Rabu, 29 Juli 2009

PD Yeremia (temu kangen)


Sabtu 25 Juli 2009

Hari ini sepulang dari bekerja di pabrik saya akan langsung ke CITOS untuk bertemu dengan saudara-saudara seiman, rekan-rekan persekutuan doa Yeremia Cipete Cilandak. Kurang lebih sejak tahun 1993 saya tak pernah lagi bertemu dengan mereka. PD Yeremia tidak akan pernah terlupakan, karena lewat wadah persekutuan itulah saya mengenal dan menerima Kristus pada saat saya duduk di bangku SMA kelas 2.

Untuk menulis semua kenangan selama berkumpul, bersekutu, melayani di persekutuan ini akan dibutuhkan banyak halaman, belum lagi pengalaman dan persahabatan dengan masing-masing saudara yang ada di dalamnya. Karena ke-egoisan dan kecerobohan saya sendirilah yang menyebabkan persahabatan dan keindahan tersebut menjadi redup.

Tahun-tahun berlalu tetapi PD Yeremia dan orang-orang didalamnya tetap mendapat tempat istimewa bagi saya, hingga kemudian teknologi infomasi yang bernama Facebook di Internet, komunikasi yang lama sudah tak ada mulai bisa terjalin sedikit demi sedikit hingga akhirnya dari sekedar tegur sapa yang agak canggung karena lama saya tak bertemu mereka terlebih sejak berdomisi di Serang Banten sampai muncul ajakan untuk bertemu kembali dengan tema ‘temu kangen Yeremia 2009’.

Dengan antusias dari beberapa rekan untuk hadir dan penyesalan tidak bisa ikutan dari beberapa yang lain ditentukanlah hari Sabtu jam 15.00 (3 sore) untuk kumpul di Citos tangal 25 Juli 2009, rencana semula jam 18.00 berubah karena usul seorang rekan, walaupun rekan yang mengusulkan tidak bisa hadir tapi ‘thanks’ atas usulnya sehingga waktu berkumpul menjadi lebih panjang.

Teringat pengalaman pertama kali datang ke PD Yeremia di tempat mba Yuni, kala itu perasaan segan dan malu untuk hadir karena tidak mengenal siapapun kecuali ‘abang (alm) yang mengajak, ditambah belum mandi dan bau keringat sehabis nonton basket di GOR Cilandak saya memberanikan diri untuk datang. Selanjutnya, minggu demi minggu saya terlibat di dalamnya. Untuk pertemuan kali inipun seolah-olah perasaan yang sama, grogi,malu dan canggung kembali menyelimuti hati ini. Sebelum pertemuan tersebut, saya pernah mengirim pesan kepada Ferry untuk menyapa dan meminta maaf dan puji Tuhan dia masih baik dan tidak mempermasalahkan kejadian beberapa waktu lalu.

Untuk menjaga kondisi supaya segar, saya tidak keluar rumah hari Jumat malam dan tidak tidur terlalu larut, maklum hari Sabtu saya tetap kerja setengah hari dan pasti akan pulang dari acara tersebut kembali ke Serang sampai larut malam. Saya beritahu istri saya akan rencana hari Sabtu, dia tidak keberatan dan mendukung untuk saya menghadirinya dan saya katakan kepadanya mampir sebentar di rumah Raphael untuk mandi sebelu ke Serang.

Jam 11.30 saya berusaha menghubungi Jimmy tak kunjung berhasil, rupanya no HP nya kurang satu angka. Begitu tersambung ‘Halo…. Ini Jimmy ya… saya kak Sampe kamu sekarang ada dimana….?’ Agak keras suara saya karena suara berisik disekitarnya,rupanya dia sedang ada di jalan, diapun menyahut ‘Halo.. kak Sampe saya ada di Cibubur mau ke Cianjur naik motor’ sayapun menjawab ‘Udah batalin aja hari ini PD Yeremia mau ketemuan di Citos jam 3 sore bisa datang ga kamu..?’ ‘Oh… ya saya pasti datang tapi ke Cianjur dulu ga bisa dibatalin nanti langsung saya ke Citos pasti kak, … saya terlalu cinta sama Yeremia’.

‘Gila juga mau ke Cianjur terus balik lagi ke Citos pakai motor…’ hebat.. begitu saya berpikir, emang masih nekad nih anak Alor yang satu ini.

Jam setengah satu saya langsung meluncur ke Citos lewat jalan Tol Jkt-Merak yang sedang perbaikan di sana-sini, memang luar bisa jalan tol ini, sudah paling parah tarifnya mahal banget lagi dan rencananya September 2009 mau dinaikkin lagi tarifnya. Sekitar jam 13.45 mulai keluar tol dan masuk jalan Serpong… wuih macet bo… apalagi petir mulai bersahut-sahutan dan awan gelap tanda hujan lebat mulai kelihatan.

Benar saja lewat Gading Serpong hujan lebat mulai turun sehingga lalu lintas yang memang sedang padat bertambah macet karena banyak kendaraan berjalan lambat sambil menghindari genangan air yang tinggi di lajur kiri jalan, dan hujan ini terus turun bahkan sampai saya tiba di Citos hujan tak juga reda.

