat menyambut persoalan yang lebih berat lagi sesuai dengan kadar iman dan kekuatan kita.

SHS
GBU

Jumat, 07 Agustus 2009

SEMANGAT, KEGALAUAN , BERSERAH & KUASA TUHAN (part 2-end)

Dengan kepala terunduk tapi hati terangkat kepada Tuhan mereka kembali menaikkan doa-doa permohonan tapi tidak seperti yang sudah-sudah, kali ini lebih hening karena seolah-seolah semua kata sudah diutarakan, tinggallah hati yang berbicara kepada Allah sumber pertolongan yang sejati.

Setelah hening sejenak mulailah mereka berdiskusi dan mereka sepakat bahwa keadaan ini harus segera di sikapi dengan perbuatan iman. Doa sudah dinaikkan, harapan sudah diutarakan, saatnya bertindak.

Semua panitia mempersiapkan diri untuk memulai acara, para undangan diminta untuk menuju lapangan tempat acara akan diadakan. Kursi-kursi yang sudah dibersihkan siap menunggu mereka untuk duduk dan mengikuti acara. Lampu listrik belum menyala, cahaya remang-remang masih mendominasi setiap sudut lapangan.

Keadaan masih belum berubah, tidak ada yang bisa diperbuat. Semua menunggu dengan harap-harap cemas, bagaimana kelanjutan acara ini ? ditundakah, dilanjutkankah atau dibatalkan.

Kemudian MC naik ke atas panggung, semua berdiam diri menanti apa yang terjadi. MC membuka kalimat dengan ucapan selamat datang dan kemudian mengajak semua yang hadir untuk berdoa. Sementara itu di bawah panggung, dibelakang panggung dan dimana saja panitia ada mereka semua menundukkan kepala memohon Tuhan menyatakan kuasanya.

“Dalam nama Yesus kami berdoa, Ammmminnnnn” MC mengakhiri doanya dan lampu menyala, kegelapan hilang ditelan oleh terang benderang, ya seolah tak percaya, sebagian masih terpesona kagum yang lain menggumam kagum. Saya sulit untuk menggambarkan suasana hati masing-masing yang hadir, tapi itulah yang terjadi.

Lampu listrik menyala tepat kata ‘amin’ diucapkan, tepat ketika doa selesai dipanjatkan. Air mata bahagia, beban dan kesesakan terangkat diganti dengan suka cita dan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Allah tak pernah terlambat dalam menolong tapi Dia juga tak pernah tergesa-gesa, segala sesuatu indah pada waktunya.

Dengan penuh suka cita seluruh rangkaian cara dilanjutkan, berlangsung dengan baik hingga acara selesai. Tamu undangan satu-persatu meninggalkan lokasi dengan kesan masing-masing, ada yang bersyukur tapi mungkin ada juga yang menganggap itu adalah sebuah kebetulan. Panitia kembali bekerja untuk membereskan seluruh perlengkapan dan membersihkan lapangan upacara seperti diawal acara didalam kegelapan tetapi saat itu hati mereka sangat bersuka cita dan penuh ucapan syukur dalam terangnya lampu listrik.

Satu persatu dan ada yang bersama-sama meninggalkan lokasi, membawa kesan yang mendalam akan pertolongan Tuhan. Tuhan Yesus hidup dan berkuasa dan biarlah itu selalu mengingatkan kita. Saya yakin pertolongan di malam itu hanya salah satu dari sekian banyak pertolongan yang Tuhan lakukan di kehidupan kita masing-masing untuk menyatakan kesetiaanNya.

Maz 103 : 2 “Pujilah Tuhan, hai jiwaku dan janganlah lupakan segala kebaikkanNya!”



Nb.: nama masing-masing pelaku peristiwa sengaja tidak dicantumkan untuk mengajak mereka mengenang peristiwa itu berdasarkan kesan masing-masing. Kiranya ksih setia Tuhan terus menandai hari-hari kita dan mendorong kita terus memberikan hidup bagi Kristus yang sudah memilih dan menebus kita.

ditulis utk Nelson PL dan kawan-kawan PD Yeremia Cipete

Segala kemuliaan bagi DIA
SHS

Rabu, 05 Agustus 2009

SEMANGAT, KEGALAUAN , BERSERAH & KUASA TUHAN (part 1)


GILA, NEKAD, EDAN dan mungkin masih ada banyak kata lain yang bisa dialamatkan kepada sekelompok kaum muda yang berani membuat sebuah acara resmi di sebuah lapangan terbuka pada saat musim hujan di malam hari.

Pada saat itu musim hujan dan musim kemarau masih teratur datangnya tidak seperti saat ini dimana sampai bulan Oktober tanda-tanda musim hujan belum juga kelihatan dan sudah memasuki bulan Maret tanda musim kemarau belum juga kelihatan.

Bagaimana tidak nekad dan edan, tanpa banyak perdebatan dan pertimbangan akan musim penghujan mereka sepakat mengadakan sebuah acara resmi ‘Ulang Tahun Persekutuan’ dengan sebuah acara tunggal yaitu pemutaran film rohani tentang akhir zaman di lapangan terbuka tanpa membuat tenda, jangankan mengantisipasi hujan, memikirkan turunnya hujanpun mungkin tidak. Hanya doa dan doa yang mereka kerjakan, entah itu pertemuan doa setiap selasa malam atau doa semalam suntuk (supaya enak di dengar sekarang tidak pakai kata ‘suntuk’ lagi, beberapa gereja menyebutnya doa semalaman ceria)

Pertunjukkan film di lapangan terbuka di wilayah itu biasanya hanya diadakan bila ada pesta pernikahan saudara-saudara kita dari suku Betawi sebagai sebuah acara hiburan bagi masyarakat yang saat itu memang haus hiburan, pemutaran film dimulai sekitar pukul 21.00 sampai jam 04.00 pagi esok harinya. Maklum kala itu masih hanya ada 1 stasiun TV yakni TVRI itupun mengudara pada jam yang terbatas.

