Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juli 2009

Selamat Datang Raphael




Minggu 05 Juli 2009 jam 06:02. Rasa kantuk masih kuat saya rasakan ketika suara HP yang diletakkan di ruang tengah berbunyi, percakapan penutup pertemuan team pelayan perjamuan kudus tadi malam cukup hangat dan kalau ingin diikuti terus mungkin akan selesai lebih larut lagi, maklum 3 hari lagi pilpres akan dilaksanakan. Kawan-kawan terpecah pendapat dalam hal menentukan pilihan.

Kembali suara HP berbunyi, dan seolah-olah berbunyi bertambah nyaring dari biasanya, segera saya mengambil sarung dan berbegas menjawab panggilan tersebut. Nomor yang kurang familiar tapi segera saya mendengar suara lae Silitonga disebrang sana. ‘Lae, kami sudah ada di RS, Ros sudah bukaan dua. Tolong bantu doa ya lae’ ‘Ok sabarlah, ito mana ?’ begitu sahut saya.

Segera lae memberikan HPnya kepada ito, dan terdengarlah suaranya ‘Aduh ito… sakit… sakit banget’. ‘Sabar ya to, ini saat yang kita harapkan dan nantikan, harapkan kehadirannya dengan suka cita, dan semua orang yang akan melahirkan mengalami hal yang sama nanti kami akan ke sana setelah ibadah‘ begitu sahutku berulang-ulang. Karena saya tidak tahu mau bicara palagi lagi maka HP saya berikan kepada istri untuk dia melanjutkan percakapan dengan eda nya. Sementara saya mempersiapkan diri hendak mandi terdengar dia berbicara dengan eda nya mengatakan beberapa hal agar eda nya sabar, minum teh manis hangat supaya ada kekuatan.

Sambil mandi saya bersyukur kepada Tuhan karena sebentar lagi adik saya akan melahirkan. Teringat percakapan terkahir dia sudah tidak sabar dan cape nunggu kelahiran bayinya. “Ngomong aja kepada anakmu, bere/keponakan itu supaya cepat keluar dan jangan lama-lama di dalam kandungan, diluar lebih enak dan ada mama, papanya juga tulang/nantulangnya yang pengen ketemu’ begitu kata saya.

Menurut rencana kalau belum ada kemajuan atau tanda-tanda melahirkan, dokter sudah membuat perencanaan hari Rabu 8 Juli 2009 pagi pada hari pilpres, dia akan di induksi atau dirangsang untuk melahirkan, tetapi mudah-mudahan sebelum hari Rabu dia sudah melahirkan.

Segera setelah itu saya menghubungi adik saya Papi Festus di Medan untuk memberi kabar mengenai hal itu dan menganjurkan dia untuk menhubungi itonya. ‘Oke bang, saya akan hubungi’ sahutnya. ‘Kita akan ke Pamulang nanti siang selepas ibadah ke 2’ kata saya kepada nyonya. Sebelum berangkat ke gereja saya sempatkan menghubungi kakak Ma Helga untuk konfirmasi alamat Rumah Sakitnya. Sebelum ibadah saya masih sempat bertanya lewat sms mengenai perkembangan dan dijawab belum oleh lae.

Setelah ibadah kami tak berlama-lama di gereja segera pulang kerumah, makan dan berkemas-kemas. HP kembali berbunyi ‘Ya lae gimana ?’ Rupanya abang Pa Helga yang menghubungi ‘Ito kita sudah melahirkan tadi jam 11.40 sehat dan normal, ajaib semua berjalan lancar karena kemurahan Tuhan, bayinya 3 kg sehat. Puji Tuhan, Puji Tuhan’. ‘Baik bang kami baru saja berkemas-kemas baru pulang dari gereja sekarang makan dulu, kami segera kesana’. ‘Kamu hubungi Pak Festus ya!’ demikian dia menutup pembicaraan ‘Oke….sampai ketemu nanti’. Hubungan terputus dan saya menyampaikan berita gembira itu kepada nyonya ‘ Ito Ros sudah melahirkan jam 11.40 semua sehat dan lancar’ saya segera menghubungi berulang-ulang Pak Festus tapi HP nya tidak aktif akhirnya berita saya sampaikan via SMS dengan harapan segera terkirim begitu HPnya aktif.