Dengan ekstra hati-hati saya terus melaju sambil sekali-kali melirik jam untuk memastikan saya tidak terlambat nantinya, karena sudah janji dengan seseorang untuk ambil sabun detergent untuk laundry di Puspitaloka Serpong jam 2 maka saya sempatkan untuk mencari alamat tersebut, setelah sedikit berputar mencari akhirnya alamat yang dicari ketemu juga, disebuah garasi mobil untuk aktifitas 3 perusahaan saya ambil 1 karung detergent.

Lepas dari Puspitaloka saya langsung masuk tol serpong, hujan terus turun dengan lebat, di pintu tol saya bertanya untuk memastikan saya keluar di pintu mana supaya tidak masuk JORR ke petugas tol, rupanya petunjuk yang diberikan tidak tepat jadilah saya berputar-putar dalam hujan yang lebat terjebak kemacetan Tanah Kusir dan Arteri Pondok Indah.

Saya mengucap syukur memasuki Pondok Indah jalanan benar-benar lancar. Saya hubungi Lucy memberitahu posisi ‘Kami udah nyampe nihh… ‘ jawabnya dan saya juga hubungi Jimmy untuk mengetahui posisinya dan memastikan kehadirannya.

Masuk Citos, ramai sekali hari itu sehingga untuk mencari parkir mutar-mutar dibawah ga dapat juga, maksudnya supaya tidak kena hujan tapi apa daya setelah mutar-mutar akhirnya dapatnya di luar juga gedung juga, mau ga mau harus keluarin paying.

Ke toilet sebentar sambil ngamatin beberapa oang jangan-jangan ketemu teman Yeremia yang udah berubah penampilannya, ada seseorang yang mirip Mercy… Mercy bukan ya, ah gak lah beda.. malu kalo salah.

Walupun punya KTP Cipete Cilandak seumur-umur baru 2 kali ini saya masuk Citos, maklum dulu belum ada Citos, jalan tol didepannya aja tempat main bola waktu SMA. Jadi saya jalan terus….. akhirnya dari kejauhan kelihatanlah Lucy Bungawan melambaikan tangan.

Di situ sudah hadir Lucy, Diana, Kak Yulia, Andre, Mercy, Surya. Lucy tidak banyak berubah tetap ramai dengan ocehannya tapi semakin dewasa, Mercy…. ya ampun pipinya tembem amat tapi masih bisa langsung dikenalin, Surya tetap dengan penampilan yang sama (langsung inget sama motor vespanya waktu ke Puncak). Diana Siregar juga langsung bisa dikenali, Kak Yuli datang jauh-jauh dari Bekasi demi ketemuan dengan semangat yang tetap muda sekalipun harus datang dengan ‘supir yang berganti-ganti’, Pdt Andre (ya udah jadi pendeta di GKRI) luar biasa kawan ini rupanya kerinduan lama terwujud juga cuma agak jarang ketemu pendeta yang plontos abis, pdt yang lain biasanya masih disisaiin dikit.

Sebelum berangkat dari pabrik saya menyempatkan diri untuk check tensi supaya bisa jaga-jaga sama makanan (maklum punya riwayat hypertensi), jadi untuk amannya pesen teh hangat aja kalau makan kebetulan sebelum pulang mampir di kantin pabrik.

Perasaan canggung lagsung pergi entah kemana, karena kawan-kawan langsung ngobrol akrab dan kadang-kadang tertawa lebar, walaupun sudah pada tambah usia dan lama tidak ketemu tapi sifat jenaka masing-masing masih sama tapi tentu sekarang lebih berbobot (bukan bobot badannya aja yang bertambah) dan dewasa….

Saya menguhubungi Jimmy, udah di Cibubur katanya, Ferry lagi menuju Citos, Yudi, Atta, Yana belum juga datang tapi pasti datang. Muncul kemudian Ellen, walaupun tidak dalam waktu yang sama di Yeremia tapi saya tahu ibu ini, yang dijuluki oma Ellen oleh Lucy dan Diana, bahkan menurut Diana wajah Ellen mendahului umurnya.

Perbincangan ringan dan segar terus mengalir menanyakan kabar dan kegiatan masing-masing. Setelah itu muncullah Yonan, ha…ha… tambah item aja kawan yang satu ini dan rambut depannya udah mulai menghilang, pikirannya dagang melulu, waktu pertama kali saya memberitahukan tentang istri saya spontan dia ngmong ‘Enak dong elu punya ruko’ selama di Citos dia terus memantau pergerakan bisnis mobilnya dan ada yang deal katanya.

Setelah itu berturut-turut Ferry ‘Van Basten’ Simanjuntak disusul Bambang bersama Ronald (berjalan beriringan seperti David and Goliath) tapi waktu duduk sama tinggi Cuma berdiri tidak sama tinggi. Di susul lagi Yana,suami dan anaknya kemudian pasangan Yeremia Yudi dan Atta.

Ferry masih klimis dan necis seperti dulu hanya sedikit agak buncit perutnya tapi perhatiannya ke kawan-kawan Yeremia tetap besar dan tetap menjomblo. (Maju terus kawan, dari anda banyak hal yang saya pelajari dan contoh)

Setelah ngobrol dari sabang sampai merauke Mercy dan kak Yulia pamit duluan maklum Mercy ada tugas gereja sedangkan kak Yulia harus pulang ke Bekasi. Wah sayang Mercy ga sempat ketemu Jimmy Timung. Percakapan masih berlanjut dengan seru dan biasa…. Sesi foto ga abis-abisnya bahkan membajak pelayan resto utnuk bantu jadi juru foto (pantesan aja pesenannya lama lha pelayanannya disuruh foto melulu).

