Senin, 17 September 2012

Sang Musafir


The Pilgrim's Progress adalah sebuah tulisan yang dihasilkan di dalam sebuah penjara. Jhon Bunyan adalah seorang penginjil dalam sejarah gereja Inggris yang terus memberitakan Injil yang murni dengan penuh keberanian. Atas sikapnya yang berani dan tidak mau kompromi dengan filsafat dunia dan ajaran dunia beserta kenikmatannya dia harus mengalami dinginnya penjara. Atas perintah raja Inggris waktu itu dia dijebloskan ke dalam penjara.

Tetapi itu tidaklah membuat kasih dan semangatnya dalam melayani Raja segala raja menjadi kendor, sekalipun geraknya dibatasi, mulutnya tidak bisa menyampaikan kabar berita baik kepada orang banyak dia tidak merasa dibatasi untuk menyampaikan kabar baik itu. Hal tersebut terbukti dengan tulisan Pilgrim's Progress yang dibuatnya dalam penjara yang telah menjadi berkat dan pengajaran penting tentang ke Kristenan.

Jhon Bunyan telah dipanggil pulang oleh pencipta dan penebusnya akan tetapi tulisannya masih terus menjadi berkat bagi banyak orang termasuk sampai kepada saya pribadi yang hidup puluhan tahun setelah dia meninggal.

Cerita yang ditulis dalan bukunya ini adalah kisah perjalanan seorang musafir yang menjadi Kristen, pada awalnya dia dilanda rasa kegelisahan dan ketakutan akan ancaman kebinasaan yang akan diterima olehnya dan seluruh penduduk desanya.

Kesan saya tentang sang musafir di awal cerita adalah : Musafir sepertinya adalah seorang yang sangat egois, dia tidak memperdulikan orang lain, dia hanya memikirkan dirinya sendiri hal ini dapat dilihat ketika dia sepertinya tidak perduli lagi kepada keluarganya. Musafir tetap pergi dari rumahnya meninggalkan keluarga, istri dan anak-anaknya. Dia tidak memperdulikan teriakan istri dan anak-anaknya yang memohon dengan sangat agar dia tidak pergi. Seluruh penduduk kampung berusaha mencegah dia untuk pergi akan tetapi sepertinya dia tidak lagi perduli akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Dia hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri dan tidak perduli dengan keluarganya.

Apa yang menyebabkan dia bertindak seperti itu ? Dia merasa jiwanya terancam, seluruh kampung terancam termasuk keluarganya. Dia ingin menyembunyikan ancaman itu tetapi dia tidak dapat, akhirnya dia memberitahu kepada istri dan anak-anaknya bahwa mereka terancam akan binasa oleh hukuman dan malapetaka, seluruh kampung terancam dan mengajak mereka untuk pergi meninggalkan kampung tersebut. Tetapi apa jawab istri dan anak-anaknya ? Mereka menganggap Musafir sedang tidak sehat, depresi dan kacau, bila dibawa tidur maka dia akan baik-baik lagi.

Bagi istri dan anak-anaknya apa yang dirasakan oleh musafir hanyalah sebagai perasaan konyol. Mereka baik-baik saja, sejahtera. Penduduk kampung yang lain juga tidak melihat ada sesuatu yang salah dan mengancam mereka. Sehingga tidak ada satu alasanpun yang bisa mendorong mereka untuk pergi meninggalkan segala kenyamanan dan kesontasaan dikampung itu.

Kisah ini menggambarkan perjalanan hidup sang musafir secara rohani. Ketika musafir memutuskan pergi meninggalkan seluruh desa dan keluarganya tentu bukan bermaksud meninggalkan dalam arti sempit yaitu meninggalkan kewajibannya dalam tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, pencari nafkah atau sebagai seorang suami dan ayah.

Ketika dia memutuskan pergi dan meninggalkan semuanya itu berarti dia pergi dan meninggalkan segala kesenangan dan nilai dunia untuk mendapatkan sesuatu yang sangat bernilai. Saking bernilainya tujuan yang dia sedang tuju maka tidak ada satu kenikmatan dan nilai apapun juga yang sanggung menahan dia untuk tidak pergi keluar dari kampung itu  dan meninggalkan semua termasuk keluarganya.

Saya teringat akan kata-kata Kristus 'Jika ada orang hendak mengikutKu tetapi tidak membenci ayahnya, ibunya atau apapun saja maka dia tidak layak bagiKu' Hal tersebut sangat jelas tergambar dalam ekspresi dan dialog musafir yang berkali-kali menekankan kemuliaan yang kelak akan dia peroleh tidak sebanding dengan kemuliaan apapun juga yang ada didunia ini. Tersirat apa yang dikatakan oleh Paulus 'Segala sesuatu ku anggap sampah jika dibandingkan dengan kemuliaan Kristus'.

Di dalam cerita selanjutnya digambarkan oleh Jhon Bunyan perjalanan sang musafir tidaklah mudah tetapi banyak kesulitan dan penderitaan 'Siapa yang tidak memikul salib dan menyangkal diri, dia tidak layak bagiKu' demikian Kristus berkata. Dalam perjanalan sang musafir dia juga mengalami kegagalan, kesombongan, malas dan tidak waspada. Ada banyak tempat yang diibaratkan dengan keadaan dunia, diantaranya rawa patah semangat, jalan mendaki, jalan menurun. jalan lebar, jalan sesak dan sempit. Ada juga penggambaran tentang singa yang mengaum-ngaum, pertempuran melawan iblis. Selain itu ada juga tokoh penginjil, juru tolong, si penurut, si degil, si budak hukum, tuan hikmat duniawi dan lain-lain.

Saya bersyukur setelah lama mencari buku ini, akhirnya daftar buku pribadi saya bertambah. Buku ini sangat baik untuk dibaca, tentu dalam terang Firman Tuhan. Kalau tidak kita akan gagal dalam menemukan makna dan berkatnya sebagaimana diawal saya katakan tentang sang musafir yang seolah-olah egois dan tidak bertanggung jawab. Untuk mendapatkan berkat lebih banyak lagi silahkan membaca buku ini, ada banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kalau anda ingin mendapatkannya tapi tidak tahu dimana dengan senang hati saya akan membantu. Tuhan memberkati.