Setelah makan, kamipun segera meluncur membelah kota Serang dan masuk pintu tol Serang Timur, ketika keluar di pinto tol kebun nanas Hp berbunyi lagi dan lae Silitonga memberitahukan kabar itu ‘Lae… Ros sudah melahirkan !’ ‘Ya selamat ya lae kami baru di dekat Serpong sebentar lagi nyampe, mana ito ?’ terdengar oleh saya suara adik perempuanku sudah tertawa-tawa senang ‘Wah sekarang udah bisa ketawa ya, kamu mau apa ?’ HP saya berikan kepada nyonya dan mereka bercakap-cakap. ‘Eda mau minta dibeliin martabak keju, dimana ya ada jualan martakan siang-siang begini?’. ‘Tenang di daerah sini beda dengan di Serang, di dekat sini pasti ada yang jualan martabak’. Benar dugaan saya tak jauh dari situ kami mendapati penjual martabak manis. Kemudian kami masuk ke Hypermart untuk mencari ember untuk mandiin bayi dan handuk.

Wah… lumayan juga harganya, tapi demi mengabulkan permintaan ito kalau embernya biar tulang-nya yang beliin maka langsung dibelikan. Ditengah perjalanan di pamulang 2, saya bisa menghubungi Papi Fei dan mengabarkan berita suka cita tersebut, rupanya dia baru saja tiba di Polonia dari Penang Malaysia mengingat tugasnya sebagai teknisi Lion Air. Sekitar jam 16.15 tibalah kami di daerah Witana Harja, menunggu lae sebentar dan sekitar jam 16.30 kami sudah ada di kamar Lili 2 menjumpai ito Ros Mama Raphael dan melihat simungil Raphael yang baru lahir. Mengamati Raphael,mendengar tangisannya terungkap rasa kagum dan ucapan syukur kepada Allah, teringat oleh saya seandainya mama ada di sisi kami tentulah dia sangat senang dan bahagia karena pahompu dari boru hasiannya sudah lahir.

Abang Helga bergabung bersama kami setelah dia pulang dari gereja. Semenjak pagi sampai ito melahirkan dia berjaga bersama Lae Silitonga. Kamipun semua (Bapa Helga, Mama Helga, Helga, Niko, Tulang dan Nantulangnya dari Serang, Bapak Raphael, Mama Raphael) berdoa bersama untuk mengucap syukur kepada Allah dan menyerahkan Rphael dan keluarga Lae kepadaNya, sekalipun keluarga Festus tidak bisa hadir karena masih ada di Medan tapi kami percaya merekapun sehati dengan kami dalam doa.

Kemudian Tulang/Nantulang Rinci, Wilmar dan calon istrinya serta Dodi tiba di RS, setelah bercengkarama cukup lama mereka pulang, kemudian kamipun menyusul sekitar jam 21.30 menuju Serang dan tiba jam 23.30 ‘Selamat datang Raphael, selamat buat Inang Raphael Amang Raphael. Selamat jadi Tulang/Nantulang, Selamt jadi pariban dan lae. Kasih setia Tuhan menolongmu untuk terus bertumbuh dengan sehat, kepintaran, hikmat dan menjadi kesukaan keluargamu dan menjadi kesukaan Tuhan Yesus.. Amin.

Kamis, 07 Mei 2009

Pencuri kecil

Hari itu adalah hari naas yang saya alami, seperti biasanya saya pulang sekolah mendapati rumah dalam keadaan terkunci, bapak dan mama tidak ada dirumah untuk mencari nafkah begitu juga dengan kakak atau adik yang lain.

Tetapi situasi itu justru adalah situasi yang diharapkan oleh kami, bersama abang saya (alm) kami melakukan tindakan nekad untuk mendapatkan uang jajan yang akan digunakan untuk jajan dan mentraktir beberapa kawan di sekitar rumah dan setiap kali melakukan itu perasaan bangga karena banyak uang dan menjadi bos kecil bagi mereka.