Berikutnya Yana pamit dan rupanya dia balik lagi bersamaan dengan datangnya mba Yuni (dari Bandung dan ketemu Yana di loby Citos). Mba Yuni cerita kalau awal Agustus akan mission trip ke Sumba Timur, Ferry mau ke Ambarawa dan Andre ke Merauke. Waktu dicocokan akhirnya rencana berikut disepakai bikin PD tanggal 22 Agustus 2009 tempat menyusul. Hampir jam 9 malam saya pamit pulang bersama Yonan dan Bambang.

Dalam perjalanan kami bicara panjang lebar bernostalgia dan menceritakan pengalaman saya secara pribadi, tapi waktu terasa sangat singkat karena tak lama kemudian Yonan turun di daerah Pondok Cabe disusul kemudian oleh Bambang. Senang ketemuan dengan kalian mudah-mudahan komunikasi tidak hanya di malam itu tapi bisa terus, terlebih terus saling mendoakan.

Ah… seandainya yang hadir bisa lebih banyak, teringat saya kepada Nelson, Arman (kel. Lenggu) Aik, Roy, Duma, Minda (kel Aritonang), kel Rugebregth, Ezra, Esther, kel. Hutabarat, kalau ditulis semua jadi daftar absensi.

Pukul setengah 11 saya tiba di Pamulang Villa untuk mandi dan menjenguk Raphael (ponakan kecil usia 2 minggu) bapak ibunya mulai agak repot karena sering bangun dan menangis… (biasalah anak kecil semua orang tua juga mengalaminya).

Setengah jam disana dan setelah makan ala kadarnya saya segera menuju Serang lagi sekitar jam 12 lewat 15 tiba dengan sehat dan selamat, ngobrol sebentar dengan nyonya dan kemudian tidur. Terima kasih Tuhan untuk pertemuan yang Engkau berkati terlebih melihat saudara-saudara dalam Tuhan di awal hidup baru saya tetap bersemangat melayaniMu.

Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali mengingat PD Yeremia

SHS

Minggu, 05 Juli 2009

Selamat Datang Raphael




Minggu 05 Juli 2009 jam 06:02. Rasa kantuk masih kuat saya rasakan ketika suara HP yang diletakkan di ruang tengah berbunyi, percakapan penutup pertemuan team pelayan perjamuan kudus tadi malam cukup hangat dan kalau ingin diikuti terus mungkin akan selesai lebih larut lagi, maklum 3 hari lagi pilpres akan dilaksanakan. Kawan-kawan terpecah pendapat dalam hal menentukan pilihan.

Kembali suara HP berbunyi, dan seolah-olah berbunyi bertambah nyaring dari biasanya, segera saya mengambil sarung dan berbegas menjawab panggilan tersebut. Nomor yang kurang familiar tapi segera saya mendengar suara lae Silitonga disebrang sana. ‘Lae, kami sudah ada di RS, Ros sudah bukaan dua. Tolong bantu doa ya lae’ ‘Ok sabarlah, ito mana ?’ begitu sahut saya.

Segera lae memberikan HPnya kepada ito, dan terdengarlah suaranya ‘Aduh ito… sakit… sakit banget’. ‘Sabar ya to, ini saat yang kita harapkan dan nantikan, harapkan kehadirannya dengan suka cita, dan semua orang yang akan melahirkan mengalami hal yang sama nanti kami akan ke sana setelah ibadah‘ begitu sahutku berulang-ulang. Karena saya tidak tahu mau bicara palagi lagi maka HP saya berikan kepada istri untuk dia melanjutkan percakapan dengan eda nya. Sementara saya mempersiapkan diri hendak mandi terdengar dia berbicara dengan eda nya mengatakan beberapa hal agar eda nya sabar, minum teh manis hangat supaya ada kekuatan.

Sambil mandi saya bersyukur kepada Tuhan karena sebentar lagi adik saya akan melahirkan. Teringat percakapan terkahir dia sudah tidak sabar dan cape nunggu kelahiran bayinya. “Ngomong aja kepada anakmu, bere/keponakan itu supaya cepat keluar dan jangan lama-lama di dalam kandungan, diluar lebih enak dan ada mama, papanya juga tulang/nantulangnya yang pengen ketemu’ begitu kata saya.

Menurut rencana kalau belum ada kemajuan atau tanda-tanda melahirkan, dokter sudah membuat perencanaan hari Rabu 8 Juli 2009 pagi pada hari pilpres, dia akan di induksi atau dirangsang untuk melahirkan, tetapi mudah-mudahan sebelum hari Rabu dia sudah melahirkan.