Kamis, 07 Juni 2012

Masa yang penuh kemudahan

Sekarang zaman yang penuh dengan kemudahan, dulu kalau kita ingin membuat kopi maka kita harus memanaskan air hingga benar-benar panas(mendidih) setelah itu baru kita masukkan kopi bubuk sekarang cukup air hangat masukkan kopi instant aduk sebentar dan beres… tersedia dan siap diminum.


Saya masih ingat waktu masih kecil kalau ingin membuat photo maka kita hanya bisa menunggu tukang photo keliling tiba di kampung (jaman dulu walaupun di Jakarta daerah saya tetap di bilang kampung) setelah sesi pemotretan hasilnya ga bisa langsung dilihat tunggu beberapa hari lagi kalau tukang photo kelilingnya datang baru bisa dilihat.

Dari bangun pagi sudah ga sabaran nunggu tukang photo datang, waktu datang langsung ga sabaran mau ngelihat tak ketinggalan tetangga yang lain juga mau ikutan lihat. Sekarang wah…. udah ga jaman yang kayak gituan, pakai photo digital ga perlu nunggu seminggu untuk lihat hasilnya, malah kalau hasilnya kurang bagus bisa di hapus dan berphose lagi.

Itulah sebabnya kadang-kadang saya merasa kasihan sama tukang photo di obyek wisata karena hampir semua orang yang datang kesitu sudah pegang tustel sendiri-sendiri, bawa handycam apalagi sekarang handphone aja sudah ada fasilitas photo. Sesekali saya bersedia di potret oleh mereka walaupun saya percaya mereka berjuang untuk tidak dikasihani.

Kalau mau makan sudah ga kehitung banyaknya yang serba instan, saya masih ngerasain nimba air, mompa air (pakai pompa kodok) tapi sekarang tinggal tekan stop kontak air mengalir. Kalau hari sudah mulai malam siap-siap mompa petromax. Nyuci baju udah ada mesin cuci nonton tv denger musik cukup duduk ditempat ga perlu bolak-balik ganti channel atau balikin kaset cukup tekan remote control. Kalau perlu semua peralatan tinggal pencet tombol aja.

Sekarang semua serba listrik, ampun dech kalau pln sering mati serasa semuanya macet. ga berjalan normal, sebentar aja listrik mati ampun mana tahan apalagi kalau 1 hari 2 hari…. Semaput rasanya.

Sebenernya ga perlu di anjurin pemerintahan saya juga sudah berhemat listrik karena harus disesuaikan dengan kondisi kantong tapi bagaimana mana dong dengan lampu-lampu reklame yang terangnya gila-gilaan apa ga lebih baik dimatiin kalau udah jam 12 malam belum lagi reklame yang pakai layar raksasa (TV), terus lampu merah juga kan bisa dimatiin untuk hemat listrik.

Sebenarnya saya nulis ini bukan untuk ngomongin hemat listrik tapi ya itu tadi tentang kemudahan-kemudahan yang ada di jaman sekarang. Tapi percaya ga sekalipun semuanya serba mudah tidak berarti kualitas hidup semakin baik. Memang sebagian besar iklan menawarkan kehidupan yang berkualitas, tapi berkualitas yang bagaimana ?

Iklan-iklan menawarkan berbagai tawaran dengan mengatakan kalau pakai mobil tertentu hidup semakin berkualitas, tinggal di apartement/perumahan tertentu hidup akan semakin berkualitas, makan di tempat tertentu, cara pembayaran dengan cara tertentu dan masih banyak tawaran yang menawarkan kualitas. 'Apakah dengan semua fasilitas yang kita miliki menandakan hidup kita sudah berkualitas ?'

Kita bisa lihat dan rasakan hidup sesungguhnya berat bahkan sangat berat. Tidak selamanya orang yang kaya itu berbahagia malah ada ada orang kaya yang menderita karena kekayaannya.

Kalau kita mau sadari sesungguhnya kemudahan-kemudahan yang ada sekarang seharusnya membuat kita menjadi hemat waktu (mempunyai waktu yang lebih untuk hal-hal penting lain) sebagai contoh seharusnya kita bisa menggunakan waktu kita untuk belajar, berkomunikasi dengan keluarga dan terlebih lagi berkomunikasi dengan Tuhan khususnya melalui saat teduh pribadi. Tetapi pada kenyataannya kita selalu kekurangan waktu atau tepatnya tidak punya waktu untuk berkomunikasi atau duduk tenang bersama dengan Tuhan. Jadi akhirnya yang perlu kita sadari sebenarnya bukan masalah ada waktu atau tidak waktu akan tetapi masalah kebutuhan dan prioritas. Apakah Tuhan itu prioritas terutama dan terpenting atau prioritas ke sekian ?

Kalau kita menyadari bahwa kita ini bukan siapa-siapa dan kita tak dapat berjalan sendiri tentu kita sadar bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa diluar Dia dan tanpa Dia maka saya percaya DIA adalah prioritas tertinggi di dalam hidup kita.

Seringkali saya mendapati Dia tidak menjadi prioritas, ketika bangun pagi hari tidak segera mengambil keputusan untuk duduk diam bersaat teduh dengan Dia. Saya merasa malu dengan beberapa kawan yang tidak seiman selalu memprioritaskan menghadap Tuhannya sebelum mereka menjalankan seluruh aktifitas kehidupan mereka.

Rumah orang tua saya tepat berhadap-hadapan dengan surau (mushola), waktu kecil saya juga tumbuh di rumah yang tidak jauh dari surau, saya sering memperhatikan pagi-pagi buta mereka dengan tekun sudah memulai aktifikasnya bersama dengan Tuhan mereka.

Adakah saya, adakah kita orang percaya juga bisa menempatkan DIA diatas segala-galanya bukankah DIA meminta kita untuk mengasihiNya dengan segenap hati dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita. Dengan kata lain seluruh hidup kita seharusnya berpusat kepada DIA.

Malu saya untuk mengakui bahwa sepanjang kehidupan Kristen saya sejak saya bertemu dengan DIA secara pribadi pada awal Juli tahun 1985 hanya beberapa waktu terakhir saja saya berusaha untuk setia pada jam-jam saat teduh, ah kalau saja saya boleh mengulang waktu-waktu yang telah lampau ingin rasanya melewati hari-hari tersebut dengan memulainya bersama dengan Tuhan.