Buat anak sekecil kami tindakan itu adalah tindakan yang sangat berbahaya, naik keatas atap rumah dan menggeser beberapa buah genteng untuk bisa masuk kerumah. Setelah masuk ke dalam rumah tujuan kami langsung ke kamar orang tua yang memang tidak menggunakan plafon atau langit-langit sehingga kami bisa langsung masuk ke dalam kamar bapak dan mama.

Rumah kami terletak paling pinggir bersebelahan dengan sawah yang terhampar luas sehingga tidak terlihat oleh tetangga yang lain, saat itu sekitar tahun 1970 kota Jakarta masih banyak didapati sawah produktif. Rumah kami terdiri dari satu ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 dapur bersebelahan dengan kamar mandi yang punya pintu tersendiri yang bisa digunakan tanpa harus melalui pintu utama dengan kamar mandi beratapkan langit.

Setalah berada di dalam kamar bapak dan mama langsung kami beraksi membuka pintu lemari, dan aha ini dia 'sebuah celengan' (tempat menyimpan uang tabungan) berbentuk ayam milik kakak perempuan (alm) langsung di pegang dan kemudian kemi bekerja ala mc giver memasukkan sebatang lidi kedalam celengan untuk mengeluarkan beberapa uang recehan yang ada didalamnya seperti yang sudah-sudah biasa kami lakukan.

Tetapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, tidak seperti kesuksesan yang kami raih tiba-tiba celengan yang ada dipegangan terjatuh dan jatuh berantakan. Panik, bingung dan ketakutan menyelimuti perasaan kami. Segera kami keluar rumah lewat genteng seperti kami masuk dan mencari celengan yang model dan warnanya sama. Tetapi setelah muter-muter warung di sekitar jl. anggur tidak satupun celengan yang mirip. Akhirnya didapati gantinya semirip mungkin, setelah masuk ke dalam rumah kembali dengan cara yang sama dan memasukkan semua sisa uang ke dalam celengan tersebut. Di luar rumah kami tetap gelisah karena sadar bahwa celengan itu tetap akan ketahuan kalau sudah berubah, jadilah kami lari dari rumah ke mana kami tahu hingga malam hari.

Tentu saja setelah sore orang tua kami kembali dan seluruh anggota keluarga yang lain berkumpul kami tak kunjung datang dan mereka menjadi panik dan mencari cari ke tetangga, dan cukup jauh dari rumah di daerah Bali Village, dua orang bocah sedang menangis ketakutan ditengah gelapnya malam dekat dengan empang (waktu itu Jakarta masih gelap gulita kalau malam hari). Ketika kami sedang menangis ada seorang bapak yang menemukan kami (ternyata dia adalah orang tua dari teman abang kami) dan mengantar kami pulang.

Tak terbayangkan senangnya hati kedua orang tua kami dan sangat berterima kasih kepada bapak tersebut dan selepas mengantarnya pamit seraya mengucapkan terima kasih tibalah waktunya kami di adili dan dihukum dengan dipukul berkali-kali oleh bapak. Sambil menangis menahan sakit kami berjanji tak mengulanginya lagi. Seiring waktu berjalan tidak secara langsung kebandelan kami berubah sama sekali, kadang-kadang masih juga melakukannya dalam bentuk yang lain.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian tersebut, termasuk bagaimana mendisiplin dan mendidik seorang anak. SHS

Selasa, 06 Januari 2009

Tahun Baru 2009


Tahun Baru di Serang Banten

Selama saya menikah belum pernah mengikuti acara tutup tahun dan buka tahun di Nikomas Gemilang tempat saya bekerja, pada hari itu 31 Desember 2008 beberapa teman meminta saya untuk ikut acara perayaan tahun baru di Nikomas apalagi tahun ini ada 4 buah motor sebagai hadiah door prize nya. Sebenarnya saya tidak berminat hadir karena tidak begitu antusias dengan hiburan dangdut yang disajikan apalagi hari kemarin abang Helga bilang mau dating ke Serang untuk tahun baruan, ini kali pertama rumah kami dijadikan tempat acara ibadah keluarga tahun baru.

