Kamis, 20 Mei 2010

True Story 'mobil nabrak tembok'

True Story 'mobil nabrak tembok'

Pagi itu saya bergegas menuju ke mobil dan meluncur cepat untuk menjemput beberapa kawan menuju ke tempat pekerjaan. Setelah beberapa kawan masuk ke mobil saya baru sadar bahwa saya masih mengenakan celana pendek untuk bekerja. Hari ini istri sang penolong tidak ada di rumah karena ada kegiatan di tempat lain sehingga tidak ada yang mengingatkan dan mempersiapkan pakaian untuk saya bekerja.

Segera saya panik karena menyadari waktu yang ada tinggal tersisa sedikit kalau untuk kembali ke rumah mengganti celana, tapi dalam waktu yang sempit itu saya mengambil keputusan untuk kembali ke rumah. Mulailah bagaikan adegan sang jagoan yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi saya peragakan. Dengan berzigzag dan membuat jantung berdegup kencang setiap penumpang mobil semakin cepat dipacu. Di suatu belokan mobil bukannya melambat tapi justru semakin dipacu sehingga mobilpun sebagian sisi terangkat dan ban menghasilkan bunyi nyaring 'ciiitt.....'

Seorang kawan di dalam mobil berkomentar 'Itulah para suami tidak tahu dan tidak bisa kalau istri tidak ada, terlalu manja bergantung kepada istri' tapi saya tidak lagi sempat menjawab karena terus berkonsentrasi mengendarai mobil yang betuk-betul sedang membuat jantung berdegup kencang.

Jalanan semakin padat dan ini berati memperlambat perjalanan hingga dalam hitungan detik saya mengambil keputusan untuk memutar arah untuk mengambil jalan pintas, dan terjadilah sambil menekan pedal gas kemudian menarik rem tangan sambil memutar kemudi, mobil berputar arah 180 derajat 'citt........' hampir semua orang di sisi jalan melihat dan terheran-heran lebih-lebih penumpang berpegangan erat dan menjerit 'Wah.... pak.......sudah gak usah kebut-kebutan lagi '. Mobil berguncang hebat dan berbalik arah kemudian saya membelokkan arah ke jalan pintas dan ternyata kami memasuki sebuah jalan yang masih dalam perbaikan.

Jalan itu memang sudah mulus tapi ketegangan yang lebih besar sudah menanti di depan, jalan tersebut masih menyisakan satu selokan besar kurang lebih dua meter yang belum ada jembatannya. Laju kendaraan sudah terlanjur sangat cepat dan tidak mungkin untuk di hentikan dengan rem, kalau itu dilakukan maka ada kemungkinan mobil akan terperosok ke dalam selokan. Dengan nekat, saya menekan pedal gas semakin dalam dan mobil melaju dengan kecepatan maksimal, semua penumpang berteriak ketakutan 'Tolong...... gila kamu pakk' dan mobil terbang bagaikan mobil bus di film speed terbang melewati jembatan tol yang terputus. Mobil terbang dan 'brukkkkk' terjatuh di seberang jalan dan membanting semua orang yang ada di dalamnya dan terus melaju dengan bergetar hebat. Saya berusaha mengendalikannya tapi ternyata belum cukup kengerian ini berakhir di depan ada sebuah tembok dan mau tidak mau saya harus menginjak rem sampai mentok dan memegang erat kemudi. 'Ciiittttt Bruk...' suara ban dan suara benturan terdengar mobilpun berhenti. Kami semua turun dengan berkeringat dingin, sambil kawan-kawan bersungut-sungut dan memaki. Saya segera bergegas memeriksa kendaraan dan mendapati kaca spion patah dan hilang, bemper depan ringsek dan kaca depan sebagian besar retak. Saya pucat dan tertunduk lesu membayangkan kerugian besar yang saya harus derita apalagi ini adalah mobil satu-satunya dan hampir tidak mungkin menjualnya dengan harga yang pantas. Saya terpekur dan menyesali diri sambil berharap semoga ini hanya sekedar mimpi.

Mudah-mudahan ini cuma mimpi bukan sebuah kenyataan, dan seketika saya tersadar dan bangun dari tidur, hati saya lega ternyata saya sedang duduk di kursi panjang dan ada beberapa orang bersama saya dalam sebuah antrian, karena lama menunggu maka saya tertidur. Sesaat itu juga saya bangun dari tidur asli saya dan bersyukur kalau saya sedang mimpi. Rupanya saya mimpi di dalam mimpi. Saya mimpi sedang duduk antri kemudian tertidur dan bermimpi mengendarai kendaraan.

Kamis, 11 Maret 2010

PASKAH 2010


SALIBKAN DIA, SALIBKAN DIA

Kalimat ini bergema berulang-ulang di dalam pikiran saya ketika memikirkan makna Paskah tahun ini. Ya, itulah teriakan-teriakan sadis dan tak mau peduli yang keluar dari mulut hampir semua orang yang berkumpul ketika Yesus sedang diadili. Mereka tidak mau tahu apakah tuduhan para imam-imam kepala/orang-orang Farisi itu benar demikian, bahkan mereka tidak mau peduli ketika Pilatus mengatakan ‘Aku tidak menemukan kesalahan pada orang ini’ dan ketika Pilatus menawarkan untuk melunakkan orang-orang tersebut dengan memberikan pilihan apakah Yesus ataukah Barabas yang mereka pilih untuk bebas, mereka tetap bersikeras kalau Yesus harus disalibkan dan memilih Barabas sang penjahat itu untuk bebas.

Ya mereka lebih memilih kebengisan dari pada kedamaian, mereka lebih memilih kejahatan dari pada kebaikan. Mereka terus meneriakkan kalimat yang sama ‘Salibkan Dia, salibkan Dia’ bahkan mungkin mereka berteriak lebih keras setiap kali Pilatus mulai membujuk orang banyak untuk melepaskan Kristus.