Bila yang mengadakannya orang ‘berada’ maka pemutaran film itu menggunakan 2 buah proyektor sehingga tidak ada jeda yang lama ketika pergantian rol film dan film yang diputar juga masih relative baru. Sedangkan kalau yang menyelenggarakannya orang ‘biasa’ maka pemutaran film hanya menggunakan 1 buah proyektor, ini mengakibatkan waktu yang cukup lama untuk pergantian rol film dan film yang diputar kadang sudah biasa dipertunjukkan atau film lama, lengkap dengan keramaian pedagang dan aneka permainan keberuntungan.

‘Layar Tancep’ begitu orang menyebutnya, karena memang layar lebarnya hanya ditancapkan ke dalam tanah dan diikat kokoh supaya tidak roboh tertiup angin. Pernah suatu kali saya mengalami kejadian menarik ketika menyaksikan film ‘Aladin’ yang dibintangi oleh Rano Karno. Ketika itu sang tokoh cerita berteriak ‘Dewa angin…. Dewa angin… Hai Dewa angin datanglah’ dan terjadilah angin keras benar-benar datang dan merubuhkan layar besar yang tertancap di tanah dan sebagian penonton lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Istilah lainnya ‘Misbar’ atau gerimis bubar, sehingga pertunjukkan akan berhenti atau bubar bila gerimis dan hujan turun mengguyur lapangan.

Nah, acara seperti itulah yang akan digelar dalam rangka Ulang Tahun persekutuan kaum muda tersebut, hanya saja film yang diputar adalah 1 film rohani dan tidak sampai pagi hari. Setelah pertemuan demi pertemuan, maka disepakatilah acara akan diadakan di lapangan upacara SMP 68 Cipete Cilandak Jakarta Selatan. Karena ketua persekutuan punya hubungan yang baik dengan pihak sekolah (beliau mengajar pendidikan agama Kristen di sekolah tersebut) maka ijin peminjaman tempat diperoleh.

Seluruh panitia bekerja sama bahu-membahu untuk mensukseskan acara tersebut, pihak film dihubungi, tiket atau undangan disiapkan dan diedarkan kepada kerabat, keluarga dan undangan lainnya. Latihan demi latihan baik itu Vocal Group, MC/SL berserta pemain musik terus berlatih dengan semangat, tak sabar rasanya menantikan hari penyelenggaraan Ulang Tahun PD Yeremia.

Setelah melakukan banyak aktifitas untuk mempersiap acara, akhirnya tibalah hari yang ditunggu-tunggu mereka. Hari Minggu siang, setelah beribadah di gereja masing-masing mereka berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Membuat panggung dari kumpulan meja belajar, mengambil karpet besar dari rumah ketua untuk mengalasi panggung supaya rapi dan elegan. Sementara yang lainnya mengangkat kursi belajar dari kelas-kelas disekitar lapangan upacara untuk undangan supaya nyaman menyaksikan film rohani.

Di bagian dalam setelah gerbang sekolah tampak rekan-rekan putri sedang mempersiapkan meja untuk penerima tamu dan pernak-perniknya. Sebagian lagi membesihkan lapangan yang akan digunakan untuk acara nanti malam.

Matahari menampakkan wajahnya dengan dihiasi beberapa awan putih beriringan yang menandakan cerahnya cuaca saat itu menambah semangat kerja anak-anak muda tersebut. Ketika waktu sudah mendekati jam 5 sore maka satu persatu dari mereka meninggalkan lokasi, pulang untuk membersihkan diri, berdandan secantik dan seganteng mungkin untuk merayakan hari suka cita dan ucapan syukur atas kemurahan Tuhan bagi PD Yeremia.

HUJAN DERAS TURUN

Ketika sudah mulai dekat ke rumah, saya melihat ke langit dan tampaklah pemandangan yang membuat hati kuatir dan gentar karena cerahnya cuaca di siang hari sudah mulai berganti dengan tanda-tanda mendung dan gelapnya langit. Matahari yang menampakkan diri dengan bersahabat pada siang hari sudah pergi entah kemana, yang tampak hanya gumpalan awan gelap dan pekat. Tanda hujan akan turun. Saya terus berjalan dengan perasaan campur baur antara berdoa minta kepada Tuhan agar hujan tidak turun dan kekuatiran akan turunnya hujan.

Saya tidak mau membayangkan akan kelangsungan acara yang diadakan di tempat terbuka terganggu dengan turunnya hujan. Bahkan ketika mandi dan makan hati saya terus dilanda kekuatiran sekalipun pada saat yang sama doa tak henti-hentinya dinaikkan. Segera setelah itu saya kembali menuju SPM 68, tempat acara diadakan. Sesampainya disana saya mendapati rekan-rekan sudah berdandan rapi akan tetapi tampak rona kecemasan di wajah mereka seiring dengan mendungnya langit disertai beberapa kilat yang terdengar bersahut-sahutan. Lampu mulai menerangi tempat di mana kami berkumpul dan beberapa rekan terlihat duduk sendiri-sendiri dan ada yang bergerombol di dalam doa memohon kemurahan Tuhan agar hujan tidak turun.