Tidak tahukan kita bahwa DIA selalu sabar menanti kita untuk menemuinya di dalam doa kala pagi hari ataupun waktu yang lain dan dengan sabar Dia menanti kita untuk mencurahkan isi hati kita kepadaNya ketimbang kita mencurahkan isi hati kita kepada teman-teman atau orang-orang yang kadang cuma bisa mengatakan ‘saya doakan’ akan tetapi kemudian dilupakan karena kesibukannya masing-masing. Ketika kita hendak istirahat DIA pun rindu untuk mendengar celotehan kita?

Kita sering berjanji kepada Tuhan dan tak terhitung janji kita tapi kita sering mendapati belum lama janji kita diucapkan sebentar kemudian kita sedang mendapati janji tersebut sedang dilanggar. Mari berjanjilah setia kepada Tuhan pada hal sederhana yang tak tampak oleh orang lain yaitu saat teduh maka percayalah kita akan mendapati hidup dalam pengiringan akan Tuhan akan semakin indah dan bermakna.

In Christ
Sampe Manullang

Senin, 05 Maret 2012

Penjahat yang tersalib


Satu waktu saya mendengarkan sebuah khotbah yang menyinggung salah seorang penjahat yang tersalib bersama dengan Tuhan Yesus Dalam khotbahnya beliau mengatakan kalau seandainya di sorga ada aula/bangsal mungkin penjahat yang bertobat itu akan ditempatkan disana dasarnya adalah karena dia setelah bertobat tidak berbuat apapun buat Tuhan Yesus atau tidak memberikan sumbangsih buat kerajaan Allah, begitu kira-kira yang saya tangkap. Berikut renungan paskah saya ditahun 2012 berkisar tentang penjahat yang bertobat tersebut.

Di suatu bukit yang panas dimana matahari memancarkan sinar teriknya dan debu yang bertebaran, di suatu bukit yang sulit untuk didaki tampaklah orang banyak berkerumun, hampir sebagian besar dari mereka menampilkan wajah yang penuh dengan kemarahan dan kebencian. Beberapa dari antara mereka mengenakan jubah-jubah kebesaran yang menandakan kalau mereka bukan dari kalangan biasa, beberapa adalah para tentara yang terdiri dari perwira dan prajurit, dan sebagian besar lagi adalah orang biasa.

Tetapi mereka mempunyai satu kesamaan yaitu diliputi oleh kemarahan dan kebencian yang memuncak, siapakah mereka, dari mana mereka berasal dan mengapa mereka demikian marah dan benci ? Siapakah yang menjadi sasaran kemarahan dan kebencian mereka ?

Imam Yahudi atau para ahli Taurat dan orang Farisi sebenarnya adalah dua kelompok yang punya hubungan tidak harmonis akan tetapi kemudian mereka bersatu untuk melawan dan menghukum Tuhan Yesus yang mereka anggap mengancam posisi mereka, sekalipun mereka tidak menemukan kesalahan pada Tuhan Yesus tetapi mereka kemudian menghasut rakyat dan mendesak pimpinan poltik ketika itu Ponsius Pilatus untuk menjatuhi hukuman mati kepada Tuhan Yesus.

Ponsius Pilatus tidak menemukan kesalahan dan alasan untuk menjatuhi hukuman akan tetapi karena dia takut akan terjadi pemberontakan dan diadukan kepada kaisar bahwa ia ingin melawan kaisar maka dia mengabulkan keinginan orang banyak untuk menjatuhi hukuman mati dengan menggunakan kekuatan politik dan militer yang ia punya. Ia tidak mau dianggap melawan kaisar sehingga posisinya bisa digeser atau mungkin disinggkirkan oleh kaisar.

Para kaum rohaniwan ketika itu menggunakan kuasa agama untuk menyingkirkan Tuhan Yesus, Ponsius Pilatus menggunakan kuasa politik dan militer untuk menyelamatkan dirinya dan menghukum Tuhan Yesus sementara orang banyak berhasil di hasut dan diprovokasi bahwa Tuhan Yesus adalah penipu masyarakat yang memberi harapan kosong bahkan penyesat dan penghujat Allah ketika mengatakan diriNya adalah Anak Allah yang dalam pemahaman Yahudi itu mempersamakan diri dengan Allah.

Orang banyak merasa tertipu oleh Tuhan Yesus semula mereka berpikir Dia lah raja yang dinanti nantikan Dia lah pahlawan yang dirunggu tunggu untuk membebaskan Isarel dari penjajahan Romawi. Semula mereka menyanjung-nyanjung akan tetapi sekarang mereka berbalik dan memusuhi Tuhan Yesus dan menginginkan kematianNya.

Mulai dari dini hari mereka hingga siang hari mereka turun kejalan keluar dari rumah mereka masing-masing berkumpul di depan kediaman Ponsius Pilatus dibawah pimpinan ahli-ahli agama melakukan demonstrasi besar-besar menuntut agar Ponsius Pilatus menjatuhi hukuman mati kepada musuh nomor satu dan musuh bersama yaitu Tuhan Yesus.

Jika anda anda pernah berada ditengah-tengah demontrasi besar-besaran seperti ini anda akan mengerti situasi yang terjadi. Suasana begitu riuh, makian, umpatan, hujatan, sumpah serapah bersahut-sahutan, setiap kali pemimpin melakukan orasi dan meneriakkan yel-yel maka akan terjadi suasana seperti sebuah paduan suara sumbang yang sangat besar meneriakkan tuntutan yang sama “Mati, mati, mati ' itulah tuntutan yang diteriakkan dengan keras seolah-olah tenggorakan mereka tidak pernah merasa kering' Saya yakin suasananya lebih berkali-kali lipat dibandingkan dengan ketika saya ada ditengah tengah demo besar-besaran para buruh.

Akhirnya tuntutan mereka berhasil, akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil. Pilatus sebagai pemimpin militer dan politik yang berkuasa mengabulkan tuntutan mereka untuk menjatuhkan hukuman mati atau sekalipun Pilatus tidak bersedia memenuhi keinginan mereka, maka mereka bertekad untuk melakukan pemberontakan dan huru hara untuk memaksakan tuntutan tersebut.

Suara sorak-sorai kemenangan yang bersahutan terdengar dan mulailah lautan manusia itu bergerak menggelandang Tuhan Yesus sebagai pesakitan menuju eksekusi hukuman mati ke bukit Gologa. .Semua aktifitas lain berhenti di kota itu, semua orang bersatu untuk melihat tokoh itu, mereka berdesak-desakan berdiri di bagian terdepan dan mengambil posisi yang strategis di sepanjang jalan yang dilalui oleh gelombang unjuk rasa itu.