Tetapi menjelang siang seorang rekan di SPN kasih tahu kalau dia buka stand di acara tersebut segera terlintas di benak saya untuk memanfaatkan acara tersebut untuk ajang promosi usaha saya yang sedang saya rencanakan. Langsung saya hubungi abang tentang kepastiannya, dan dia bilang pasti datang sekitar jam 22.00. Saya langsung berpikir bahwa masih bisa diatur agar tepat jam 22.00 saya kembali dari Nikomas untuk acara keluarga tersebut.

Kepada beberapa teman saya beritahu bahwa saya akan ke acara tahun baru di Nikomas dan mereka antusias untuk ikut dengan harapan mudah-mudahan dapat door prize motor. Saya hubungi Yoto untuk membantu bawa brosur. Sementara istri sudah sibuk sepanjang hari untuk membereskan rumah dan mempersiapkan makanan untuk acara bersama dengan kel. Abang Pa Helga. Pulang di rumah masih harus mengantar istri belanja beberapa keperluan… wuih rasanya cape benar.

Setelah semua rampung jam 19.00 saya berangkat dan terjebak macet di Pasar Lama Serang, kawan-kawan sudah menunggu (lama banget katanya). Tiba di Nikomas kurang lebih jam 20.00 dan banyak banget orang yang datang, mungkin karena cuaca cerah tapi yang pasti semua berharap dapat motor padahal motornya Cuma empat tapi yang hadir .. luar biasa banyaknya. Segera saya dan Yoto sibuk mondar-mandir berpromosi sementara rekan-rekan yang lain memilih untuk duduk dekat panggung menantikan hadiah motornya, tapi apa daya sampai pengumuman terakhir motor yang diidam-idamkan tak kunjung di dapat.

Kami bergegas pulang kira-kira jam 22.00, saya memacu kendaraan dengan agak cepat kuatir abang saya sudah tiba di rumah. Ternyata mereka terjebak macet di Serpong dan tiba di BSD Serang sekitar 10 menit setelah saya tiba. Terima kasih untuk kel. Abang yang mau berkunjung ke Serang merayakan tahun baru bersama dengan kami. Jam 23.30 kami mulai beribadah untuk bersyukur akan penyertaanNya di tahun 2008 dan berdoa untuk penyertaanNya di tahun 2009 dan sebagaima biasa tradisi orang batak, kami bergantian menyampaikan kesan dan pesan mulai dari yang mudal sampai yang tua, mulai dari Niko, Helga, Istri, saya dan terakhir Pa Helga. Ito dan Lae harus mengikuti acara di kel. Silitonga, kel Festus ada di Medan dan kakak mama Helga sedang ada di Tebing Tinggi mendampingi tulang yang baru keluar dari RS.

Besoknya mereka pulang kembali ke Pamulang dan kami beribadah tahun baru di GBI Eliezar dan ayat mas yang saya dapatkan adalah I Kor 6 : 20.
Selamat Tahun baru semuanya kiranya hidup kita lebih bermakna dan bernilai bagi Tuhan dan orang lain.

Jumat, 28 November 2008

Tidak dijemput!!


Saya tersenyum ketika mendengar Niko sedih bercampur kesal karena tidak dijemput dari sekolah sehingga terpaksa dia jalan kaki dari sekolah ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang saya sempatkan menghubungi Niko lewat telephone kakaknya Helga. ‘Halo Helga.. ada Niko ga?’ sahutku ‘Ada nih Bapa uda’ sambil menyerahkan telephone ke adiknya ‘Halo Ko.. katanya sedih waktu pulang kenapa..? ga dijemput ya’ Tanya saya ‘Halo… ga kok Cuma tadi ga dijemput papa’ sahutnya. Tetapi karena sinyal kurang bagus jawabannya terputus-putus dan tidak jelas dan saya putus komunikasinya, nanti dirumah dilanjutkan pikirku.