Segera setelah itu saya menghubungi adik saya Papi Festus di Medan untuk memberi kabar mengenai hal itu dan menganjurkan dia untuk menhubungi itonya. ‘Oke bang, saya akan hubungi’ sahutnya. ‘Kita akan ke Pamulang nanti siang selepas ibadah ke 2’ kata saya kepada nyonya. Sebelum berangkat ke gereja saya sempatkan menghubungi kakak Ma Helga untuk konfirmasi alamat Rumah Sakitnya. Sebelum ibadah saya masih sempat bertanya lewat sms mengenai perkembangan dan dijawab belum oleh lae.

Setelah ibadah kami tak berlama-lama di gereja segera pulang kerumah, makan dan berkemas-kemas. HP kembali berbunyi ‘Ya lae gimana ?’ Rupanya abang Pa Helga yang menghubungi ‘Ito kita sudah melahirkan tadi jam 11.40 sehat dan normal, ajaib semua berjalan lancar karena kemurahan Tuhan, bayinya 3 kg sehat. Puji Tuhan, Puji Tuhan’. ‘Baik bang kami baru saja berkemas-kemas baru pulang dari gereja sekarang makan dulu, kami segera kesana’. ‘Kamu hubungi Pak Festus ya!’ demikian dia menutup pembicaraan ‘Oke….sampai ketemu nanti’. Hubungan terputus dan saya menyampaikan berita gembira itu kepada nyonya ‘ Ito Ros sudah melahirkan jam 11.40 semua sehat dan lancar’ saya segera menghubungi berulang-ulang Pak Festus tapi HP nya tidak aktif akhirnya berita saya sampaikan via SMS dengan harapan segera terkirim begitu HPnya aktif.

Setelah makan, kamipun segera meluncur membelah kota Serang dan masuk pintu tol Serang Timur, ketika keluar di pinto tol kebun nanas Hp berbunyi lagi dan lae Silitonga memberitahukan kabar itu ‘Lae… Ros sudah melahirkan !’ ‘Ya selamat ya lae kami baru di dekat Serpong sebentar lagi nyampe, mana ito ?’ terdengar oleh saya suara adik perempuanku sudah tertawa-tawa senang ‘Wah sekarang udah bisa ketawa ya, kamu mau apa ?’ HP saya berikan kepada nyonya dan mereka bercakap-cakap. ‘Eda mau minta dibeliin martabak keju, dimana ya ada jualan martakan siang-siang begini?’. ‘Tenang di daerah sini beda dengan di Serang, di dekat sini pasti ada yang jualan martabak’. Benar dugaan saya tak jauh dari situ kami mendapati penjual martabak manis. Kemudian kami masuk ke Hypermart untuk mencari ember untuk mandiin bayi dan handuk.

Wah… lumayan juga harganya, tapi demi mengabulkan permintaan ito kalau embernya biar tulang-nya yang beliin maka langsung dibelikan. Ditengah perjalanan di pamulang 2, saya bisa menghubungi Papi Fei dan mengabarkan berita suka cita tersebut, rupanya dia baru saja tiba di Polonia dari Penang Malaysia mengingat tugasnya sebagai teknisi Lion Air. Sekitar jam 16.15 tibalah kami di daerah Witana Harja, menunggu lae sebentar dan sekitar jam 16.30 kami sudah ada di kamar Lili 2 menjumpai ito Ros Mama Raphael dan melihat simungil Raphael yang baru lahir. Mengamati Raphael,mendengar tangisannya terungkap rasa kagum dan ucapan syukur kepada Allah, teringat oleh saya seandainya mama ada di sisi kami tentulah dia sangat senang dan bahagia karena pahompu dari boru hasiannya sudah lahir.

Abang Helga bergabung bersama kami setelah dia pulang dari gereja. Semenjak pagi sampai ito melahirkan dia berjaga bersama Lae Silitonga. Kamipun semua (Bapa Helga, Mama Helga, Helga, Niko, Tulang dan Nantulangnya dari Serang, Bapak Raphael, Mama Raphael) berdoa bersama untuk mengucap syukur kepada Allah dan menyerahkan Rphael dan keluarga Lae kepadaNya, sekalipun keluarga Festus tidak bisa hadir karena masih ada di Medan tapi kami percaya merekapun sehati dengan kami dalam doa.

Kemudian Tulang/Nantulang Rinci, Wilmar dan calon istrinya serta Dodi tiba di RS, setelah bercengkarama cukup lama mereka pulang, kemudian kamipun menyusul sekitar jam 21.30 menuju Serang dan tiba jam 23.30 ‘Selamat datang Raphael, selamat buat Inang Raphael Amang Raphael. Selamat jadi Tulang/Nantulang, Selamt jadi pariban dan lae. Kasih setia Tuhan menolongmu untuk terus bertumbuh dengan sehat, kepintaran, hikmat dan menjadi kesukaan keluargamu dan menjadi kesukaan Tuhan Yesus.. Amin.

Rabu, 01 Juli 2009

Saya tidak melayani Tuhan

1 Kor 15 : 58 ‘…. Jerih payah di dalam Tuhan tidak sia-sia ‘ ini adalah salah satu ayat yang banyak dihapal dan diklaim oleh kita yang menyebut pelayan Tuhan.