Benar saja………. tak lama berselang, sesuatu yang dikuatirkanpun terjadilah, hujan turun dengan deras mengguyur SMP 68, membasahi panggung, membasahi karpet, membasahi kursi-kursi yang tertata rapi, membasahi lapangan upacara. Undangan satu persatu mulai berdatangan dibawah guyuran hujan, dan berkumpul di bagian teras depan sekolah (sebuah area yang cukup untuk berteduh). Sebagian panitia menyambut mereka dan sebagian yang lain berkumpul disebuah kelas untuk berdoa dengan hati menangis memohon kemurahan Tuhan agar hujan berhenti.

DOA dan AIR MATA

Dengan diselingi lagu pujian yang mengandung pernyataan iman akan kemaha kuasaan Tuhan kami berdoa tak putus-putusnya dengan hati hancur agar Allah turun tangan menolong kami. ‘Bukankah Engkau yang berkuasa Tuhan? Bukankah Engkau yang membuat dan mengatur cuaca, hentikanlah hujan ini kami mohon, jangan permalukan kami Tuhan dan kalau ada dosa yang kami buat entah itu pribadi ataupun dosa persekutuan ampunilah kami’.

Demikianlah kira-kira doa yang dinaikkan dengan hati hancur, setelah selesai berdoa tak serta merta hujan berhenti dan kami hanya bisa melanjutkan berdoa dalam hati masing-masing sambil memandang tak berdaya ke arah lapangan yang terus diguyur hujan. Semakin banyak undangan yang sudah hadir akan tetapi keadaan tidak juga kunjung membaik.

Setelah beberapa waktu hati ini dipenuhi dengan kegalauan akhirnya Tuhanpun menjawab doa kami dengan menghentikan hujan. Serasa beban berat yang menindih pundak dan sesaknya napas ini hilang seketika diganti dengan suka cita. Segera kami mengambil inisiatif untuk membersihkan dan mengeringkan lapangan dengan alat seadanya, membersihkan, melap kursi dan panggung tanpa memperdulikan penampilan dan pakaian keren yang kami kenakan. Yang penting acara dapat berjalan mengingat waktu terus bertambah malam dan undangan sudah hadir menunggu acara dimulai.

Akhirnya kami selesai merapikan tempat acara, sekalipun berkeringat dan lelah tapi kami puas karena Tuhan menjawab doa kami, hujan berhenti dan sesaat lagi acarapun kan dimulai. Tetapi rupanya pergulatan batin dan doa belum selesai sampai disitu, Tuhan mengajar lagi bagaimana untuk berserah dan mengandalkan Dia dengan sepenuhnya.

PERGUMULAN BELUM SELESAI (gelap gulita,listrik mati)

Ya, mungkin pantaslah kalau kemudian sebagian orang menujukan kalimat ‘EDAN, GILA, NEKAD’ kepada kami. Setelah hujan berhenti terjadilah peristiwa kedua yang tak kalah menyesakkan dada ini. LISTRIK MATI.

Gelap gulita memenuhi teras depan, remang-remang di lapangan terbuka, sound system terdiam sejuta bahasa, proyektor film berdiri tak berdaya bagaikan sebuah tiang kayu, panitia hening pasrah tak berdaya, itulah suasana yang ada kala listrik mati.

Kembali anak-anak muda itu berkumpul untuk berdoa dengan menangis dan hati yang hancur memohon belas kasihan Tuhan. Setelah itu mereka berdiskusi dan akhirnya tak dapat ditawar lagi. (Bersambung.............)


Segala kemuliaan bagi DIA
SHS
nb. : ditulis utk Nelson PL dan kawan-kawan PD Yeremia Cipete

Rabu, 29 Juli 2009

PD Yeremia (temu kangen)


Sabtu 25 Juli 2009

Hari ini sepulang dari bekerja di pabrik saya akan langsung ke CITOS untuk bertemu dengan saudara-saudara seiman, rekan-rekan persekutuan doa Yeremia Cipete Cilandak. Kurang lebih sejak tahun 1993 saya tak pernah lagi bertemu dengan mereka. PD Yeremia tidak akan pernah terlupakan, karena lewat wadah persekutuan itulah saya mengenal dan menerima Kristus pada saat saya duduk di bangku SMA kelas 2.

Untuk menulis semua kenangan selama berkumpul, bersekutu, melayani di persekutuan ini akan dibutuhkan banyak halaman, belum lagi pengalaman dan persahabatan dengan masing-masing saudara yang ada di dalamnya. Karena ke-egoisan dan kecerobohan saya sendirilah yang menyebabkan persahabatan dan keindahan tersebut menjadi redup.

Tahun-tahun berlalu tetapi PD Yeremia dan orang-orang didalamnya tetap mendapat tempat istimewa bagi saya, hingga kemudian teknologi infomasi yang bernama Facebook di Internet, komunikasi yang lama sudah tak ada mulai bisa terjalin sedikit demi sedikit hingga akhirnya dari sekedar tegur sapa yang agak canggung karena lama saya tak bertemu mereka terlebih sejak berdomisi di Serang Banten sampai muncul ajakan untuk bertemu kembali dengan tema ‘temu kangen Yeremia 2009’.

Dengan antusias dari beberapa rekan untuk hadir dan penyesalan tidak bisa ikutan dari beberapa yang lain ditentukanlah hari Sabtu jam 15.00 (3 sore) untuk kumpul di Citos tangal 25 Juli 2009, rencana semula jam 18.00 berubah karena usul seorang rekan, walaupun rekan yang mengusulkan tidak bisa hadir tapi ‘thanks’ atas usulnya sehingga waktu berkumpul menjadi lebih panjang.