Sesampainya di rumah kembali saya menghubunginya, kami bercakap-cakap. Rupanya dia kesal karena sudah dijanjikan akan dijemput tapi ternyata tidak dijemput, dia sudah menunggu lama di sekolah sampai kawan-kawannya sudah pulang dan sekolah sudah sepi kok papa belum datang. Dalam percakapan itu saya tidak menyalahkan dia atau menegur dia dengan mengatakan ‘begitu aja kok nangis’ mungkin jika saya dalam posisi seperti dia dan seusia dia saya juga akan melakukan reaksi yang sama, kecuali kalau kita sudah dewasa dan masih berkelakuan seperti anak-anak baru itu tidak sehat dan tidak normal, masa orang dewasa tidak dikasih permen atau dibeliin balon masih ngambek dan menangis?. Kadang kita kurang adil dengan anak-anak. Kita merasa kesal dan marah ketika gara-gara sesuatu yang menurut kita sepele mereka menangis, merengek, ngambek dan berkelahi. Sesungguhnya kita pun akan melakukan hal yang sama seperti mereka ketika mainan kita diambil oleh kakak atau adik, tidak dibelikan balon dan lain-lain.

Saya pikir hal yang kita lakukan adalah memberikan pengertian bukan saja pada saat mereka merajuk akan tetapi lebih efektif pada saat mereka sedang senang dan tidak membuat masalah. Kita bisa mendiskusikan dan membicarakan hal-hal tertentu yang mereka bisa syukuri, terlalu sedikit saat ini orang tua yang menerapkan ajakan Firman Tuhan untuk mengajar anak-anak mereka ketika sedang berjalan, duduk, berbaring atau dalam kebersamaan. Orang tua hanya menyerahkan hal-hal seperti itu ke guru-guru di sekolah dan guru sekolah minggu mereka.

Sudah saatnya para orang tua memainkan peran yang lebih banyak untuk mengajar, membimbing, membina bahkan memberikan teladan tentang hidup yang bersyukur, bertanggung jawab dan khusunya pertumbuhan imannya kepada Allah. Akan tetapi bagaiman hal itu bisa dilakukan kalau orang tua saja tidak punya minat dan ketaatan dalam persekutuannya dengan Tuhan. Atau beranikah kita berdoa dan berharap agar anak-anak kita kelak mempunyai kualitas hidup seperti kita, mempunyai iman seperti kita atau barangkali berharap dan berdoa 'Janganlah seperti kami Tuhan karena kami tidak pantas untuk diteladani'. Ingatlah, contoh dan teladan yang terdekat yang bisa mereka lihat adalah orang mereka sendiri.

Saya senang karena setelah mendengar penjelasan dan alasan kenapa Niko tidak dijemput dia menjadi mengerti, memang kadang dibutuhkan kebijaksanaan untuk menepati janji, karena sering kali kita mengingkari janji yang satu untuk memenuhi janji yang lain. Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi seseorang yang bisa menepati janji. Istri saya selalu berujar ‘Seperti Kristus dengan FirmanNya demikianlah seorang pria dengan perkataannya’


SHS

Kamis, 06 November 2008

Pekerjaan baru


Sementara saya sedang menulis tentang lagu poco-poco dalam acara adat batak saya menerima sms dari anak saya (anak adik saya) Festus, bunyinya ‘Pa tua Sampe, papi fey udah msk ke ..... (salah satu maskapai perbangan) mulai tgl 1 November doakan semoga diberkati Tuhan’ langsung saya berucap ‘Terima kasih Tuhan dan berkati adik saya di pekerjaan barunya’. Tentu bukan sesuatu yang mudah bagi adik saya dalam mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari Merpati tempat dia bekerja hampir selama 10 tahun.