Banyak diantara kita yang giat bekerja dan mau berjerih lelah karena ada pemahaman yang mengatakan bahwa jerih payah kita didalam Tuhan tidak sia-sia, sehingga tidak heran ada banyak waktu, banyak tenaga dan banyak uang kita berikan untuk mendukung pekerjaan Tuhan dengan harapan kita diberkati dan memperoleh imbalan jasa dari Tuhan berupa berkat yang melimpah, entah itu bekat financial, berkat kesehatan, berkat keluarga bahkan berkat bangsa-bangsa.

Siapa yang tidak mau berkat, siapa ? apalagi berkat bangsa-bangsa. Berkat kecil-kecilan seperti ditraktir teman (kalau perlu menodong teman yang ulang tahun), dapat hadiah ulang tahun, dapat door prize, dapat persembahan kasih sampai berkat bangsa-bangsa.

Salahkah saya kalau dalam melayani Tuhan saya terobsesi dengan pikiran seperti itu ? apalagi banyak hamba Tuhan atau gereja yang khotbahnya selalu mendorong jemaat untuk setia agar diberkati, taat agar diberkati, memberi supaya diberi, beribadah supaya diberkati, berdoa supaya diberkati, baca Alkita supaya diberkati, melayani supaya diberkati. Kalau tidak kaya berarti tidak setia, kalau tidak sehat berarti tidak taat, kalau karir tidak tinggi berarti kurang dalam memberi dsb.

Sehingga tidak heran secara samar-samar (hanya dapat dilihat dengan jernih ketika kita merenung dan bersaat teduh) bukan kita tapi saya mendapati kalau kita eh bukan tapi saya bukan sedang melayani Tuhan tetapi sedang melayani diri sendiri. Saya kuatir kalau tidak lagi masuk dalam daftar pelayan minggu atau dalam bulan ini maka jangan-jangan berkat saya akan berkurang atau bahkan lenyap. Kalau saya tidak mendapati diri saya sedang melayani jangan-jangan pekerjaan saya akan menemui banyak hambatan dan kesulitan.

Jadi saya melayani bukan melayani Tuhan tetapi melayani diri sendiri. Karena saya tetap melayani supaya kondisi finansial saya tetap baik, kesehatan bagus, keluarga sejahtera kalau bisa berkat bangsa-bangsa mengalir ke pundi-pundi saya. Bisakah saya menyebut diri saya pelayan Tuhan? Sekalipun saya masih aktif dalam pelayanan ?. Tidak…. saya bukan melayani Tuhan tetapi melayani diri sendiri.

Dalam kegiatan retreat Sekolah Minggu ada orang tua yang bersedia membantu doa, terlebih dana bukan karena ingin memuliakan Tuhan tetapi karena anaknya ikut retreat tersebut. Mereka tidak rela anaknya ikut dalam bis yang jelek, tidak ada ac, duduk berdesak-desakan. Mereka memberi lebih banyak bantuan dana bukan untuk kemuliaan Tuhan tetapi karena tidak rela anaknya yang ikut retreat tersebut tidur di tempat yang buruk, makanan tidak enak karena buruknya fasilitas penginapan retreat.

Sesungguhnya mereka bukan melayani Tuhan tetapi sedang melayani diri sendiri dalam hal ini melayani anak mereka sendiri. Sehingga ketika anaknya beranjak remaja kegiatan Sekolah Minggu tidak lagi perlu dibantu dan diperhatikan tetapi kegiatan remajalah yang sangat penting dibantu, ketika anak mereka beranjak pemuda maka kegiatan pemudalah yang sangat penting untuk dibantu. Bukan semata-mata karena kegiatan itu penting tapi karena anak mereka ada disana.

Apakah saya masih bisa berkati ‘Saya melayani Tuhan? ‘ Tidak, saya sedang melayani diri sendiri. Jadi bagaimana seharusnya?. Tentu saya bukan anak kecil atau bayi rohani lagi bila dilihat dari segi waktu, sudah seharusnya dan sepantasnya kita dewasa dalam iman, sudah seharusnya kita menyadari bahwa hidup kita adalah untuk Kristus, sudah seharusnya hidup kita bukan lagi melayani diri sendiri tetapi melayani Kristus yang menebus kita, pemilik hidup kita.

Biarlah sisa waktu yang kita punya tidak kita buang dengan percuma dengan hanya berkutat untuk kepentingan diri sendiri. Pikirkan dan renungkan apa yang sudah Tuhan buat untuk kita sehingga kita merespon dengan memberi hidup untuk Tuhan, bukan kita melakukan sesuatu untuk Tuhan supaya Tuhan melakukan sesuatu buat kita.

Segala kemuliaan bagi Tuhan

SHS

Kamis, 07 Mei 2009

Pencuri kecil

Hari itu adalah hari naas yang saya alami, seperti biasanya saya pulang sekolah mendapati rumah dalam keadaan terkunci, bapak dan mama tidak ada dirumah untuk mencari nafkah begitu juga dengan kakak atau adik yang lain.

Tetapi situasi itu justru adalah situasi yang diharapkan oleh kami, bersama abang saya (alm) kami melakukan tindakan nekad untuk mendapatkan uang jajan yang akan digunakan untuk jajan dan mentraktir beberapa kawan di sekitar rumah dan setiap kali melakukan itu perasaan bangga karena banyak uang dan menjadi bos kecil bagi mereka.