Benarlah apa yang dinubuatkan oleh Yesaya bahwa Dia bagaikan anak domba kelu yang dibawa ke pembantaian, tidak dibiarkan membuka mulutnya dan terus dihujat, dicerca, diancam dan dimaki.

Tetapi yang jauh lebih pahit dan menyakitkan adalah sebuah kenyataan bahwa mereka yang berteriak-teriak tak terkontrol itu dan seperti ‘kesetanan’ itu adalah sebagian besar juga yang berseru-seru ‘Hosana hosana terpujilah Dia’ mereka bersahut-sahutan meneriakkan pujian sambil melambaikan daun-daun palma dan menghamparkan jubah menyambut Kristus ketika memasuki kota Yerusalem. Tetapi tak lama waktu berlalu mulut yang sama, orang yang sama, yang beberapa hari lalu meneriakkan puji-pujian bagi Kristus sekarang mereka berbalik 180 derajat memakim, menghujat, menghina Kristus bahkan menginginkan darahNya tertumpah bahkan lebih mengerikan lagi mereka menginginkan kematian dengan cara yang paling hina yaitu ‘DISALIBKAN’.

Kristus yang mereka elu-elukan sebagai Raja sekarang mereka tuntut untuk mati sebagai penjahat, Kristus yang mereka elu-elukan sebagai Mesias sekarang mereka sumpahi sebagai penyesat dan penghujat Allah. TanganNya yang dulu mereka rindukan untuk menjamah mereka dan memberikan kesembuhan sekarang mereka hendak pakukan di tiang salib

Betapa menyesakkan dan menggenaskannya situasi ketika itu, waktu terus berlalu, zaman berganti zaman, abad berganti abad akan tetapi kenangan akan peristiwa itu tetap bisa didapati bahkan ditemukan dalam masyarakat saat ini atau mungkin di dalam diri kita.

Hingga saat ini tak terbilang jumlahnya orang yang beranggapan Dia pantas memperoleh semua hukuman, celaan dan hujatan seperti itu. Dia memang pantas menerima itu semua.

Yesaya 53 : 3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.

Hingga saat ini dan entah sampai kapan berapa berapa banyak lagi orang yang menghindariNya karena mereka pikir Dia layak mendapatkannya. Sehingga mereka ikut-ikutan melakukan hal yang sama dengan orang banyak di Yerusalem di tahun silam.

Yesaya 53 :4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya , dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah .

Kenyataan yang sulit untuk diterima justru diperlihatkan dengan gamblang dalam peristiwa penyaliban Kristus, mengapa ? Karena justru orang-orang yang punya status rohaniawan baik itu ahli taurat maupun orang Farisi lah yang menjadi pelopor dan pengajur massa untuk menjatuhi hukuman mati kepada Yesus.

Seharusnya mereka peka dan mengerti bahwa Yesus tidak bersalah, akan tetapi seperti itu bukan saja dilakukan oleh mereka dimasa lalu, dimasa kinipun masih bisa dijumpai orang-orang yang tidak lebih dari ahli Taurat dan orang Farisi, demi ambisi pribadi, ambisi kolompok atau golongan mereka telah mencampakkan nilai-nilai kebenaran.

Seharusnya mereka membawa suasana damai jauh dari permusuhan, membimbing orang melakukan kebaikan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Seharusnya orang-orang yang ada disekitar rumah Allah adalah orang-orang yang membawa terang dan pengaruh baik bagi sekitarnya tetapi justru yang sebaliknyalah yang terjadi.

Pilatus menggunakan agama untuk kepentingan politiknya dan Ahli Taurat beserta orang Farisi menggunakan politik untuk kepentingan jubah agamanya.

Apakah kita sama dengan mereka ? Seolah-olah kita sedang melayani Kristus tetapi yang terjadi sesungguhnya kita melayani diri kita sendiri dan memperalat pelayanan untuk kepentingan pribadi atau jangan-jangan tanpa disadari sedang memperalat Tuhan untuk kepentingan diri.

Bahkan ada orang yang mengatakan percaya kepada Kristus tapi sesungguhnya sedang menista Dia. Saat mereka dengan pongahnya berkata bahwa mereka percaya dan memiliki hidup kekal tapi dalam kehidupannya tak perduli dengan segala perintah dan kemauan Tuhan. Tak peduli dengan kebenaran Firman Tuhan 'Yang penting saya percaya dan masuk sorga'

Kita sibuk dengan ibadah dan nyanyian-nyanyian yang sesungguhnya hanya untuk memuaskan emosi tanpa mau memahami dan mengenal pribadi yang empunya diri kita.

Biarlah ditengah hingar-bingarnya orang-orang merayakan/mengenang Kematian dan Kebangkitan Kristus dengan cara atau agenda masing-masing gereja maupun kelompok kita masih punya waktu untuk merayakan/mengenai Kematian dan Kebangkitan Kristus secara pribadi dalam arti sebenar-benarnya. Sehingga makna Kematian dan Kebangkitan Kristus yang benar tidak terlewatkan begitu saja.

“Dia mati bagi kita supaya kita hidup bagi Dia”

“Selamah PASKAH, Dia sudah bangkit kuburNya kosong supaya hati kita terisi”







Jumat, 01 Januari 2010

Tahun Baru 2010 (sebuah ungkapan hati)



Tulisan ini ditulis secara khusus ditulis untuk kel. besar Op. Sarmauli & orang-orang yangberminat untuk membacanya)


Dari kecil, kebiasaan itu sudah diperkenalkan. Saat semua kawan mengadakan acara tahun baru dengan pernak-perniknya saya dengan sangat terpaksa mengikuti acara keluarga. Duduk, menyanyi, berdoa hingga akhirnya tiba pada saat yang tidak mengenakkan. Satu persatu semua yang hadir diminta untuk menyampaikan isi hati, buat yang masih kecil mengucapkan selamat Tahun baru sudah dirasa cukup tapi yang sudah cukup besar dan beranjak remaja maupun dewasa kata-kata itu belum cukup.