Teringat pengalaman pertama kali datang ke PD Yeremia di tempat mba Yuni, kala itu perasaan segan dan malu untuk hadir karena tidak mengenal siapapun kecuali ‘abang (alm) yang mengajak, ditambah belum mandi dan bau keringat sehabis nonton basket di GOR Cilandak saya memberanikan diri untuk datang. Selanjutnya, minggu demi minggu saya terlibat di dalamnya. Untuk pertemuan kali inipun seolah-olah perasaan yang sama, grogi,malu dan canggung kembali menyelimuti hati ini. Sebelum pertemuan tersebut, saya pernah mengirim pesan kepada Ferry untuk menyapa dan meminta maaf dan puji Tuhan dia masih baik dan tidak mempermasalahkan kejadian beberapa waktu lalu.

Untuk menjaga kondisi supaya segar, saya tidak keluar rumah hari Jumat malam dan tidak tidur terlalu larut, maklum hari Sabtu saya tetap kerja setengah hari dan pasti akan pulang dari acara tersebut kembali ke Serang sampai larut malam. Saya beritahu istri saya akan rencana hari Sabtu, dia tidak keberatan dan mendukung untuk saya menghadirinya dan saya katakan kepadanya mampir sebentar di rumah Raphael untuk mandi sebelu ke Serang.

Jam 11.30 saya berusaha menghubungi Jimmy tak kunjung berhasil, rupanya no HP nya kurang satu angka. Begitu tersambung ‘Halo…. Ini Jimmy ya… saya kak Sampe kamu sekarang ada dimana….?’ Agak keras suara saya karena suara berisik disekitarnya,rupanya dia sedang ada di jalan, diapun menyahut ‘Halo.. kak Sampe saya ada di Cibubur mau ke Cianjur naik motor’ sayapun menjawab ‘Udah batalin aja hari ini PD Yeremia mau ketemuan di Citos jam 3 sore bisa datang ga kamu..?’ ‘Oh… ya saya pasti datang tapi ke Cianjur dulu ga bisa dibatalin nanti langsung saya ke Citos pasti kak, … saya terlalu cinta sama Yeremia’.

‘Gila juga mau ke Cianjur terus balik lagi ke Citos pakai motor…’ hebat.. begitu saya berpikir, emang masih nekad nih anak Alor yang satu ini.

Jam setengah satu saya langsung meluncur ke Citos lewat jalan Tol Jkt-Merak yang sedang perbaikan di sana-sini, memang luar bisa jalan tol ini, sudah paling parah tarifnya mahal banget lagi dan rencananya September 2009 mau dinaikkin lagi tarifnya. Sekitar jam 13.45 mulai keluar tol dan masuk jalan Serpong… wuih macet bo… apalagi petir mulai bersahut-sahutan dan awan gelap tanda hujan lebat mulai kelihatan.

Benar saja lewat Gading Serpong hujan lebat mulai turun sehingga lalu lintas yang memang sedang padat bertambah macet karena banyak kendaraan berjalan lambat sambil menghindari genangan air yang tinggi di lajur kiri jalan, dan hujan ini terus turun bahkan sampai saya tiba di Citos hujan tak juga reda.

Dengan ekstra hati-hati saya terus melaju sambil sekali-kali melirik jam untuk memastikan saya tidak terlambat nantinya, karena sudah janji dengan seseorang untuk ambil sabun detergent untuk laundry di Puspitaloka Serpong jam 2 maka saya sempatkan untuk mencari alamat tersebut, setelah sedikit berputar mencari akhirnya alamat yang dicari ketemu juga, disebuah garasi mobil untuk aktifitas 3 perusahaan saya ambil 1 karung detergent.

Lepas dari Puspitaloka saya langsung masuk tol serpong, hujan terus turun dengan lebat, di pintu tol saya bertanya untuk memastikan saya keluar di pintu mana supaya tidak masuk JORR ke petugas tol, rupanya petunjuk yang diberikan tidak tepat jadilah saya berputar-putar dalam hujan yang lebat terjebak kemacetan Tanah Kusir dan Arteri Pondok Indah.

Saya mengucap syukur memasuki Pondok Indah jalanan benar-benar lancar. Saya hubungi Lucy memberitahu posisi ‘Kami udah nyampe nihh… ‘ jawabnya dan saya juga hubungi Jimmy untuk mengetahui posisinya dan memastikan kehadirannya.

Masuk Citos, ramai sekali hari itu sehingga untuk mencari parkir mutar-mutar dibawah ga dapat juga, maksudnya supaya tidak kena hujan tapi apa daya setelah mutar-mutar akhirnya dapatnya di luar juga gedung juga, mau ga mau harus keluarin paying.

Ke toilet sebentar sambil ngamatin beberapa oang jangan-jangan ketemu teman Yeremia yang udah berubah penampilannya, ada seseorang yang mirip Mercy… Mercy bukan ya, ah gak lah beda.. malu kalo salah.

Walupun punya KTP Cipete Cilandak seumur-umur baru 2 kali ini saya masuk Citos, maklum dulu belum ada Citos, jalan tol didepannya aja tempat main bola waktu SMA. Jadi saya jalan terus….. akhirnya dari kejauhan kelihatanlah Lucy Bungawan melambaikan tangan.