Buat anak sekecil kami tindakan itu adalah tindakan yang sangat berbahaya, naik keatas atap rumah dan menggeser beberapa buah genteng untuk bisa masuk kerumah. Setelah masuk ke dalam rumah tujuan kami langsung ke kamar orang tua yang memang tidak menggunakan plafon atau langit-langit sehingga kami bisa langsung masuk ke dalam kamar bapak dan mama.

Rumah kami terletak paling pinggir bersebelahan dengan sawah yang terhampar luas sehingga tidak terlihat oleh tetangga yang lain, saat itu sekitar tahun 1970 kota Jakarta masih banyak didapati sawah produktif. Rumah kami terdiri dari satu ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 dapur bersebelahan dengan kamar mandi yang punya pintu tersendiri yang bisa digunakan tanpa harus melalui pintu utama dengan kamar mandi beratapkan langit.

Setalah berada di dalam kamar bapak dan mama langsung kami beraksi membuka pintu lemari, dan aha ini dia 'sebuah celengan' (tempat menyimpan uang tabungan) berbentuk ayam milik kakak perempuan (alm) langsung di pegang dan kemudian kemi bekerja ala mc giver memasukkan sebatang lidi kedalam celengan untuk mengeluarkan beberapa uang recehan yang ada didalamnya seperti yang sudah-sudah biasa kami lakukan.

Tetapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, tidak seperti kesuksesan yang kami raih tiba-tiba celengan yang ada dipegangan terjatuh dan jatuh berantakan. Panik, bingung dan ketakutan menyelimuti perasaan kami. Segera kami keluar rumah lewat genteng seperti kami masuk dan mencari celengan yang model dan warnanya sama. Tetapi setelah muter-muter warung di sekitar jl. anggur tidak satupun celengan yang mirip. Akhirnya didapati gantinya semirip mungkin, setelah masuk ke dalam rumah kembali dengan cara yang sama dan memasukkan semua sisa uang ke dalam celengan tersebut. Di luar rumah kami tetap gelisah karena sadar bahwa celengan itu tetap akan ketahuan kalau sudah berubah, jadilah kami lari dari rumah ke mana kami tahu hingga malam hari.

Tentu saja setelah sore orang tua kami kembali dan seluruh anggota keluarga yang lain berkumpul kami tak kunjung datang dan mereka menjadi panik dan mencari cari ke tetangga, dan cukup jauh dari rumah di daerah Bali Village, dua orang bocah sedang menangis ketakutan ditengah gelapnya malam dekat dengan empang (waktu itu Jakarta masih gelap gulita kalau malam hari). Ketika kami sedang menangis ada seorang bapak yang menemukan kami (ternyata dia adalah orang tua dari teman abang kami) dan mengantar kami pulang.

Tak terbayangkan senangnya hati kedua orang tua kami dan sangat berterima kasih kepada bapak tersebut dan selepas mengantarnya pamit seraya mengucapkan terima kasih tibalah waktunya kami di adili dan dihukum dengan dipukul berkali-kali oleh bapak. Sambil menangis menahan sakit kami berjanji tak mengulanginya lagi. Seiring waktu berjalan tidak secara langsung kebandelan kami berubah sama sekali, kadang-kadang masih juga melakukannya dalam bentuk yang lain.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian tersebut, termasuk bagaimana mendisiplin dan mendidik seorang anak. SHS

Rabu, 22 April 2009

Yesus sumber pengharapan (Paskah 2009)

Beberapa tahun yang lalu saya memberikan ucapan selamat Paskah kepada seorang kawan tepat sehari setelah hari Paskah dirayakan (hari Senin) dan kawan saya tersebut kemudian mengatakan sesuatu yang cukup membuat saya tertegun 'Paskah ? kan sudah lewat'

Saya bingung, sepertinya saya telah salah memberikan ucapan selamat Paskah kepadanya, padahal baru sehari tetapi seolah-olah sudah basi dan tidak perlu lagi. Bandingkan dengan ucapan selamat Natal yang tetap relevan sekalipun sudah satu bulan lamanya.

Yach begitulah kenyataannya, bahkan banyak orang Kristen yang tidak tahu bahwa Paskah itu selalu diperingati di hari Minggu. Kebanyakan kita mengatakan hari Jumat itulah Paskah. Setiap kali kita atau para rohaniawan ditanya tentang seberapa penting Paskah bagi umat percaya maka seperti sebuah koor jawabannya adalah Paskah adalah peristiwa terpenting dalam kalender gereja... tapi jujur itu sekedar sebuah jawaban yang kurang bisa dibuktikan.

Dalam banyak kesempatan Paskah tidak pernah mendapat perhatian yang lebih istimewa dibandingkan Natal, saya bukan bermaksud ingin mengatakan Natal tidak penting, sekali lagi tidak. Jangan salah mengira, tetapi ucapan Paskah sangat penting biasanya hanya sebatas ucapan tanpa diikuti oleh kenyataan.

Banyak acara Paskah dibuat sekenanya, dana seadanya, persiapan minim tidak apa berbeda dengan Natal, memasuki bulan Desember suasana Natal sudah terasa, di rumah-rumah, di pusat perbelanjaan. Gereja sibuk mempercantik diri, latihan-latihan Natal hampir tiap malam diadakan Panitia dibentuk 2 atau 3 bulan sebelumnya belum lagi dananya.