Yach itulah suatu rutinitas yang biasa kami lakukan dan juga dilakukan oleh hampir semua orang batak pada malam tahun baru. Berkumpul bersama keluarga besar untuk saling mengkoreksi, menasehati dan mendoakan walau kadang kala saya merasakan acara tersebut kadang terasa berubah menjadi sebuah ajang menyalahkan, menyerang dan membanggakan pihak tertentu.


Waktu terus berlalu hingga saat ini tahun sudah berganti menjadi tahun 2010. Sesuai dengan bertambahnya usia dan status lajang menjadi berkeluarga, saya telah mengalami perubahaan pemikiran tentang pentingnya kebersamaan di malam tahun baru. Lebih penting dan bermakna dibandingkan dengan gemerlapnya acara tahun baru di hotel berbintang maupun sekedar bakar-bakar ikan ataupun aktifitas yang lain. Keluarga besar kami bertambah seiring dengan semakin banyaknya lae dan pariban yang berkeluarga sehingga masing-masing mempunyai acara tersendiri.


Kepergian mama ditahun 2009 cukup merubah situasi, biasanya mama menjadi pihak yang paling bersemangat, mengingatkan dan mengkordinir kami untuk bertahun baru bersama dan melakukan tradisi yang dahulu saya anggap kuno dan membosankan tetapi sekarang menjadi waktu-waktu yang sangat istimewa bisa betatap muka dengan orang-orang yang saya kasihi, saling menguatkan, menghibur dan mendoakan. Dahulu sungut-sungut, sekarang saya lebih mengerti arti air mata suka cita dan keharuan.


Adakah saya mengalami kemunduran karena memandang penting arti acara tahun baru model seperti itu ataukah saya mengalami kemajuan karena bisa menghargai kebersamaan dan nilai-nilai penting yang terkandung di dalamnya ?


Selama mama masih ada hampir tidak pernah kami melewati malam tahun baru tanpa kebersamaan. Saat ini saya bersyukur karena abang menjadi pengganti yang pas untuk memimpin acara tersebut. Tahun 2009 yang lalu sekalipun keluarga Festus tidak bisa bersama karena tinggal di Medan dan Ito sudah berkeluarga sehingga ber-tahun baru dengan keluarga besar lae, abang dan keluarga minus kakak sedang menjaga Tulang di Tebing yang sedang sakit, kami berkumpul bertahun baru di Serang Banten.


Tahun ini 2010, abang sekeluarga (Abang, kakak, Helga dan Niko) bertahun baru di Tebing Tinggi, kel Festus di Medan, kel Raphael di Pamulang dan kami di Serang. Sekalipun demikian saya sungguh bersyukur karena Lae, Ito dan Raphael (bere-ku) bermalam dan ber-Natal di tempat kami.


Hari itu 31 Desember 2009, saat pulang dari kantor saya mendapati terompet tahun baru yang pagi itu dibeli oleh istriku, “Buat dibunyiin nanti malam” sahutnya dengan antusias. Saya hanya terseyum mendengar ucapannya. Setelah mandi dan berkemas saya berangkat ke pabrik untuk mengikuti acara tahun baru (setelah meminta ijin untuk tidak bisa hadir di pertemuan pelayan gereja, tahun depan saya harus mengikutinya).


Tiba kembali dirumah suasana sepi terasa sekali tahun baru kali ini, tidak ada orang tua, tidak ada abang, adik, ito dan anak-anak/bere. Tapi saya memuji Tuhan karena ada seorang istri yang menemani dan penyertaan Tuhan yang nyata dan saya beryukur sekalipun istri saya bukan datang dari suku batak yang tidak terbiasa dengan tradisi 'kuno' tersebut.


Dia mengingatkan untuk berjaga sampai waktu menjelang pukul 00:00. Akhirnya sekalipun kami hanya berdua, lagu pujian. pengakuan dosa, ucapan syukur dan doa-doa tetap kami naikkan dan tentu saja tak terlewatkan ritual mandokk hata antar kami berdua tetap berjalan. Puji Tuhan.


Teringat acara sejenis dari tahun ke tahun yang pernah saya ikuti bersama dengan seluruh keluarga besar hingga saat ini hal itu sulit terwujud lagi, terucap di doa kiranya kami masing-masing tetap saling mengasihi dan tinggal di dalam kasihNya.


Selamat Tahun baru Abang Pa Helga, kakak Mama Helga, Helga, Niko, Pa Festus, Mama Festus, Festus, Lae Pa Raphael, Ito Mama Raphael, Raphael, Kel. Tulang Rempoa, Kel Tulang Lenteng, Kel Tulang Rinci, Kel. Tulang Boni, Lae dan pariban. Mudah-mudahan di tahun baru 2010 bukan hanya slogan di bibir bahwa kita memaafkan tapi juga di tindakan nyata. Lupakan segala ego dan harga diri biarlah kita menyadari kita tidak lebih dari orang lain dan kita juga orang yang penuh dengan kekurangan. Kita seperti sekarang ini hanya oleh karena kemurahan dan kebaikan Tuhan bukan karena kita mampu atau kita lebih baik dan lebih kita lebih dari yang lain.

Segala kemuliaan bagi Allah dalam Kristus Tuhan.


Selamat Natal 2009 & Tahun baru 2010

Jumat, 13 November 2009

Memberi dari kekurangan


Bulan Mei 2009, dalam sebuah pertemuan doa yang saya pimpin, diikuti oleh tidak lebih dari 8 orang saya dikejutkan dengan sebuah berkat yang Tuhan berikan melalui seseorang yang tidak saya duga sama sekali. Bapak tersebut memberikan kepada saya secarik uang kertas dalam nominal terbesar dalam mata uang rupiah.