Entah itu hanya sekedar melihat atau ingin ikut menghujat, mencemooh. Rombongan berjalan dengan lambat karena banyaknya orang dan jalan yang mendaki belum lagi banyak orang yang masuk ke dalam lintasan jalan baik hanya untuk melihat dengan jelas maupun meludahi, melempari dengan apa saja yang bisa dilempar. Para tentara sibuk menertibkan kerumunan orang dan orang-orang yang memenuhi jalan agar rombongan bisa lewat.

Sesekali rombongan terhenti karena orang-orang yang berdesakan sementara Kristus dengan letih kehabisan tenaga dan kesakitan terus berjalan terseok-seok sambil memikul kayu yang besar dan berat untuk penyalibanNya. Sebelum dijatuhi hukuman mati tubuhNya telah habis diremuk redamkan dan disiksa disesah oleh tentata romawi itulah sebabnya Dia terjatuh beberapa kali di jalan mendaki dan penuh dengan bebatuan. Setiap kali Dia terjatuh orang banyak berteriak kegirangan. Suatu pemandangan yang sangat memilukan, sehingga beberapa orang tidak tahan dan beberapa perempuan menangis iba.

Kuatir kalau Tuhan Yesus tidak kuat lagi berjalan dan mati diperjalanan karena memilkul kayu salib besar itu maka para tentara Romawi memaksa Simon dari Kirene untuk membantu mengangkat kayu tersebut. Ketika tempat penyaliban di bukit golgota sudah mulai terlihat jelas, suara hingar bingar orang banyak semakin keras.

Akirnya tibalah rombongan tersebut di tempat tujuan, diiringi siksaan dan penghinaan yang luar biasa pakaianNya dilucuti, Dia ditelanjangi di depan umum dan pakaianNya dibuang undi oleh para tentara. Paku yang besar dipersiapkan dan kemudian menghujam keras menembus tangan dan kaki bahkan menembus kayu yang digunakan untuk menyangga tubuhNya.

Kayu salib perlahan-lahan terangkat dan ketika berdiri sempurna orang-orang bersorak-sorai puas sebagai tanda kemenangan. Matahari bertambah tinggi dan sinarnya mulai menyengat, luka yang menganga lebar semakin membuat kesakitan belum lagi pelan-pelan tapi pasti tubuhNya bergerak turun dan tertahan di pergelangan tangan yang terpaku,

Satu pemandangan yang menyayat, Allah pencipta turun ke dalam dunia, Sang pencitpa masuk ke dalam ciptaanNya, ketika Dia masuk, Dia masuk di dalam kandang binatang, ketika Dia mati, Dia diperlakukan seperti binatang. Oh Tuhan Yesus kenapa Engkau rela menjalani itu semua ?

Tapi cukupkah itu ? Tidak! Ada hal lain yang membuat sakit, yaitu cacian, hujatan, umpatan belum lagi murid-murid yang mengatakan bahwa mereka akan setia telah meninggalkan Dia bahkan seorang diantaranya bersedia mati bagiNya telah menyangkaliNya. Keadaan yang paling menyedihkan dan memilukan lebih dari semua itu adalah ketika Dia berteriak 'Allahku Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku'

Di bawah salib hanya terdapat beberapa orang yang masih mau menemaniNya di antara banyak orang yang melawan Dia. Suara suara penghinaan terdengar dan diantara suara-suara itu terdengar juga dengan jelas suara-suara hujatan dari ke dua penjahat di sampingNya. 'Jika Engkau Anak Allah selamatkan diriMu dan kami'.

Didalam kondisi tak berdaya Dia tetap tegar, didalam kondisi terhina Dia sabar, dalam kondisi teraniaya dan dipermalukan Dia tidak risau bahkan bersikap agung dan penuh belas kasihan diantaranya Dia mengatakan 'Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat'.

Pada saat dia tergantung diatas kayu salib bersama dengan Tuhan Yesus ada dua orang penjahat yang lain, mula-mula seorang penjahat yang bersama dengan penjahat yang lain itu mengatakan kata-kata yang mengejek Tuhan akan tetapi kemudian lambat-lambat salah satu dari dua penjahat tersebut memperhatikan dan tergugah oleh kesadaran bahwa Orang ini tidak bersalah Orang ini adalah Orang yang agung Orang ini adalah Orang benar, Orang ini bukan manusia biasa, Orang ini benar seperti pengakuanNya bahwa Dia adalah Anak Allah, Dia adalah Allah sendiri. Kalau bukan mana mungkin di dalam kondisi seperti ini Dia bisa bersikap demikian. Hanya Allah yang mampu dan berhak mengampuni, hanya Allah yang bisa seperti ini.

Dia menyadari dirinya dan keadaannya, dia menyadari bahwa dia orang berdosa yang layak untuk dihukum akan tetapi Tuhan Yesus adalah pribadi yang benar yang tidak layak untuk mendapat hukuman seperti mereka.

Terlintas sebagian tulisan Khalil Gibran dalam benak saya

(Oh Yesus, Engkau, di atas salib, adalah lebih mulia dan berharga daripada seribu raja-raja di atas seribu tahta dari seribu kerajaan.
Engkau, dalam sengsara kematian-Mu, lebih kuat daripada seribu panglima dalam seribu peperangan. Dengan kesedihan-Mu, Engkau lebih berbahagia daripada musim semi dengan bunga-bunganya. Dengan penderitaan-Mu, Engkau lebih berani untuk diam daripada malaikat-malaikat surgawi yang menangis.
Di hadapan para penyesah-Mu, Engkau lebih teguh daripada gunung batu.
Mahkota duri-Mu lebih cemerlang dan mulia daripada mahkota yang paling indah sekalipun. )

Lalu keluarlah kalimat yang perlu kita dengar dari satu penjahat yang tersalib kepada penjahat yang lain dan kalimat itu juga pantas ditujukan kepada kita 'Tidak patut kita mengatakan hal-hal yang mencela Dia, kita layak menerima ganjaran atas perbuatan kita tapi Orang ini Dia adalah Orang benar Dia tidak patut menerimaNya'

Orang ini mengerti bahwa dia berada ditempat yang benar yaitu mati karena pelanggaran dan dosa yang telah dia buat akan tetapi Tuhan Yesus ? Dia tidak sepatutnya menerima hukuman dan berada di bukit tengokak untuk tersalib. Sehingga ia pun menegor penjahat yang lain 'Janganlah kita berkata demikian lagi. kita memang pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti ini akan tetapi tidak dengan Dia (Yesus). Yesus tidak bersalah'.