Waktu selesai dari SMT Penerbangan Jakarta di kawasan Blok M dia mengikuti recruitment pegawai yang diadakan oleh Merpati. Setelah beberapa test yang berhasil dilewati dengan baik yang memakan waktu cukup lama, pulanglah dia suatu hari mendapati mama sambil menangis sedih, ‘Ma.. mama ada uang ga?‘ Mama dengan segera menghampiri dia dan bertanya ‘Uang untuk apa ?’ ‘Menurut orang-orang dan kawan-kawan kalau kita ga ada uang saya ga akan diterima di Merpati!’ sahut adik saya dengan sedih, waktu itu saya ada disitu dan mendengar percakapan mereka. Mamapun berbicara lagi ‘Aduh dari mana uang kita… kita ga ada uang’. Maklum waktu itu kami tidak lagi mempunyai ayah karena beliau sudah meninggal ketika adik saya ini duduk dikelas 6 SD. Jadi mama sudah menjadi single parent sejak saya remaja dan tentu kebutuhan uang yang dia katakana bukan dalam jumlah yang kecil.

‘Mama ga ada uang amang…. ‘ demikian dia memanggil adik saya yang nama lengkapnya Mangihut Simanullang. Kami duduk bersama dengan sedih, pasrah dan cuma bisa berharap kepada kemurahan Tuhan. Selang beberapa hari pulanglah dia dengan berita gembira bahwa dia diterima di Merpati. Alangkah senangnya kami sekeluarga dan sangat bersyukur akan kemurahan Tuhan. Ketika kami tak berdaya dan nyaris hilang harapan karena tidak punya uang ternyata Tuhan menunjukkan kemurahannya, yang kata orang-orang kami harus menyediakan uang agar dia bisa diterima kenyataannya kami tak perlu mengeluarkan sepeserpun uang. Adikku ingatlah selalu akan pertolongan Tuhan padamu dan bersyukurlah.

Kemudian dia harus mengikuti pendidikan yang diadakan di Surabaya, dalam satu kesempatan yang baik saya mengunjungi dia di Surabaya. Saya tiba jam 4 pagi di Surabaya dan langsung menjumpai dia (ketika itu kantor tempat saya bekerja mempunyai cabang di Surabaya). Setelah beberapa bulan mengikuti pendidikan dia pulang dan dengan senangnya memperlihatkan photo-photo ketika dia ada di pelatihan yang semi militer, tampak di photo tersebut dia dan kawan-kawannya di sebuah rawa dan mama memandangi photo tersebut dengan perasaan haru dan bangga.

Dia bertugas di Halim pindah ke Palembang dan terakhir tugas di Medan. Kalau ada berita kecelakaan pesawat selalu saya memperhatikan kalau-kalau itu adalah Merpati dan kalau memang Merpati saya selalu menyembunyikannya dari mama dan memberitahukan kemudian setelah memastikan keadaan adik saya baik-baik saja. Dalam beberapa waktu lamanya terdengar kabar kalau Merpati mengalami masalah dan saya selalu berkata dan berdoa ‘Terbanglah Merpati dengan Jaya’ setiap kali melihat iklan Merpati di TV atau di surat kabar, ya karena di sana adik laki-laki saya bekerja. Sesekali saya mencari informasi lowongan pekerjaan untuk teknisi pesawat baik di luar negeri maupun dalam negeri.

Menjelang akhir tahun 2007 adik saya mengikuti pendidikan yang diadakan Merpati di China. Terbersit perasaan bangga kalau dari kami ada juga yang bisa pergi ke luar negeri apalagi ini bukan jalan-jalan tetapi tugas menuntut ilmu, saya yakin mama pun pasti bangga anaknya ada yang ke luar negeri mengingat kami hanyalah keluarga sederhana dari kampung, Karena mama terbatas pengetahuannya setiap ada yang bertanya dia tidak bilang kalau anaknya ke China tetapi ke Hongkong.

Menjelang bulan Agustus 2008 sudah mulai terdengar lagi berita tentang kesulitan Merpati dan kami enggan mendiskusikannya kalau sedang duduk bersama-sama dengan mama, tapi rupanya adik saya ini dalam beberapa kesempatan sudah mengikuti testing di maskapai lain ke Jakarta tanpa memberitahu dan mampir ke rumah mama (kami mengetahui setelah mama meninggal). ‘Saya kuatir mama gelisah dan tidak tenang kalau tahu saya sedang cari pekerjaan baru’ katanya. Setelah mama dikebumikan dan anggi boru (istrinya) serta Festus pulang kembali ke Medan dia masih tinggal di Pamulang untuk menantikan test atau interview di Jakarta supaya dia tidak perlu bolak-balik.