Saya terperanjat dan berusaha menolak dengan halus, bagaimana mungkin saya tega menerima pemberian tersebut karena sepanjang sepengetahuan saya Bapak ini tidak terlalu berkelebihan. Dalam sebuah percakapan beliau pernah menceritakan bahwa untuk memberikan persembahan saja kadang dia harus bergumul dan berdoa supaya punya sejumlah uang untuk dimasukkan kedalam kantong kolekte.

Lha, justru hari itu dia menyodorkan uang tersebut kepada saya seraya berkata ‘Maaf pak bukannya saya kurang hormat memberikan uang ini kepada Bapak apalagi tanpa amplop, tapi saya tergerak untuk memberikannya kepada bapak setelah hari ini tanpa diduga saya memperoleh berkat dari Tuhan, ada seseorang yang berhutang kepada saya cukup lama hari ini membayar kepada saya’ begitu dia katakan kepada saya.

Saya mengenal bapak ini, dan saya percaya tidak ada maksud dia untuk tidak sopan dan menyombongkan diri dengan memberikan uang tersebut. Itulah sebabnya saya tidak sampai hati menolak pemberian yang tulus darinya. Saya tidak ingin mengecewakan dan membuat dia berkecil hati dengan menolak pemberian tersebut.

Terus terang keadaan keuangan saya memang pada waktu itu kurang baik, tapi bukan itu alasan saya menerima pemberiannya, tetapi kejujuran dan ketulusannyalah yang mendorong saya untuk menerimanya. Tetapi lebih dari itu, saya telah menerima sesuatu yang lebih besar jika dibandingkan dengan pemberian uang tersebut. Tuhan telah mengajar saya melalui bapak tersebut mengenai memberi dari kekurangan.

Sering sebuah perasaan berat dan tidak rela ketika disuatu kesempatan Allah mendesak saya untuk memberikan persembahan atau bantuan entah itu kepada perorangan, gereja atau sekelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan. Logika saya tidak sejalan dengan hati kecil saya, hati kecil ini terdorong untuk memberi tapi logika menolaknya dengan alasan logis ‘Saya aja masih kurang dan perlu bantuan, mana mungkin saya memberi bantuan kepada pihak lain, dan lagi kalau saya membantu apa yang saya akan beri tidak mempunyai dampak yang berarti’ Itulah perdebatan yang sering saya alami dan biasanya logika ini memenangkan perdebatan tersebut.

Tapi sungguh malam itu, hati dan pikiran saya tercekat dan terdiam malu. Saya belajar dan memohon pertolongan dari Tuhan untuk bisa juga mencontoh bapak ini berani memberi dari kekurangan untuk menolong dan mejadi saluran berkat bagi orang lain.

Puji Tuhan.
SHS

Minggu, 27 September 2009

Halooo Om… boleh kenalan ga ?


Pagi itu istri saya berangkat ke gereja terlebih dulu karena ada tugas di kebaktian pagi sedangkan saya akan ibadah di kebaktian dua. Sambil menunggu untuk berangkat saya mendapat tugas dari nyonya rumah untuk beres-beres termasuk untuk mencuci pakaian. Sekalipun saya seorang pria dan seorang suami mencuci dan menjemur pakaian di hari libur bukan perkara aneh, apalagi kesibukan istri di hari Minggu pastilah sangat banyak. Hitung-hitung variasi pekerjaan tidak apalah.

Nah, ketika sedang sendirian di rumah itulah tiba-tiba HP berdering dan dilayar tertera sebuah nomor XL yang tidak dikenal. Untuk menghargai si penelepon sayapun menjawab ‘Halo selamat pagi, ada yang bisa saya bantu’ dengan nada ramah. ‘Halo… selamat pagi, ini dimana ya? ‘ demikian jawaban seorang wanita muda yang saya duga dari suaranya. ‘Saya ada di Serang Banten ini dari siapa ya dan dari mana ?’ sahut saya cukup heran karena dia bukan menjawab pertanyaan saya tapi justru mengajukan pertanyaan. ‘Saya Ika om.. dari Indramayu, saya tahu dan pernah ke Serang’ begitu jawabnya, ‘Ika mau bicara dengan siapa dan ada perlu apa, kamu umur berapa?’ demikian saya menanggapi penjelasannya dan mengajukan pertanyaan itu karena dari suaranya terdengar manja merayu dan kira-kira baru di usia remaja. ‘Ika kelas 3 SMA om.. boleh kenalan ga om? Boleh kan?’. Deg, hati saya tertegun mendengar jawaban spontan dan terus terang maksudnya menelepon.

Bagaimana tidak terpana, di saat tidak ada istri mendapat telephone dari seorang remaja dengan suaranya yang manja bahkan dengan terang-terangan dia ingin mengajak berkenalan. Terlintas dalam pikiran saya untuk melanjutkan percakapan ini, toh cuma ngobrol iseng atau ingin sekedar menggoda, apa salahnya dia ada Indramayu dan saya ada di Serang, jarak yang jauh terbentang. Tetapi sekejap hati saya mengingatkan agar tidak meladeni percakapan ini dan harus segera mengakhirinya untuk tidak memberi peluang terhadap sesuatu yang lebih lanjut lagi. ‘Maaf ya kamu salah sambung saya tidak ada waktu untuk melanjutkan’ akhirnya demikian jawab saya sambil menjauhkan HP dari telinga dan samar-samar terdengar suara ‘Yach om… masa kenalan aja ga boleh sich om..’ dan HP pun saya matikan.

Kemudian saya berpikir dan merenung, seandainya saya terus melanjutkan percakapan ini entah apa yang terjadi, bisa saja akan terjadi percakapan-percakapan lain di kesempatan berikut yang tentu akan saya lakukan tanpa sepengetahuan istri dan bisa saja membuat saya menjadi penasaran dan akhirnya berlanjut dengan copy darat.