Di situ sudah hadir Lucy, Diana, Kak Yulia, Andre, Mercy, Surya. Lucy tidak banyak berubah tetap ramai dengan ocehannya tapi semakin dewasa, Mercy…. ya ampun pipinya tembem amat tapi masih bisa langsung dikenalin, Surya tetap dengan penampilan yang sama (langsung inget sama motor vespanya waktu ke Puncak). Diana Siregar juga langsung bisa dikenali, Kak Yuli datang jauh-jauh dari Bekasi demi ketemuan dengan semangat yang tetap muda sekalipun harus datang dengan ‘supir yang berganti-ganti’, Pdt Andre (ya udah jadi pendeta di GKRI) luar biasa kawan ini rupanya kerinduan lama terwujud juga cuma agak jarang ketemu pendeta yang plontos abis, pdt yang lain biasanya masih disisaiin dikit.

Sebelum berangkat dari pabrik saya menyempatkan diri untuk check tensi supaya bisa jaga-jaga sama makanan (maklum punya riwayat hypertensi), jadi untuk amannya pesen teh hangat aja kalau makan kebetulan sebelum pulang mampir di kantin pabrik.

Perasaan canggung lagsung pergi entah kemana, karena kawan-kawan langsung ngobrol akrab dan kadang-kadang tertawa lebar, walaupun sudah pada tambah usia dan lama tidak ketemu tapi sifat jenaka masing-masing masih sama tapi tentu sekarang lebih berbobot (bukan bobot badannya aja yang bertambah) dan dewasa….

Saya menguhubungi Jimmy, udah di Cibubur katanya, Ferry lagi menuju Citos, Yudi, Atta, Yana belum juga datang tapi pasti datang. Muncul kemudian Ellen, walaupun tidak dalam waktu yang sama di Yeremia tapi saya tahu ibu ini, yang dijuluki oma Ellen oleh Lucy dan Diana, bahkan menurut Diana wajah Ellen mendahului umurnya.

Perbincangan ringan dan segar terus mengalir menanyakan kabar dan kegiatan masing-masing. Setelah itu muncullah Yonan, ha…ha… tambah item aja kawan yang satu ini dan rambut depannya udah mulai menghilang, pikirannya dagang melulu, waktu pertama kali saya memberitahukan tentang istri saya spontan dia ngmong ‘Enak dong elu punya ruko’ selama di Citos dia terus memantau pergerakan bisnis mobilnya dan ada yang deal katanya.

Setelah itu berturut-turut Ferry ‘Van Basten’ Simanjuntak disusul Bambang bersama Ronald (berjalan beriringan seperti David and Goliath) tapi waktu duduk sama tinggi Cuma berdiri tidak sama tinggi. Di susul lagi Yana,suami dan anaknya kemudian pasangan Yeremia Yudi dan Atta.

Ferry masih klimis dan necis seperti dulu hanya sedikit agak buncit perutnya tapi perhatiannya ke kawan-kawan Yeremia tetap besar dan tetap menjomblo. (Maju terus kawan, dari anda banyak hal yang saya pelajari dan contoh)

Setelah ngobrol dari sabang sampai merauke Mercy dan kak Yulia pamit duluan maklum Mercy ada tugas gereja sedangkan kak Yulia harus pulang ke Bekasi. Wah sayang Mercy ga sempat ketemu Jimmy Timung. Percakapan masih berlanjut dengan seru dan biasa…. Sesi foto ga abis-abisnya bahkan membajak pelayan resto utnuk bantu jadi juru foto (pantesan aja pesenannya lama lha pelayanannya disuruh foto melulu).

Berikutnya Yana pamit dan rupanya dia balik lagi bersamaan dengan datangnya mba Yuni (dari Bandung dan ketemu Yana di loby Citos). Mba Yuni cerita kalau awal Agustus akan mission trip ke Sumba Timur, Ferry mau ke Ambarawa dan Andre ke Merauke. Waktu dicocokan akhirnya rencana berikut disepakai bikin PD tanggal 22 Agustus 2009 tempat menyusul. Hampir jam 9 malam saya pamit pulang bersama Yonan dan Bambang.

Dalam perjalanan kami bicara panjang lebar bernostalgia dan menceritakan pengalaman saya secara pribadi, tapi waktu terasa sangat singkat karena tak lama kemudian Yonan turun di daerah Pondok Cabe disusul kemudian oleh Bambang. Senang ketemuan dengan kalian mudah-mudahan komunikasi tidak hanya di malam itu tapi bisa terus, terlebih terus saling mendoakan.

Ah… seandainya yang hadir bisa lebih banyak, teringat saya kepada Nelson, Arman (kel. Lenggu) Aik, Roy, Duma, Minda (kel Aritonang), kel Rugebregth, Ezra, Esther, kel. Hutabarat, kalau ditulis semua jadi daftar absensi.

Pukul setengah 11 saya tiba di Pamulang Villa untuk mandi dan menjenguk Raphael (ponakan kecil usia 2 minggu) bapak ibunya mulai agak repot karena sering bangun dan menangis… (biasalah anak kecil semua orang tua juga mengalaminya).

Setengah jam disana dan setelah makan ala kadarnya saya segera menuju Serang lagi sekitar jam 12 lewat 15 tiba dengan sehat dan selamat, ngobrol sebentar dengan nyonya dan kemudian tidur. Terima kasih Tuhan untuk pertemuan yang Engkau berkati terlebih melihat saudara-saudara dalam Tuhan di awal hidup baru saya tetap bersemangat melayaniMu.

Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali mengingat PD Yeremia

SHS

Minggu, 05 Juli 2009

Selamat Datang Raphael




Minggu 05 Juli 2009 jam 06:02. Rasa kantuk masih kuat saya rasakan ketika suara HP yang diletakkan di ruang tengah berbunyi, percakapan penutup pertemuan team pelayan perjamuan kudus tadi malam cukup hangat dan kalau ingin diikuti terus mungkin akan selesai lebih larut lagi, maklum 3 hari lagi pilpres akan dilaksanakan. Kawan-kawan terpecah pendapat dalam hal menentukan pilihan.

Kembali suara HP berbunyi, dan seolah-olah berbunyi bertambah nyaring dari biasanya, segera saya mengambil sarung dan berbegas menjawab panggilan tersebut. Nomor yang kurang familiar tapi segera saya mendengar suara lae Silitonga disebrang sana. ‘Lae, kami sudah ada di RS, Ros sudah bukaan dua. Tolong bantu doa ya lae’ ‘Ok sabarlah, ito mana ?’ begitu sahut saya.

Segera lae memberikan HPnya kepada ito, dan terdengarlah suaranya ‘Aduh ito… sakit… sakit banget’. ‘Sabar ya to, ini saat yang kita harapkan dan nantikan, harapkan kehadirannya dengan suka cita, dan semua orang yang akan melahirkan mengalami hal yang sama nanti kami akan ke sana setelah ibadah‘ begitu sahutku berulang-ulang. Karena saya tidak tahu mau bicara palagi lagi maka HP saya berikan kepada istri untuk dia melanjutkan percakapan dengan eda nya. Sementara saya mempersiapkan diri hendak mandi terdengar dia berbicara dengan eda nya mengatakan beberapa hal agar eda nya sabar, minum teh manis hangat supaya ada kekuatan.

Sambil mandi saya bersyukur kepada Tuhan karena sebentar lagi adik saya akan melahirkan. Teringat percakapan terkahir dia sudah tidak sabar dan cape nunggu kelahiran bayinya. “Ngomong aja kepada anakmu, bere/keponakan itu supaya cepat keluar dan jangan lama-lama di dalam kandungan, diluar lebih enak dan ada mama, papanya juga tulang/nantulangnya yang pengen ketemu’ begitu kata saya.

Menurut rencana kalau belum ada kemajuan atau tanda-tanda melahirkan, dokter sudah membuat perencanaan hari Rabu 8 Juli 2009 pagi pada hari pilpres, dia akan di induksi atau dirangsang untuk melahirkan, tetapi mudah-mudahan sebelum hari Rabu dia sudah melahirkan.

Segera setelah itu saya menghubungi adik saya Papi Festus di Medan untuk memberi kabar mengenai hal itu dan menganjurkan dia untuk menhubungi itonya. ‘Oke bang, saya akan hubungi’ sahutnya. ‘Kita akan ke Pamulang nanti siang selepas ibadah ke 2’ kata saya kepada nyonya. Sebelum berangkat ke gereja saya sempatkan menghubungi kakak Ma Helga untuk konfirmasi alamat Rumah Sakitnya. Sebelum ibadah saya masih sempat bertanya lewat sms mengenai perkembangan dan dijawab belum oleh lae.

Setelah ibadah kami tak berlama-lama di gereja segera pulang kerumah, makan dan berkemas-kemas. HP kembali berbunyi ‘Ya lae gimana ?’ Rupanya abang Pa Helga yang menghubungi ‘Ito kita sudah melahirkan tadi jam 11.40 sehat dan normal, ajaib semua berjalan lancar karena kemurahan Tuhan, bayinya 3 kg sehat. Puji Tuhan, Puji Tuhan’. ‘Baik bang kami baru saja berkemas-kemas baru pulang dari gereja sekarang makan dulu, kami segera kesana’. ‘Kamu hubungi Pak Festus ya!’ demikian dia menutup pembicaraan ‘Oke….sampai ketemu nanti’. Hubungan terputus dan saya menyampaikan berita gembira itu kepada nyonya ‘ Ito Ros sudah melahirkan jam 11.40 semua sehat dan lancar’ saya segera menghubungi berulang-ulang Pak Festus tapi HP nya tidak aktif akhirnya berita saya sampaikan via SMS dengan harapan segera terkirim begitu HPnya aktif.

Setelah makan, kamipun segera meluncur membelah kota Serang dan masuk pintu tol Serang Timur, ketika keluar di pinto tol kebun nanas Hp berbunyi lagi dan lae Silitonga memberitahukan kabar itu ‘Lae… Ros sudah melahirkan !’ ‘Ya selamat ya lae kami baru di dekat Serpong sebentar lagi nyampe, mana ito ?’ terdengar oleh saya suara adik perempuanku sudah tertawa-tawa senang ‘Wah sekarang udah bisa ketawa ya, kamu mau apa ?’ HP saya berikan kepada nyonya dan mereka bercakap-cakap. ‘Eda mau minta dibeliin martabak keju, dimana ya ada jualan martakan siang-siang begini?’. ‘Tenang di daerah sini beda dengan di Serang, di dekat sini pasti ada yang jualan martabak’. Benar dugaan saya tak jauh dari situ kami mendapati penjual martabak manis. Kemudian kami masuk ke Hypermart untuk mencari ember untuk mandiin bayi dan handuk.