Sebuah pengakuan yang fenomenal, sebuah kesadaran yang luar biasa, kenapa saya katakan luar biasa ? Karena ada begitu banyak orang yang tidak menyadari kesalahannya, lihatlah para penjahat, lihatlah para koruptur, lihatlah disekitar kita terlalu banyak orang brengsek terlalu banyak orang yang kurang ajar bahkan mungkin kitalah orangnya yang sekalipun nyata-nyata bersalah masih merasa diri benar, yang nyata-nyata berdosa masih berpura-pura saleh yang nyata-nyata berjinah beetingkah suci yang nyata-nyata menipu Allah masih berani melayani Dia yang nyata-nyata memberontak masih berani berkata setia serta kemunafikan-kemunafikan yang terlalu banyak untuk ditulis dan dibicarakan.

Bukankah ini akibat dari dosa ? Adam dan Hawa merasa diri benar. Adam berkata Hawa lah yang menyebabkan dia bersalah, Hawa berkata ularlah yang menjadi gara-gara, dia tidak bersalah, bahkan Adam mempersalahkan Tuhan, Adam dan Hawa tidak merasa bersalah. Orang-orang Isreal berkata kepada Tuhan 'Dengan apakah kami menipu Engkau, dengan cara bagaimanakah kami memberontak terhadap Engkau ?'

Bukan hanya Adam dan Hawa, bukan hanya orang Israel hampir semua orang termasuk saya, termasuk banyak orang Kristen dan pelayan Tuhan yang demikian. Betapa memilukannya sikap kita bagi Tuhan, itulah sebabnya Tuhan Yesus sangat keras dan sengit kepada orang-orang yang demikian. Kepada Siapakah sikap Tuhan yang paling sengit dan keras ? kepada penjahat ? kepada pelacur ? kepada pemungut cukai ?

Bukan sekali lagi bukan, tetapi kepada orang-orang yang merasa diri bersih, kepada orang-orang yang mengaku melayani kepada orang orang yang merasa suci tidak berdosa kepada orang orang yang ada di wilayah rohani kepada orang orang di sekitar bait Allah kepada orang orang yang melayani di bait Allah lihatlah kemarahanNYa di Bait Allah, lihatlah sikapNya kepada orang orang Farisi dan Imam-imam kepala.

Dengarlah kecamannya kepada orang orang yang merasa diri hebat melayani Tuhan dalam Mat 7 :21-22 Sungguh ironis bukan ? lalu bandingkan sikap kita semua dengan sikap penjahat yang kita pikir tidak sebanding dengan kita yang merasa telah memberi sumbangsih bagi Kerajaan Sorga.

Dia menyadari dosanya, dia mengakui kesalahannya, banyakkah orang yang seperti ini ? Tidak banyak Adam sulit mengakuinya, Hawa tidak menyadarinya dan terus bertahun-tahun, berabad-berabad puluhan orang, ribuan, jutaan bahkan bermiliar-miliar manusia termasuk kita didalamnya tidak merasa sebagai orang berdosa, kadang kita masih bisa berbangga diri sebagai orang benar dibandingkan orang lain.

Setelah itu dengan sisa tenaga dan kekuatannya dia berkata kepada Tuhan Yesus 'Yesus ingatlah akan aku apabila Engkau kembali sebagai Raja' Raja ? Yesus akan kembali sebagai raja ?. Coba perhatikan dan dengar kalimat pengakuannya sekali lagi ''Yesus ingatlah akan aku apabila Engkau kembali sebagai Raja''.

Bagi kita kalimat ini adalah kalimat biasa, kalimat umum bahkan kalimat yang keluar dengan deras dan sendirinya keluar tanpa pengertian dan makna yang dalam, ada berapa banyak lagu yang berisi kata-kata Kaulah Raja, Kaulah Raja segala raja yang kita nyanyikan dan katakan dengan kosong, enteng dan tanpa kegentaran sama sekali. Sehingga kalimat ini menjadi kalimat yang enteng dan sembarangan keluar dari mulut kita tanpa rasa dan sikap hormat.

Tidak salahkan kalimat penjahat ini? Bagaimana mungkin dia bisa mengakui bahwa Yesus adalah Raja justru pada saat Dia sedang tertawan, bagaimana mungkin dia bisa berkata bahwa Yesus adalah Raja justru saat tidak ada satu kuasa dan kekuatanpun yang dapat dibuktikan. Tidak ada bala tentara yang kelihatan tidak ada seorang pelayanpun yang tampak tidak ada kemegahan dan kemenangan,

Pada saat itu Yesus seperti seorang pecundang, pesakitan, terhina seperti binatang. Tidak ada kemuliaan, tidak ada kemegahan tidak ada apapun yang dapat dibanggakan tapi penjahat ini justru dapat berkata dan mengakui bahwa Yesus adalah Raja. Kalau bukan karena anugerah Tuhan tidak mungkin bisa dan tidak mungkin pernah ada iman dan pengakuan seperti ini.

''Yesus ingatlah akan aku apabila Engkau kembali sebagai Raja''. Pengakuan lain yang lebih menggetarkan hati saya adalah pengakuan fenomenal 'Kalau Engkau kembali'. Pada saat itu Yesus berada di ambang kematian tetapi penjahat ini mempunyai iman yang mengagumkan menerobos ke masa depan menerobos ke dalam kekekalan. Dia percaya bahwa kematian tidak akan menghalangi Yesus untuk bangkit dan hidup kembali sebagai Raja yang akan datang.

Murid-murid pun masih sulit untuk mengerti hal ini bahkan ketika Yesus sudah bangkit sebelum Ia terangkat ke Sorga mereka masih meminta Yesus untuk memulihkan kerajaan Israel saat itu, mereka masih belum paham akan kedatangannYa kembali kelak sebagai Raja yang sesungguhnya.

Kalimat pengakuan iman penjahat ini bergema dengan keras disepanjang zaman, bahwa Dia adalah Raja yang akan kembali. Kubur tidak sanggup manahan kebangkitannya, maut kehilangan sengatnya Yesus akan kembali sebagai Raja.