Saya mengucap syukur kepada Tuhan karena diberi keberanian untuk segera menghentikan percakapan tersebut, kemudian saya segera berkemas-kemas ke gereja dan selesai ibadah, dalam perjalanan pulang saya menceritakan peristiwa tersebut kepada nyonya. Seperti biasa, istri saya tetap mempercayai saya, inilah salah satunya yang membuat saya berhati-hati berhubungan dengan lawan jenis yaitu kepercayaannya, apalagi dalam keseharian di pekerjaan berkomunikasi dan berhubungan dengan wanita adalah pekerjaan sehari-hari, maklum di tempat saya bekerja 90 persen adalah pekerja wanita.

Saya teringat kepada kata-kata saya sendiri yang sering saya ucapkan kepada teman-teman ‘Kalau tidak ingin kena air jangan main air atau jika tidak ingin kena api ya jangan main api’. Godaan untuk iseng-iseng dan sekedar mencoba sesuatu yang baru sebagai sebuah variasi hidup dalam pernikahan selalu datang pada saat tiba-tiba dan tidak perlu diundang oleh karena itu waspadalah dan berjaga-jagalah.

SHS

Jumat, 11 September 2009

In Memoriam : Our Mother (Op. Helga) September 2008 - September 2009


Bagi wanita suku batak yang telah mempunyai anak akan mempunyai nama panggilan atau sebutan baru sesuai dengan nama anak pertamanya, demikian juga dengan mamaku tercinta. Ketika anak pertamanya lahir (kakak tertua kami), anak itu dinamai ‘Basaria’. Maka dengan sendirinya sebuatan mamaku berubah menjadi ‘Inang Basaria’ atau ‘Mama Basaria’. Nama panggilan atau nama sebutan itu tidak pernah berubah sampai kemudian dia mendapat cucu pertama. Ketika cucu pertamanya lahir nama panggilan atau sebutan mamaku berubah menjadi Opung Helga.

Panggilan Inang Basaria masih terus menjadi panggilannya hingga tahun 30 September 1995, padahal sejak tahun 1983 kakak pertama kami sudah meninggal. Ketika mama dipanggil pulang ke rumah Bapa di sorga saya mulai meyadari betapa mamaku ini termasuk wanita yang tegar dan tabah, bagaimana tidak selama dia hidup dia harus menghadapi kenyataan ditinggal pergi oleh 3 orang yang dikasihinya. Pertama dia ditinggal oleh anak pertamanya, tidak mudah bagi sesorang harus dipanggil selama kurang lebih 12 tahun menurut nama orang yang sudah meninggal, putri sulungnya yang menjadi kebanggaannya karena sebentar lagi akan mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang guru. Tentu setiap kali orang memanggilnya ‘Inang Basaria’ ingatan akan anak gadisnya yang telah meninggal akan terus dikenang, saya tidak tahu sampai kapan mama bisa menerima dengan lapang dada dan tidak terusik dengan panggilan itu.

Selang 1 tahun kemudian suaminya menyusul anak pertamanya, beban beratnya bukannya berkurang tapi justru bertambah, di kota Metropolitan Jakarta, tanpa bekal pendidikan yang memadai karena mama tak sampai lulus SD ditambah 5 orang anak yang masih sekolah. Saya belum mengerti banyak dan tentu belum bisa diajak tukar pikiran untuk membagi bebannya. Itulah sebabnya dia ‘bertarung’ dengan keras menghadapi kerasnya kehidupan di Jakarta. Tak jarang dia harus turun tangan langsung untuk menjaga sebuah kios kecil yakni sebuah bengkel tambal ban peninggalan almarhum ayah kami.

Setiap kali dia kehilangan orang yang dikasihinya (anak pertama, suami dan anak ke tiga) reaksi kesedihan yang ditunjukkannya pada saat itu agak berlebihan demikian menurut pendapat saya, kadang saya lelah dan agak kesal untuk menghibur dan mengingatkannya akan tetapi saya baru bisa menyadari dan mengerti arti kesedihan itu ketika saya kehilangan dia. Sekarang saya justru kagum dan bangga padanya yang bisa melewati kepedihan dan beban berat yang harus dialaminya.

Kehilangan seorang mama yang merangkap ayah bagi saya adalah sesuatu yang berat untuk dijalani. Kalau bukan karena kekuatan dari Tuhan dan dukungan dari orang-orang disekeliling saya tentu akan memerlukan waktu yang panjang untuk merelakannya. Tentu hal yang sama juga dialami oleh mama saya tercinta ketika dia kehilangan 3 orang yang dikasihinya.

Kami anak-anaknya diatur dengan tegas untuk tidak bersantai dan bermalas-malasan. Bukan hal yang aneh kalau setiap pagi terdengar teriakannya sambil sekali-kali memukul triplek tangga membangunkan kami yang tidur dilantai 2 untuk segera ke sekolah. Pada hari minggu itupun tetap dilakukannya ketika kami ingin merasakan bangun lebih siang dan santai sebentar mumpung libur.

Situasi menjadi lebih berat baginya karena kami anak-anaknya bersekolah di tempat yang banyak dihuni oleh siswa dari orang tua yang berada, hal ini cukup mempengaruhi mental kami, merasa minder. Tapi kami mengucap syukur karena mama dan ditambah dengan tulang-nantulang selalu membantu, mengingatkan dan menasehatkan agar kami ‘tahu diri’ dan mau berusaha lebih keras untuk membantu mama yang berjuang membesarkan kami.

Pernah suatu kali mama sangat marah kepada saya karena saya tidak mau pergi untuk menjaga bengkel dengan alasan mau pergi main dengan teman. Ketika itu dia sedang mencuci pakaian dan dalam marahnya dia melemparkan sikat baju kea rah saya ‘bumm..’, sikat itu tepat mengenai kening dan kaca mata yang saya kenakan patah menjadi dua. Saya kaget luar biasa disertai rasa malu kerena telah membantahnya, mama juga kaget dan segera menghampiri untuk meminta maaf dan mengelus kepala saya.