Wah… lumayan juga harganya, tapi demi mengabulkan permintaan ito kalau embernya biar tulang-nya yang beliin maka langsung dibelikan. Ditengah perjalanan di pamulang 2, saya bisa menghubungi Papi Fei dan mengabarkan berita suka cita tersebut, rupanya dia baru saja tiba di Polonia dari Penang Malaysia mengingat tugasnya sebagai teknisi Lion Air. Sekitar jam 16.15 tibalah kami di daerah Witana Harja, menunggu lae sebentar dan sekitar jam 16.30 kami sudah ada di kamar Lili 2 menjumpai ito Ros Mama Raphael dan melihat simungil Raphael yang baru lahir. Mengamati Raphael,mendengar tangisannya terungkap rasa kagum dan ucapan syukur kepada Allah, teringat oleh saya seandainya mama ada di sisi kami tentulah dia sangat senang dan bahagia karena pahompu dari boru hasiannya sudah lahir.

Abang Helga bergabung bersama kami setelah dia pulang dari gereja. Semenjak pagi sampai ito melahirkan dia berjaga bersama Lae Silitonga. Kamipun semua (Bapa Helga, Mama Helga, Helga, Niko, Tulang dan Nantulangnya dari Serang, Bapak Raphael, Mama Raphael) berdoa bersama untuk mengucap syukur kepada Allah dan menyerahkan Rphael dan keluarga Lae kepadaNya, sekalipun keluarga Festus tidak bisa hadir karena masih ada di Medan tapi kami percaya merekapun sehati dengan kami dalam doa.

Kemudian Tulang/Nantulang Rinci, Wilmar dan calon istrinya serta Dodi tiba di RS, setelah bercengkarama cukup lama mereka pulang, kemudian kamipun menyusul sekitar jam 21.30 menuju Serang dan tiba jam 23.30 ‘Selamat datang Raphael, selamat buat Inang Raphael Amang Raphael. Selamat jadi Tulang/Nantulang, Selamt jadi pariban dan lae. Kasih setia Tuhan menolongmu untuk terus bertumbuh dengan sehat, kepintaran, hikmat dan menjadi kesukaan keluargamu dan menjadi kesukaan Tuhan Yesus.. Amin.

Rabu, 01 Juli 2009

Saya tidak melayani Tuhan

1 Kor 15 : 58 ‘…. Jerih payah di dalam Tuhan tidak sia-sia ‘ ini adalah salah satu ayat yang banyak dihapal dan diklaim oleh kita yang menyebut pelayan Tuhan.

Banyak diantara kita yang giat bekerja dan mau berjerih lelah karena ada pemahaman yang mengatakan bahwa jerih payah kita didalam Tuhan tidak sia-sia, sehingga tidak heran ada banyak waktu, banyak tenaga dan banyak uang kita berikan untuk mendukung pekerjaan Tuhan dengan harapan kita diberkati dan memperoleh imbalan jasa dari Tuhan berupa berkat yang melimpah, entah itu bekat financial, berkat kesehatan, berkat keluarga bahkan berkat bangsa-bangsa.

Siapa yang tidak mau berkat, siapa ? apalagi berkat bangsa-bangsa. Berkat kecil-kecilan seperti ditraktir teman (kalau perlu menodong teman yang ulang tahun), dapat hadiah ulang tahun, dapat door prize, dapat persembahan kasih sampai berkat bangsa-bangsa.

Salahkah saya kalau dalam melayani Tuhan saya terobsesi dengan pikiran seperti itu ? apalagi banyak hamba Tuhan atau gereja yang khotbahnya selalu mendorong jemaat untuk setia agar diberkati, taat agar diberkati, memberi supaya diberi, beribadah supaya diberkati, berdoa supaya diberkati, baca Alkita supaya diberkati, melayani supaya diberkati. Kalau tidak kaya berarti tidak setia, kalau tidak sehat berarti tidak taat, kalau karir tidak tinggi berarti kurang dalam memberi dsb.

Sehingga tidak heran secara samar-samar (hanya dapat dilihat dengan jernih ketika kita merenung dan bersaat teduh) bukan kita tapi saya mendapati kalau kita eh bukan tapi saya bukan sedang melayani Tuhan tetapi sedang melayani diri sendiri. Saya kuatir kalau tidak lagi masuk dalam daftar pelayan minggu atau dalam bulan ini maka jangan-jangan berkat saya akan berkurang atau bahkan lenyap. Kalau saya tidak mendapati diri saya sedang melayani jangan-jangan pekerjaan saya akan menemui banyak hambatan dan kesulitan.

Jadi saya melayani bukan melayani Tuhan tetapi melayani diri sendiri. Karena saya tetap melayani supaya kondisi finansial saya tetap baik, kesehatan bagus, keluarga sejahtera kalau bisa berkat bangsa-bangsa mengalir ke pundi-pundi saya. Bisakah saya menyebut diri saya pelayan Tuhan? Sekalipun saya masih aktif dalam pelayanan ?. Tidak…. saya bukan melayani Tuhan tetapi melayani diri sendiri.

Dalam kegiatan retreat Sekolah Minggu ada orang tua yang bersedia membantu doa, terlebih dana bukan karena ingin memuliakan Tuhan tetapi karena anaknya ikut retreat tersebut. Mereka tidak rela anaknya ikut dalam bis yang jelek, tidak ada ac, duduk berdesak-desakan. Mereka memberi lebih banyak bantuan dana bukan untuk kemuliaan Tuhan tetapi karena tidak rela anaknya yang ikut retreat tersebut tidur di tempat yang buruk, makanan tidak enak karena buruknya fasilitas penginapan retreat.