Ternyata dia telah memutuskan berhenti dari Merpati (pilihan yang sulit) waktu dia tanya pendapat saya, jujur saya agak keberatan tapi saya mengerti dan menyadari kalau keadaan tentang pekerjaannya dia pasti lebih tahu. Jadi sekarang dia penggangguran??? Pikirku. Kembali doa dinaikkan dan nasehat supaya sabar kami ucapkan tetapi tetap saja bukan perkara mudah bagi dia untuk menantikan panggilan dan kepastian pekerjaan dari tempat barunya.

Tiba-tiba dia harus pulang ke Medan ‘Ada pyskotest’ katanya. Setelah itu dia telephone lagi ‘Bang… bantu doanya supaya saya diterima di .... , saya sudah putuskan untuk tidak menerima tawaran salah satu maskapai baru dan menunggu yang tinggal proses HRD’ dia bercerita. Saya sempat menyayangkan keputusannya yang terlalu cepat menolak maskapai baru itu ‘Tidak bisa kamu mengulur jawabanmu sampai ada kepastian dari maskapai tsb ?’ ‘Sudah saya putuskan bang.. karena saya yakin diterima’. ‘Ya sudahlah tunggu saja dengan sabar dan percayalah Tuhan pasti memelihara kalian’.

Akhirnya sampailah pesan pendek tersebut dan saya mengucap syukur mendengarnya. “Bekerjalah dengan baik dan pandai-pandailah bersikap ditempat yang baru’ demikian nasehat saya kepadanya. Saya salut akan keteguhan hati dan kesabarannya, dan saya percaya tidak mudah untuk mengambil keputusan seperti itu. Tuhan memberkatimu dan keluargamu dan kita semua.

SHS

Rabu, 10 September 2008

Helga 30 September




Helga namanya.. tetapi dia bukan orang Jerman ataupun Eropa dia orang asli Indonesia tetpatnya orang Batak.. (jangan malu ya Helga..) Buat sebagian besar bangsa Indonesia tanggal 30 September tercatat dengan tinta gelap atau mungkin merah karena sejak tahun 1965 tanggal tersebut selalu mengingatkan akan catatan kelam bangsa ini dengan peristiwa G30S PKI tetapi tidak bagi keluarga besar kami karena pada tanggal tersebut lahirlah seorang bayi perempuan mungil yang mengubah banyak hal dalam keluarga kami dan mengenang tanggal tersebut justru keluarlah ucapan syukur kepada Tuhan.

Nama papa mamanya berubah nama ompungnya (neneknya) juga berubah mereka berhak memakai lebel Bapak Helga, Mama Helga dan Opung Helga, kami pun sekarang mempunyai panggilan khas sebagai Bapak Uda, Inang Uda, Namboru dan Amagboru.

Ada saat-saat mengkhawatirkan ketika usia batita ketika kami merayakan Natal dia menderita sakit dan nyata pertolongan Tuhan ketika dia boleh melewatinya dengan baik.

Saat ini dia telah menginjak remaja dan perasaan bangga saya rasakan ketika dia mulai terjun dalam pelayanan sekolah minggu seperti Bapak dan Inang Udanya.

Tidak terasa dia sudah mulai remaja dari seorang anak kecil yang menjadi pengiring pengantin ketika saya menikah hingga sekarang sudah menjadi rekan pelayanan walaupun di gereja yang berbeda. Setiap ada kesempatan saya selalu melibatkan dia dalam pelayanan yang saya lakukan di sekolah minggu.

Besar harapan saya dia bisa bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan dapat mengalami kasih dan anugerah Tuhan Yesus dalam hidupnya. Teruslah melayani dan tetap semangat bukan karena ikut-ikutan tapi layanilah Tuhan dengan tulus percayalah jerih payahmu tidak akan sia-sia I Kor 15:58

Selamat Ulang Tahun Helga Tuhan memberkatimu