Ya, dia seorang ibu yang sangat menyanyangi anaknya banyak kenangan manis yang saya alami bersamanya. Pergi ke gereja selalu pada ibadah atau misa jam 6 pagi, dan menjadi kebahagiaan bagi saya setiap kali duduk bersebelahan untuk beribadah.

Setiap kali melewati pasar inpres Cipete selalu terkenang ketika menemaninya belanja, mencari karet gelang di pasar adalah kegiatan saya sambil menemaninya belanja sayur atau ikan dan membeli kue basah untuk oleh-oleh adalah waktu yang sangat saya nikmati. Kalaupun bukan giliran saya menemaninya ke pasar, entah itu adik atau abang maka saya akan menanti dengan tidak sabar kepulangannya membawa oleh-oleh kue basah dari pasar terutama ‘dadar gulung’.

Pernah satu kali saya diajaknya untuk dibelikan ikat pinggang di pasar Blok A. “Bang berapa ikat pinggangnya ? “ demikian tanyanya kepada penjual ikat pinggang. Terjadilah tawar menawar, rupaya harga yang diminta mama terlalu murah hingga ketika kami pergi penjualnya berteriak memanggil kami sambil berkata ‘Bu… ini ikat pinggangnya gratis saja’ kami tertawa sambil meninggalkan penjual itu.

Pernah juga ketika kami makan bakso di Blok M, kami tertawa karena harus ngebut makan bakso supaya ketika tukang ngamen pindah ke meja kami bakso selesai di santap. Banyak sekali kenangan manis yang kami alami bersama. Tak heran setiap kali saya bertemu mama kami betah berjam-jam untuk berbincang-bincang atau ‘marnonang’ sampai jauh malam. Itulah sebabnya menjelang kepulangannya ke rumah Bapa di sorga, selama saya menemaninya di rumah sakit kami banyak bercakap-cakap. Saya mengucap syukur kepada Tuhan, sekalipun istri saya bukan suku batak tapi mereka bisa betah ngobrol bahkan bisa berjam-jam.

Saya percaya ada banyak pergumulannya yang tidak bisa dia ceritakan kepada kami anak-anaknya yang dia bawa kepada Tuhan dalam doanya. Lagu ‘Di doa ibuku namaku disebut’ bukan sekedar sebuah lagu tanpa makna tapi itu sungguh dilakukannya. Banyak hal berat hal yang dialami, 3 orang yang dikasihinya meninggal, kebakaran yang dialami bengkelnya, kecelakaan yang dialami suaminya, kecelakaan yang dialami anak laki-laki pertamanya, suaminya pernah dipenjara sebagai penanggung jawab bengkel yang terbakar, anak laki-laki ke dua masuk penjara karena bandel (Puji Tuhan diakhir hidupnya mamalah yang merawatnya, hingga meninggal dalam perawatannya dia sadar dan bertobat), anak laki-laki terakhirnya pernah dipenjara karena perkelahian pelajar (kemudian dilepaskan karena tidak terlibat).

Suatu kali adik laki-laki saya pulang dari test penerimaan karyawan Merpati menghampiri mama dan berkata sambil menangis ‘Ma, siapin uang dong ma untuk Mangihut’, mama pun bertanya “Untuk apa amang, dari mana mama punya uang”. “Besok pengumuman diterima apa engga saya di Merpati, kata orang kalau ga punya duit gak mungkin diterima” sahutnya lagi. Kamipun terdiam dan pasrah, besoknya dia pulang dengan berita gembira kalau dia diterima sekalipun tidak menyediakan sepeserpun uang, saya melihat wajah mama, terlihat jelas disana rona kebahagiaan dan kebanggaan.

Saya bersyukur, diakhir hidupnya kami bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan kebanggaan kepadanya sekalipun tidak akan pernah sebanding dengan apa yang telah dia berikan kepada kami. Saat berlibur bersama di pinggir Danau Toba daerah Tongging dan sekitarnya adalah saat-saat yang tak terlupakan, melihat mama, kami, dan cucu-cucunya bersenda gurau.

Saya bersyukur sebelum dia kembali kepada Bapa di sorga kami semua anak-anaknya telah berumah tangga, terlebih ketika ‘Rosmina’ anak perempuan bungsunya menikah sehingga dia punya menantu lak-laki atau ‘Hela’ dalam bahasa batak.

Sebelum dia pulang kerumah Bapa, dia sempat juga berkeliling dengan abang, tulang-nantulang ke Sibolga dengan mengendarai mobil Pa Festus. “Biasanya mama yang numpang di mobil tulang-nantulang tapi sekali ini merekalah yang numpang sama mama” demikian Pa Festus berseloroh.

Kami berterima kasih kepada semua yang telah menemani, membantu dan menerima mama kami apa adanya khususnya kepada keluarga besar Op. Sarmauli terlebih Tulang dan Nantulang, tanpa mengurangi rasa hormat kami tidak bisa menyebut semua pihak karena terlalu banyak pihak yang tidak dapat disebut satu persatu.

Kami beryukur untuk banyak hal yang tidak bisa diuraikan satu-persatu di sini. Kami bersyukur kepada Allah Bapa, Tuhan Yesus dan kepada Roh Kudus ketiga yang Esa yang telah memberikan mama yang istimewa kepada kami dan memberikan bimbingan, kekuatan dan penghiburan kepadanya terlebih telah meyelamatkannya dan menyediakan rumah di sorga mulia dimana kami akan bersama-sama lagi untuk selamaya.

September 2009
SHS

Jumat, 28 Agustus 2009

PD Yeremia 22 Agustus 2009


PD Yeremia 22 Agustus 2009 di rumah Lucy Bungawan

Jam 15.15 saya dan istri melaju meninggalkan kota Serang lewat pintu tol serang barat untuk hadir dalam acara persekutuan doa dengan beberapa saudara seiman di rumah Lucy Bungawan daerah Cipete Cilandak.