Sesungguhnya mereka bukan melayani Tuhan tetapi sedang melayani diri sendiri dalam hal ini melayani anak mereka sendiri. Sehingga ketika anaknya beranjak remaja kegiatan Sekolah Minggu tidak lagi perlu dibantu dan diperhatikan tetapi kegiatan remajalah yang sangat penting dibantu, ketika anak mereka beranjak pemuda maka kegiatan pemudalah yang sangat penting untuk dibantu. Bukan semata-mata karena kegiatan itu penting tapi karena anak mereka ada disana.

Apakah saya masih bisa berkati ‘Saya melayani Tuhan? ‘ Tidak, saya sedang melayani diri sendiri. Jadi bagaimana seharusnya?. Tentu saya bukan anak kecil atau bayi rohani lagi bila dilihat dari segi waktu, sudah seharusnya dan sepantasnya kita dewasa dalam iman, sudah seharusnya kita menyadari bahwa hidup kita adalah untuk Kristus, sudah seharusnya hidup kita bukan lagi melayani diri sendiri tetapi melayani Kristus yang menebus kita, pemilik hidup kita.

Biarlah sisa waktu yang kita punya tidak kita buang dengan percuma dengan hanya berkutat untuk kepentingan diri sendiri. Pikirkan dan renungkan apa yang sudah Tuhan buat untuk kita sehingga kita merespon dengan memberi hidup untuk Tuhan, bukan kita melakukan sesuatu untuk Tuhan supaya Tuhan melakukan sesuatu buat kita.

Segala kemuliaan bagi Tuhan

SHS

Kamis, 07 Mei 2009

Pencuri kecil

Hari itu adalah hari naas yang saya alami, seperti biasanya saya pulang sekolah mendapati rumah dalam keadaan terkunci, bapak dan mama tidak ada dirumah untuk mencari nafkah begitu juga dengan kakak atau adik yang lain.

Tetapi situasi itu justru adalah situasi yang diharapkan oleh kami, bersama abang saya (alm) kami melakukan tindakan nekad untuk mendapatkan uang jajan yang akan digunakan untuk jajan dan mentraktir beberapa kawan di sekitar rumah dan setiap kali melakukan itu perasaan bangga karena banyak uang dan menjadi bos kecil bagi mereka.

Buat anak sekecil kami tindakan itu adalah tindakan yang sangat berbahaya, naik keatas atap rumah dan menggeser beberapa buah genteng untuk bisa masuk kerumah. Setelah masuk ke dalam rumah tujuan kami langsung ke kamar orang tua yang memang tidak menggunakan plafon atau langit-langit sehingga kami bisa langsung masuk ke dalam kamar bapak dan mama.

Rumah kami terletak paling pinggir bersebelahan dengan sawah yang terhampar luas sehingga tidak terlihat oleh tetangga yang lain, saat itu sekitar tahun 1970 kota Jakarta masih banyak didapati sawah produktif. Rumah kami terdiri dari satu ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 dapur bersebelahan dengan kamar mandi yang punya pintu tersendiri yang bisa digunakan tanpa harus melalui pintu utama dengan kamar mandi beratapkan langit.

Setalah berada di dalam kamar bapak dan mama langsung kami beraksi membuka pintu lemari, dan aha ini dia 'sebuah celengan' (tempat menyimpan uang tabungan) berbentuk ayam milik kakak perempuan (alm) langsung di pegang dan kemudian kemi bekerja ala mc giver memasukkan sebatang lidi kedalam celengan untuk mengeluarkan beberapa uang recehan yang ada didalamnya seperti yang sudah-sudah biasa kami lakukan.

Tetapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, tidak seperti kesuksesan yang kami raih tiba-tiba celengan yang ada dipegangan terjatuh dan jatuh berantakan. Panik, bingung dan ketakutan menyelimuti perasaan kami. Segera kami keluar rumah lewat genteng seperti kami masuk dan mencari celengan yang model dan warnanya sama. Tetapi setelah muter-muter warung di sekitar jl. anggur tidak satupun celengan yang mirip. Akhirnya didapati gantinya semirip mungkin, setelah masuk ke dalam rumah kembali dengan cara yang sama dan memasukkan semua sisa uang ke dalam celengan tersebut. Di luar rumah kami tetap gelisah karena sadar bahwa celengan itu tetap akan ketahuan kalau sudah berubah, jadilah kami lari dari rumah ke mana kami tahu hingga malam hari.

Tentu saja setelah sore orang tua kami kembali dan seluruh anggota keluarga yang lain berkumpul kami tak kunjung datang dan mereka menjadi panik dan mencari cari ke tetangga, dan cukup jauh dari rumah di daerah Bali Village, dua orang bocah sedang menangis ketakutan ditengah gelapnya malam dekat dengan empang (waktu itu Jakarta masih gelap gulita kalau malam hari). Ketika kami sedang menangis ada seorang bapak yang menemukan kami (ternyata dia adalah orang tua dari teman abang kami) dan mengantar kami pulang.

Tak terbayangkan senangnya hati kedua orang tua kami dan sangat berterima kasih kepada bapak tersebut dan selepas mengantarnya pamit seraya mengucapkan terima kasih tibalah waktunya kami di adili dan dihukum dengan dipukul berkali-kali oleh bapak. Sambil menangis menahan sakit kami berjanji tak mengulanginya lagi. Seiring waktu berjalan tidak secara langsung kebandelan kami berubah sama sekali, kadang-kadang masih juga melakukannya dalam bentuk yang lain.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian tersebut, termasuk bagaimana mendisiplin dan mendidik seorang anak. SHS