Kalimat yang sederhana seperti juga tindakan 'bodoh' bagi murid-murid ketika seorang perempuan memboroskan minyak wangi yang begitu mahal hanya untuk meminyaki tubuh Yesus dari kepala sampai kaki dan kemudian menyeka kaki Yesus dengan rambutnya tapi justru Tuhan Yesus memuji perempuan itu dan berkata bahwa dimanapun Injil diberitakan maka apa yang diperbuat oleh perempuan itu akan terus diingat.

Kiprah penjahat tersebut memang sangat singkat, dia harus mati setelah itu tapi mungkin dialah orang pertama memperoleh jaminan pasti secara langsung dari Tuhan Yesus bahwa pada saat itu juga dia bersama dengan Tuhan Yesus di Firdaus.

Saya tidak berani menganggap enteng pernyataannya dan teladannya, siapakah saya ? Beranikah saya menganggap penjahat ini tidak Allah anugerahkan sesuatu untuk berkontribusi bagi kerajaan Allah ?

Pikiran saya terbang kembali pada satu saat saya mendengar seorang pendeta berkata 'mungkin penjahat yang disalib bersama dengan Tuhan Yesus hanya akan menempati sebuah aula atau bangsal di sorga nanti'. Mungkinkah ? Apakah saya lebih baik dan lebih berkontribusi dari pada dia ? Saya tidak tahu, hanya Allah yang tahu dan mung

Biarlah kita dengan rendah hati menyadari bahwa kita adalah orang-orang yang sebenarnya tidak layak memperoleh anugerahNya tidak ada satupun kebanggaan dan kebolehan untuk menjadi percaya kecuali oleh karena anugerahNya

Selamat Paskah 2012

Sampe Manullang


Jumat, 10 Juni 2011

Macetnya Tambak


Ini adalah tulisan kedua mengenai kemacetan daerah Tambak - Kibin - Serang. Awal Juni 2011 ini kemacetan daerah ini semakin 'menggila'. Beberapa waktu yang lalu atas inisiatif SPN dan didukung oleh beberapa elemen masyarakat baik pekerja maupun umum diadakan demo untuk meminta perhatian gubernur atas sarana jalan yang tidak layak lagi. Gayung bersambut, tidak lama setelah itu beberapa titik jalan diantaranya daerah sekitar tambak di perbaiki termasuk membuat jalan beton persis di prapatan tambak.

Sebagai dampak dari perbaikan itu, kemacetan yang biasa terjadi akibat semrawutnya kendaraan baik motor, mobil dan angkutan berat semakin parah karena sebagian lajur tidak bisa dilalui karena sedang di cor beton.

Mudah-mudahan kemacetan segera ditemukan solusinya, mudah-mudahan petugas diberi kesabaran dalam bertugas, mudah-mudahan penngendara tertib berkendara.

Semoga...

Jumat, 20 Agustus 2010

Hidup bagi Kristus

“Hiduplah bagi Kristus”

Di dalam Kristus segala kepenuhan Allah berkenan diam didalamNya, akan tetapi karena kasihNya yang besar untuk orang-orang yang dikasihiNya maka Ia berkenan untuk menanggalkan segala ke-Allah-anNya untuk menjadi kosong, dan Ia menjadi serupa menjadi manusia bahkan menjadi lebih rendah lagi karena Ia mengambil rupa seorang hamba yang teraniaya, hamba yang menderita, hamba yang terkutuk, hamba yang mati buat orang-orang yang dikasihiNya.

Ia yang sebenarnya adalah Allah yang maha tinggi luhur, maha kudus, maha mulia. Segenap penghuni sorga memuliakan dan sangat meninggikan Dia mau datang ke dalam dunia sehingga Ia bukan saja dapat disentuh oleh orang berdosa bahkan dapat ditempar oleh tangan orang berdosa, Ia bukan saja dapat mendengar puji-pujian tetapi dapat dicaci maki dan diludahi. Ia bukan saja dapat dipegang bahkan dapat ditendang dan dicambuk. Begitulah keadaan Allah yang maha tinggi ketika datang ke dunia ciptaanNya.

Tidakkah tindakan kasih Allah ini mampu menggugah kita untuk hidup seutuhnya hanya untuk Dia ? Sudah terlalu banyak waktu kita habiskan hanya untuk diri sendiri, sudah waktunya sisa waktu yang ada kita kembalikan buat Dia.

Kemarin dalam perjalanan berangkat ke tempat kerja, saya berpikir bahwa ini adalah kegiatan yang selalu saya lakukan di pagi hari, bekerja dan kembali pulang ke rumah, begitu juga dengan esok hari Hari Minggu pergi ke gereja untuk beribadah terlibat dalam sedikit pelayanan demikian seterusnya. Apa yang sedang saya kerjakan dalam rutinitas ini ? Saya sedang mengumpulkan uang, adakah bagian saya untuk beribadah dan melayani agar semakin diberkati? Untuk apakah uang ini saya gunakan ? Selain untuk makan dan minum saya gunakan untuk menikmati hidup, bersenang-senang, menaikkan status sosial ? Supaya orang lain tidak menilai rendah lagi karena melihat saya tidak jelek-jelek amat nasibnya ?

Ah... ternyata kesadaran akan tujuan hidup harus selalu diperhatikan, diperbaharui lagi dan terus diperbaharui. Biarlah kasih Allah yang besar dan ajaib itu selalu mendorong dan mengarahkan saya, keluarga saya untuk hidup untuk Dia. “ Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup didalamnya” Ef 2:10

Tuhan tolonglah hambaMu ini, beri kekuatan oleh RohMu agar hidup sebagaimana yang Engkau mau, Amin”

Selamat Ulang Tahun buat Ruth Sri Wahyuni ( 20 Agustus 2010 )

Jumat, 13 Agustus 2010

Antara Serang Timur dan Tambak

Hampir 11 tahun sudah saya menyusuri jalan antara Serang Timur dan Tambak, baik menggunakan kendaraan umum maupun pribadi. Seperti kebanyakan jalan yang ada pertambahan jumlah kendaraan sangat berbanding terbalik dengan perbaikan jalan baik dari segi kualitas maupun lebarnya jalan. Tiap tahun kenyamanan berkendara antara Serang Timur dengan Tambak semakin berkurang, dahulu berangkat lebih awal hanya terkonsentrasi pada hari Senin dan Kamis saja mengingat adanya pasar tradisional di Kragilan saat ini ancaman macet sudah menjadi langganan tiap hari. Bahkan kemacetan di Pasar Kragilan tidak lebih parah dari pada kemacetan di daerah Tambak.