Entah sampai kapan jalan tol Jakarta-Merak selesai diperbaiki, mungkin ini dilakukan untuk mengejar waktu mengingatkan rencana kenaikan tariff tol pada bulan September 2009. Memasuki daerah Balaraja perbaikan jalan semakin panjang lagi dan ini membuat laju kendaraan semakin lambat bahkan macet, karena jalur yang ada semakin berkurang menjadi satu jalur akibat ada 2 mobil truk tronton yang mengalami masalah. Jadilah kami harus bersabar ditengah kemacetan menjelang pintu tol cikupa.

Saya kurang suka untuk datang terlambat, tetapi saat itu tidak bisa berkata lain kecuali menerima kenyataan bahwa jalan tol betul-betul menjengkelkan. Menurut saya pelayanan jalan tol Jakarta-Merak masih jauh dari memuaskan.

Akhirnya sekitar jam 16.10 kami tiba juga di pintu tol cikupa, setelah itu baru jalan sangat lengang sehingga dapat melaju lebih cepat hingga keluar di pintu Kebun Nanas. Terus melaju dengan cepat ke arah tol Serpong dan sambil bercerita tentang tempat-tempat yang kami lalui akhirnya kami tiba di rumah Lucy sekitar jam 17.00 lebih 10 menit.

Ferry, Riana, Andre, Nathan (anaknya Andre), Diana (ada didalam) sudah hadir dan tentu saja Lucy sebagai tuan rumah. Saya tidak melihat tikar atau karpet yang di gelar ditempat itu tetapi justru kursi-kursi yang telah ditata rapi, padahal sebelum acara ini Lucy sudah ‘woro-woro’ untuk membawa tikar ataupun karpet dari rumah masing-masing. “Gak perlu tikarnya sebab jumlah hadir tidak terlalu banyak jadi pakai kursi aja’ demikian katanya.

Sebenarnya perut sudah memperlihatkan tanda-tanda pemberontakan karena lapar, tetapi karena kami pikir waktu sudah tidak bisa dikompromikan akhirnya kami berdua membatalkan rencana untuk makan di rumah makan. Kalau saja kami tahu bahwa masih banyak yang belum datang tentu kami tidak perlu harus makan malam di jam 21.30 di dekat Superindo Pamulang. Tetapi tidak apa-apa dirumah Lucy kami bisa mengganjal perut kami dengan kue dan risol buatan tante Bungawan.

Setelah beberapa waktu datanglah Yudi, disusul oma Ellen kemudian Atta juga datang, waktu Atta datang yang dicari pertama kali adalah sang suami Yudi. ‘Bukannya nyari tuan rumah atau yang lain masih aja suami dulu yang pertama di cari’ demikian canda kami.

Menanti kawan-kawan yang lain kami berbincang-bincang, karena waktu terus berjalan menuju waktu buka puasa, Ferry pun berkata ‘Nanti kalau ada yang datang kita langsung serempak nyanyi Bapa terima kasih, supaya mereka pikir sudah selesai kebaktian’ dan kami pun tertawa menyetujui.
Tetapi rencana itu kami batalkan karena yang datang kemudian adalah Yonan, istri dan kedua anaknya. ‘Ngak usah, ngak enak dibecandain masalahnya Yonan datang sekeluarga masa dibecandain’ demikian kata Ferry. Setelah itu datanglah penjaja villa dipuncak yang kami sewa untuk memainkan gitar yaitu Bambang Samuel. Dia datang dengan seragam khas penjaja villa minus senter.

Kebaktian

Semula Ferry yang akan memimpin ibadah sebagai MC tapi dia mengalihkan tugas itu kepada saya, ternyata pemain musik kita tidak terlalu mengikuti perkembangan musik yang banyak dinyanyikan di gereja-gereja Bethel-Pantekosta, sehingga harus menyesuaikan diri terlebih dahulu, tapi berkat kepiawaiannya tidak diperlukan waktu lama sehingga kebaktian bisa segera dimulai.

Lagu pujian dinaikkan, suka cita terpancar di wajah setiap kami dan sungguh Allah hadir di tengah-tengah kami. Satu lagu yang berkesan pada waktu saya pertama kali bergabung dengan PD Yeremia sekitar tahun 1985 adalah ‘Ku tahu Roh Allah ada disini’ menjadi lagu yang tak dilewatkan untuk dinyanyikan. Setelah menaikkan beberapa lagu pujian tiba saatnya Firman Tuhan diperdengarkan melalui hambaNya Pdt. Andre Koetin.

Bapak pendeta ini membacakan ayat dari Lukas 2 :52 “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dab besar-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia”.

Intinya sebagai berikut : Setelah beberapa lamanya kita tidak bertemu lagi tentu ada banyak perubahan pada tiap kita masing-masing. Usia bertambah, jumlah keluarga bertambah, berat badan bertambah atau mungkin deposito dan harta bertambah. Tetapi adalah hal yang lebih penting bagi kita semua anak-anak Tuhan untuk bertambah hikmat di dalam Tuhan, bertambah bijaksana, bertambah mencintai Firman Tuhan, bertambah waktu dalam berdoa dan bertambah peran dalam pelayanan.

Adakah hal itu menjadi sebuah perwujudan nyata sebagaimana Kristus yang bukan saja bertambah besar dalam fisik akan tetapi bertambah hikmat dalam Allah dan bertambah besar di dalam Tuhan. Sebagaimana lagu lama yang berbunyi ‘Dia harus semakin bertambah ku harus semakin berkurang….’

Bagaimana dengan waktu teduh kita ? sebagai bentuk nyata kerendahan hati kita dihadapan Allah kita akan selalu mencari wajah Tuhan dan kehendakNya setiap hari lewat doa dan Firman Tuhan, karena kita menyadari tanpa Dia kita tidak bisa apa-apa.