Mungkin karena berdekatan dengan Tahun Baru, libur panjang dan THR, yach pokoknya begitulah.

Jadi inilah yang bisa saya lakukan, saya mengusulkan kepada kawan-kasan GSM supaya membuat terobosan dengan membuat acara Paskah SM dihari tersendiri yaitu hari Sabtu sore (biasanya digabung di acara Sekolah Minggu di hari Minggu) dan digabung ditempat yang lebih luas (di lt.2 ruang ibadah umum) biasanya SM hanya menggunakan tempat itu hanya untuk Natal. Puji Tuhan kawan-kawan setuju setelah berdiskusi dan Staf Pastoral juga menyetujuinya.

Saya yakin anak-anak SM akan bertanya 'kok kebaktiannya bukan di ruang SM? kan Natal masih lama?' dan kita bisa memberi jawaban ini hari Paskah dst. Puji Tuhan walaupun yang hadir tidak sebanyak acara Natal tapi seluruh rangkaian acara berjalan dengan baik dipimpin oleh SL Erick dan Meli, anak-anak mengikuti acara dan menyanyi dengan antusias bahkan mereka bisa diam dan memperhatikan drama yang dimainkan oleh GSM dengan arahan Ibu Maria Eko (Ibu Singgih) dengan judul Kasih.

Tetapi yang lebih penting lagi berita kebangkitan Kristus disampaikan dengan jelas mudahan-mudahan tahun depan kita berani bikin acara Paskah seperti tahun 2009 bahkan kalau bisa pembagian kado ASM dipindah ke Paskah (semoga...)

Sedangkan Paskah umum digereja kami diadakan berbarengan dengan peringatan Kematian Kristus (mudah-mudahan Jemaat tidak rancu antara Kematian dan Kebangkitan). Ibadah dilakukan 3X, jam 7, 10 dan 18.

Kepercayaan yang diberikan panitia kepada saya sebagai sie acara terasa sangat berat mengingat persiapan yang singkat tapi Puji nama Tuhan semua mendukung dengan penuh dan dengan latihan yang terbatas jadilah sebuah drama dengan Judul 'Yesus sumber pengharapan'.

Dalam rapat pembentukan panitia sempat Pak Singgih berujar 'wah kalau bang Sampe bikin acara pasti dekorasi dan perlengkapannya banyak' saya kemudian berkata 'Tenang pak kali ini akan dibuat sesederhana mungking bahkan mungkin tidak ada dekorasi khusus untuk drama karena akan memanfaatkan multi media secara maksimal' dan jadilah drama tersebut tanpa setingan dekorasi yang banyak kecuali 4 kursi dan satu meja saja.

Saya sangat berterimakasih untuk dukungan staf Pastoral, seluruh panitia dan seluruh rekan-rekan yang terlibat dalam drama Paskah. Bung Samale yang tak kenal lelah membuat/mengedit rekaman suara dan gambar sampai larut malam (tentunya terima kasih untuk Ito Ratna yang memaklumi suaminya di booking oleh saya untuk menyediakan waktu itu semua), Pak Markus yang berperan dengan sangat baik (sampai bangun kesiangan pada hari H karena terlalu serius mempersiapkan diri), Melly (maaf Mell ada bagian gambar yang di close up beberapa detik tanpa sepengetahuan Melly) Bapak Yosua (tetap memberi yang terbaik sekalipun kurang sehat) Ibu Yosua (memberikan tekanan yang pas untuk menjelaskan kebangkitan Kristus), Victor (aktingnya terus bertambah mantap dari acara 1 s/d 3) Mbak Trie (yang sempat jatuh beneran waktu adegan dansa).

Adegan dansa kalian (Victor dan Trie) luar biasa, Ayu (terima kasih untuk note book yang senantiasa siap dipinjam untuk latihan), Bening, Milka, Friska (terima kasih mau latihan sampai jauh malam), Terima kasih untuk Obed, Aang dan David (Cocok kalau nagih hutang kalau ada nasabah nakal). Terima kasih juga untuk Yusuf Rianto, Pak Katim, Ibu Katim, Yohanes (Opo). Terima kasih khusus untuk Mas Hariadi (tanpa bantuannya acara drama bisa amburadul) dan buat semuanya.

Saya sempat berkecil hati karena durasi drama yang hampir 50 menit (tidak bisa dikurangi lagi karena hampir tidak ada bagian yang bisa dihapus) akan menyebabkan jemaat bosan menyaksikannya. Sekalipun yang menyaksikan drama sampai akhir hanya sedikit tetapi saya bersyukur dan berdoa 'asalkan yang sedikit itu sungguh mengerti dan diberkati dan tertanam kuat dalam kehidupan mereka bahwa Yesus sumber pengarapan dalam pergumulan seberat apapun itu sudah cukup menghilangkan kepenatan dan membayar jerih payah semua yang ambil bagian dalam acara tersebut.

Selamat Paskah, segala kemuliaan bagi Tuhan.

SHS

Senin, 16 Maret 2009

Hidup seperti di jalan tol

'Hidup tidak seperti di jalan tol' bagi saya ungkapan ini sudah ketinggalan jaman karena usang dan tidak relevan lagi di saat-saat sekarang. Apalagi sebagai pengguna jalan tol yang hampir setiap hari kerja saya selalu melalui jalan tol saya berpendapat 'Hidup ini seperti di jalan tol'.