Jalan terasa semakin sempit ditambah lagi rusaknya jalan terutama menjelang terowongan tambak sampai melewati jembatan tambak, ditambah lagi semakin banyaknya kendaraan besar entah itu truk, kontainer ataupun kendaraan berat yang mencoba menghindari jalan tol karena biaya tinggi. Hal ini semakin menambah kerawanan kecelakaan lalu lintas, entah sudah berapa banyak peristiwa kecelakaan lalu lintas yang terjadi di sepanjang ruas jalan tersebut, dalam beberapa kali kesempatan saya dan kawan-kawan bukan saja mendengar kabar kecelakaan saja akan tetapi ikut juga mengalami kemacetan yang diakibatkan kecelakaan bahkan pernah sempat melihat korban tergeletak di atas aspal.

Apakah tidak ada kebijakan yang diatur agar kendaraan berat dan besar yang tidak mempunyai kepentingan langsung ke daerah itu dilarang untuk melalui jalan Serang Timur-Tambak ? Karena ada juga beberapa kendaraan tersebut hanya menghindari jalan tol saja, tujuan Tangerang atau Jakarta hanya lewat saja nanti masuk tol lagi di Balaraja. Mungkin ini akan mengurangi beban yang ditanggun oleh jalan Serang Timur-Tambak atau mungkin sampai Balaraja.

Kemacetan yang terjadi menyebabkan biaya transportasi bertambah baik bagi penggunan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Pengguna kendaraan umum harus pindah kendaraan dan mengeluarkan biaya tambahan belum lagi pemotongan upah akibat terlambat datang di lokasi kerja, bagi pengusaha juga tentu menjadi sebuah kerugian karena produktivitas terganggu,

Bukan hal yang baru masuk jalan tol Serang Timur - Ciujung belum kunjung usai perbaikannya, di ruas tertentu sehabis mengambil tiket tol jalan yang belum 1 bulan diperbaiki sudah menunjukan kerusakan lagi dan awas hati-hati mendahului kendaraan dari jalur kanan di sepanjang Serang Timur - Ciujung tidak berlaku lagi karena hampir semua kendaraan termasuk yang besar/berat menggunakan jalur kanan, sehingga mendahului kendaraan sudah umum dilakukan dari sebelah kiri.

Kemacetan Kragilan - Tambak di hari Senin dan Kamis sudah menjadi cerita lama, karena kemacetan di daerah Tambak lebih parah dan tidak mengenal hari Senin maupun Kamis saja, tetapi bisa terjadi disetiap hari baik itu pagi maupun sore,bahkan sesekali kemacetan juga terjadi di depan Indah Kiat.

Entah sampai kapan keadaan ini membaik, semoga pengguna jalan dan pemerintah setempat bersama-sama memperbaiki diri dan sarana. Semoga.....

Kamis, 20 Mei 2010

True Story 'mobil nabrak tembok'

True Story 'mobil nabrak tembok'

Pagi itu saya bergegas menuju ke mobil dan meluncur cepat untuk menjemput beberapa kawan menuju ke tempat pekerjaan. Setelah beberapa kawan masuk ke mobil saya baru sadar bahwa saya masih mengenakan celana pendek untuk bekerja. Hari ini istri sang penolong tidak ada di rumah karena ada kegiatan di tempat lain sehingga tidak ada yang mengingatkan dan mempersiapkan pakaian untuk saya bekerja.

Segera saya panik karena menyadari waktu yang ada tinggal tersisa sedikit kalau untuk kembali ke rumah mengganti celana, tapi dalam waktu yang sempit itu saya mengambil keputusan untuk kembali ke rumah. Mulailah bagaikan adegan sang jagoan yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi saya peragakan. Dengan berzigzag dan membuat jantung berdegup kencang setiap penumpang mobil semakin cepat dipacu. Di suatu belokan mobil bukannya melambat tapi justru semakin dipacu sehingga mobilpun sebagian sisi terangkat dan ban menghasilkan bunyi nyaring 'ciiitt.....'

Seorang kawan di dalam mobil berkomentar 'Itulah para suami tidak tahu dan tidak bisa kalau istri tidak ada, terlalu manja bergantung kepada istri' tapi saya tidak lagi sempat menjawab karena terus berkonsentrasi mengendarai mobil yang betuk-betul sedang membuat jantung berdegup kencang.

Jalanan semakin padat dan ini berati memperlambat perjalanan hingga dalam hitungan detik saya mengambil keputusan untuk memutar arah untuk mengambil jalan pintas, dan terjadilah sambil menekan pedal gas kemudian menarik rem tangan sambil memutar kemudi, mobil berputar arah 180 derajat 'citt........' hampir semua orang di sisi jalan melihat dan terheran-heran lebih-lebih penumpang berpegangan erat dan menjerit 'Wah.... pak.......sudah gak usah kebut-kebutan lagi '. Mobil berguncang hebat dan berbalik arah kemudian saya membelokkan arah ke jalan pintas dan ternyata kami memasuki sebuah jalan yang masih dalam perbaikan.

Jalan itu memang sudah mulus tapi ketegangan yang lebih besar sudah menanti di depan, jalan tersebut masih menyisakan satu selokan besar kurang lebih dua meter yang belum ada jembatannya. Laju kendaraan sudah terlanjur sangat cepat dan tidak mungkin untuk di hentikan dengan rem, kalau itu dilakukan maka ada kemungkinan mobil akan terperosok ke dalam selokan. Dengan nekat, saya menekan pedal gas semakin dalam dan mobil melaju dengan kecepatan maksimal, semua penumpang berteriak ketakutan 'Tolong...... gila kamu pakk' dan mobil terbang bagaikan mobil bus di film speed terbang melewati jembatan tol yang terputus. Mobil terbang dan 'brukkkkk' terjatuh di seberang jalan dan membanting semua orang yang ada di dalamnya dan terus melaju dengan bergetar hebat. Saya berusaha mengendalikannya tapi ternyata belum cukup kengerian ini berakhir di depan ada sebuah tembok dan mau tidak mau saya harus menginjak rem sampai mentok dan memegang erat kemudi. 'Ciiittttt Bruk...' suara ban dan suara benturan terdengar mobilpun berhenti. Kami semua turun dengan berkeringat dingin, sambil kawan-kawan bersungut-sungut dan memaki. Saya segera bergegas memeriksa kendaraan dan mendapati kaca spion patah dan hilang, bemper depan ringsek dan kaca depan sebagian besar retak. Saya pucat dan tertunduk lesu membayangkan kerugian besar yang saya harus derita apalagi ini adalah mobil satu-satunya dan hampir tidak mungkin menjualnya dengan harga yang pantas. Saya terpekur dan menyesali diri sambil berharap semoga ini hanya sekedar mimpi.