Bapak pendeta ini juga mengatakan bahwa kerinduan dia untuk lebih banyak lagi memperkenalkan Kristus kepada orang lain terdorong oleh amanat agung Tuhan Yesus. Waktu kita masih sama-sama bernaung di dalam PD Yeremia kita selalu punya pandangan ‘Jangan seorangpun memandang kita rendah karena kita muda, tetapi jadilah teladan bagi orang-orang percaya’. Kalau dulu waktu kita muda saja kita harus jadi teladan apalagi sekarang kita sudah bertambah usia, bertambah tua tentu keteladanan kita harus semakin berbobot. Jadi mari semua saudara-saudara dalam Tuhan seiring bertambahnya usia kita bertambah juga iman kita dalam Tuhan. Amin.

Acara dilanjutkan dengan sharing masing-masing pelayanan, di mulai dari saya sendiri. Saya megutarakan permintaan maaf kalau saya berperan besar dalam bubarnya PD Yeremia karena di masa kepengurusan sayalah PD Yeremia fakum dan bubar. Hal ini saya akui karena keteledoran dan keegoisan pribadi, kenyataan ini sempat menjadi penyebab keragu-raguan untuk mengkoordinir sebuah persekutuan pekerja di pabrik dimana saya bekerja sejak April 1995 di Serang yang mempunyai pekerja kurang lebih 40.000 dengan kira-kira 1000 pekerja beragama Kristen. Selain itu oleh karena anugerahNya saat ini juga terlibat pelayanan di GBI Eliezar Serang sebagai komisi pemuridan.

Ferry Simanjuntak, siapa yang tidak kenal pria ini, semua yang pernah mengenal PD Yeremia pasti mengenal dia, karena dia adalah sesepuh generasi ke generasi. Sesuai dengan latar belakang dan dunianya, saat ini dia tetap berkecimpung di dunia pendidikan Kristen salah satunya di STT IMAN jl. Wijaya dekat GSRI. Selain itu diapun aktif pelayanan di PGI propinsi DKI Jakarta, jadi kalau ada gereja di DKI yang akan mendirikan gedung gereja dia akan ikut sibuk membantu proses perijinannya.

Sebenarnya dia sudah diminta untuk menjadi Pendeta tetapi berhubung masih aktif di politik di belum bisa menyanggupinya. Mengenai politik, jangan apriori dulu, menurutnya politik adalah salah satu alat perjuangan. Di DPR kita bisa memperjuangkan rencanca anggaran dan rencana UU bagi kepentingan gereja. Ferry mengucap syukur sekalipun dia berasal dari sinode dan gereja yang tidak begitu besar tapi Tuhan memepercayakan dirinya untuk berkontribusi di PGI DKI.

Andre Kotien akhirnya terpanggil untuk menjadi pendeta sekalipun tidak mudah baginya untuk menjawab panggilan itu, sebelumnya dia merintis persekutuan di rumahnya dibantu oleh teman hidupnya di Pondok Pucung, ada persekutuan ibu-ibu, persekutuan remaja. Pelayanan-pelayanan yang Tuhan percayakan kepadanya semakin menambah kerinduannya untuk lebih banyak lagi menjangkau jiwa-jiwa terutama yang ada di luar tembok gereja. Di samping itu keterlibatannya dalam pelayanan antar wilayah dan budaya seperti Timika mengharuskan dirinya untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di sebuah perusahaan sekuler. Sebuah gereja yang hampir 7 bulan ditinggal oleh gembalanya karena aktif didunia politik membutuhkan dia di gembalakan.

Lucy Bungawan, kefakuman PD Yeremia tidak melarutkan dia dalam kefakuman melayani. Kembali ke GKI panglima Polim di mana dia berjemaat adalah kerinduannya untuk memuliakan Tuhan Yesus. Ada banyak karya yang dilakukan untuk Tuhan salah satunya adalah mengadakan KKR yang hampir mustahil di adakan di GKI Panglima Polim, tapi berkat bantuan rekan-rekan yang memiliki kerinduan sama dan tentunya oleh pertolongan Dia yang empunya pelayanan maka KKR tersebut bisa diadakan dengan dana awal 250ribu dan tanpa minta sumbangan kiri-kanan Tuhan mencukupkan dengan limpahnya.

Atta, melayani di GPIB Sumber Kasih dan sangat bersyukur dengan banyak pengajaran dan pembinaan di PD Yeremia yang menjadi bekal untuk melayani lebih lanjut. Saat ini dia terlibat aktif khususnya di pelayanan keluar untuk diakonia.

Mercy Mandagie, yang termuda dari seluruh ex PD Yeremia yang hadir tetap antusias dalam melayani di GPIB Sumber Kasih dan mempunyai harapan yang besar agar kita semua tidak berhenti sampai disini saja untuk menghangatkan persekutuan tetapi terus kontak dan saling mendukung.

Mengingat waktu yang tidak memungkinkan untuk memberi kesempatan kepada semua yang hadir maka di kesempatan berikutnya sharing dan kesesaksian akan dilanjutkan oleh yang lainnya. Mudah-mudahan ex PD Yeremia lebih banyak yang hadir dan kita bisa saling menopang dalam dunia pelayanan kita masing-masing.

Waktu hampir menunjukkan pukul 9 malam ketika tiba acara berfoto bersama dan satu persatu meninggalkan rumah Lucy. Ketika kami pulang Ferry, Ronal, Mercy, Diana, Riana, Yudi dan Atta serta Lucy tentunya masih tinggal untuk diskusi rencana pertemuan berikutnya terutama membahas usulan Ferry untuk merayakan ulang tahun Yeremia 4 Oktober 2009.

Sampai jumpa saudara-saudara seiman, Tuhan Yesus memberkati kita semua, setialah seperti Tuhan Yesus setia.

SHS
GBU