Ya dengan kondisi jalan tol sekarang ini, terutama jalan tol Jakarta-Merak khususnya mulai dari pintu tol Serang Timur s/d pintu tol Ciujung yang saya lalui, maka ungkapan yang lebih tepat adalah 'Hidup seperti di jalan tol'. Bagaimana tidak, setiap kali melintasi jalan tersebut bersiap-siap dan berhati-hatilah (memang setiap mengendarai kendaraan harus hati-hati), jalan yang jelek dan rusak sangat menganggu laju kendaraan.

Belum lagi kalau bis AKAP bagaikan 'setan jalanan' berlari kencang ibarat raja jalanan membuat kita sesama pengguna jalan kerap sangat was-was dan kuatir, mereka langsung menyalakan lampu kadang mebunyikan klakson tapi yang lebih mengkuatirkan adalah mereka merapatkan kendaraannya sangat dekat sekali tidak peduli pengendara di depan wanita dan mobil kecil.

Aturan mendahului kendaraan dari jalur kanan juga sudah tidak berlaku lagi karena hampir sebagian besar kendaraan terlebih kendaraan besar tidak mau di jalur kiri sekalipun dengan kecepatan yang sangat lambat, sehingga dengan sangat terpaksa kendaraan yang akan mendahului kendaraan di depan harus melalui jalur kiri.

Ya hidup ini seperti di jalan tol, sangat berbahaya kalau kita tidak siap mental dan fisik ditambah kendaraan yang kita gunakan harus dalam kondisi prima. Untuk itulah dalam menjalani hidup ini kita harus benar-benar bersandar kepada Dia yang empunya hidup ini supaya kita dapat menjalaninya dengan ketenangan dan kenyamanan.

Seperti akan melalui jalan tol setiap pengendara harus mempersiapkan diri, istirahat cukup, kendaraan ok (bahan bakar cukup, ban bagus, surat kendaraan ada dsb) maka sebelum kita memulai seluruh aktifitas kita sepnajang hari alangkah lebih baiknya kita juga datang kepada sang Pencipta, merenungkan kasihNya, mendengar FirmanNya dan menyerahkan hidup kita sepanjang hari.

Sehingga sekalipun kita melalui hidup kita seperti di jalan tol yang yang sering tidak terduga, kita siap menghadapinya bersama dengan Tuhan.

Selamat Paskah, Kristus sudah bangkit memberikan harapan yang pasti dan memberikan kemenangan. Maut sudah dikalahkan, hidup kekal sudah diberikan.

Sekali lagi Selamat Paskah 2009.

Tuhan Yesus memberkati

SHS

Rabu, 28 Januari 2009

Rahasia

Ada satu fakta yang disembunyikan oleh para pengkhotbah mujizat, kesembuhan ilahi dan kemakmuran. Hal itu tidak pernah diberitahukan karena merupakan rahasia mereka. Yakni ketika mereka berdoa untuk orang yang sekarat dan doa mereka tidak terkabulkan. Karena Tuhan berkata 'Ini bukan kehendak-Ku' (James Dobson)

Saya setuju dengan ungkapan di atas, tidak pernah saya mendengar (mungkin orang lain pernah) seorang pengkhotbah mujizat, kesembuhan ilahi dan kemakmuran menceritakan kesaksian mereka bahwa ada banyak orang yang mereka doakan dan orang banyak tersebut tidak mengalami kesembuhan atau menerima seperti yang penghotbah atau orang itu harapkan.

Di setiap kebaktian kesembuhan ilahi selalu di sampaikan kesaksian banyaknya orang yang menerima kesembuhan dan kadang data yang ada digelembungkan bahkan di mark-up jumlahnya. Tetapi mereka tidak pernah mengakui/tidak mau menerima kenyataan bahwa di kebaktian tersebut juga terdapat banyak orang yang datang dengan sakit penyakit dan persoalan tidak mendapat kesembuhan/mujizat. Jemaat yang datang dengan kursi roda tetap pulang dengan kursi roda, jemaat yang datang dengan tongkat tetap pulang dengan tongkat, jemaat yang datang dengan sakit penyakit tetap pulang dengan sakit penyakit yang sama.

Kalaupun mereka harus memberitahukan hal tersebut dan memberikan jawaban maka mereka akan berkata bahwa orang-orang tersebut tidak mempunyai iman sehingga tidak menerima kesembuhan/mujizat, benarkah demikian ? Suatu pembelaan diri yang dangkal.

Saya percaya ada banyak orang yang beriman bahkan lebih murni imannya kepada Kristus daripada kebanyakan orang yang mengalami kesembuhan di kebaktian tersebut tapi toch mereka di ijinkan Allah tetap mengalami sakit penyakit tersebut sampai hidup mereka di dunia ini berakhir dan menghadap Allah yang mereka kasihi.

Marilah kita lebih mengenal Allah dengan baik karena itu adalah kehendakNya (Yer 9 :23-24), sehingga dalam banyak kesempatan kita tetap bisa berkata kepada Dia 'Bukannya kehendak-ku tetapi kehendak-Mu lah yang jadi' Amin.

SHS