Mudah-mudahan ini cuma mimpi bukan sebuah kenyataan, dan seketika saya tersadar dan bangun dari tidur, hati saya lega ternyata saya sedang duduk di kursi panjang dan ada beberapa orang bersama saya dalam sebuah antrian, karena lama menunggu maka saya tertidur. Sesaat itu juga saya bangun dari tidur asli saya dan bersyukur kalau saya sedang mimpi. Rupanya saya mimpi di dalam mimpi. Saya mimpi sedang duduk antri kemudian tertidur dan bermimpi mengendarai kendaraan.

Kamis, 11 Maret 2010

PASKAH 2010


SALIBKAN DIA, SALIBKAN DIA

Kalimat ini bergema berulang-ulang di dalam pikiran saya ketika memikirkan makna Paskah tahun ini. Ya, itulah teriakan-teriakan sadis dan tak mau peduli yang keluar dari mulut hampir semua orang yang berkumpul ketika Yesus sedang diadili. Mereka tidak mau tahu apakah tuduhan para imam-imam kepala/orang-orang Farisi itu benar demikian, bahkan mereka tidak mau peduli ketika Pilatus mengatakan ‘Aku tidak menemukan kesalahan pada orang ini’ dan ketika Pilatus menawarkan untuk melunakkan orang-orang tersebut dengan memberikan pilihan apakah Yesus ataukah Barabas yang mereka pilih untuk bebas, mereka tetap bersikeras kalau Yesus harus disalibkan dan memilih Barabas sang penjahat itu untuk bebas.

Ya mereka lebih memilih kebengisan dari pada kedamaian, mereka lebih memilih kejahatan dari pada kebaikan. Mereka terus meneriakkan kalimat yang sama ‘Salibkan Dia, salibkan Dia’ bahkan mungkin mereka berteriak lebih keras setiap kali Pilatus mulai membujuk orang banyak untuk melepaskan Kristus.

Benarlah apa yang dinubuatkan oleh Yesaya bahwa Dia bagaikan anak domba kelu yang dibawa ke pembantaian, tidak dibiarkan membuka mulutnya dan terus dihujat, dicerca, diancam dan dimaki.

Tetapi yang jauh lebih pahit dan menyakitkan adalah sebuah kenyataan bahwa mereka yang berteriak-teriak tak terkontrol itu dan seperti ‘kesetanan’ itu adalah sebagian besar juga yang berseru-seru ‘Hosana hosana terpujilah Dia’ mereka bersahut-sahutan meneriakkan pujian sambil melambaikan daun-daun palma dan menghamparkan jubah menyambut Kristus ketika memasuki kota Yerusalem. Tetapi tak lama waktu berlalu mulut yang sama, orang yang sama, yang beberapa hari lalu meneriakkan puji-pujian bagi Kristus sekarang mereka berbalik 180 derajat memakim, menghujat, menghina Kristus bahkan menginginkan darahNya tertumpah bahkan lebih mengerikan lagi mereka menginginkan kematian dengan cara yang paling hina yaitu ‘DISALIBKAN’.

Kristus yang mereka elu-elukan sebagai Raja sekarang mereka tuntut untuk mati sebagai penjahat, Kristus yang mereka elu-elukan sebagai Mesias sekarang mereka sumpahi sebagai penyesat dan penghujat Allah. TanganNya yang dulu mereka rindukan untuk menjamah mereka dan memberikan kesembuhan sekarang mereka hendak pakukan di tiang salib

Betapa menyesakkan dan menggenaskannya situasi ketika itu, waktu terus berlalu, zaman berganti zaman, abad berganti abad akan tetapi kenangan akan peristiwa itu tetap bisa didapati bahkan ditemukan dalam masyarakat saat ini atau mungkin di dalam diri kita.

Hingga saat ini tak terbilang jumlahnya orang yang beranggapan Dia pantas memperoleh semua hukuman, celaan dan hujatan seperti itu. Dia memang pantas menerima itu semua.

Yesaya 53 : 3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.

Hingga saat ini dan entah sampai kapan berapa berapa banyak lagi orang yang menghindariNya karena mereka pikir Dia layak mendapatkannya. Sehingga mereka ikut-ikutan melakukan hal yang sama dengan orang banyak di Yerusalem di tahun silam.

Yesaya 53 :4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya , dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah .

Kenyataan yang sulit untuk diterima justru diperlihatkan dengan gamblang dalam peristiwa penyaliban Kristus, mengapa ? Karena justru orang-orang yang punya status rohaniawan baik itu ahli taurat maupun orang Farisi lah yang menjadi pelopor dan pengajur massa untuk menjatuhi hukuman mati kepada Yesus.

Seharusnya mereka peka dan mengerti bahwa Yesus tidak bersalah, akan tetapi seperti itu bukan saja dilakukan oleh mereka dimasa lalu, dimasa kinipun masih bisa dijumpai orang-orang yang tidak lebih dari ahli Taurat dan orang Farisi, demi ambisi pribadi, ambisi kolompok atau golongan mereka telah mencampakkan nilai-nilai kebenaran.

Seharusnya mereka membawa suasana damai jauh dari permusuhan, membimbing orang melakukan kebaikan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Seharusnya orang-orang yang ada disekitar rumah Allah adalah orang-orang yang membawa terang dan pengaruh baik bagi sekitarnya tetapi justru yang sebaliknyalah yang terjadi.

Pilatus menggunakan agama untuk kepentingan politiknya dan Ahli Taurat beserta orang Farisi menggunakan politik untuk kepentingan jubah agamanya.

Apakah kita sama dengan mereka ? Seolah-olah kita sedang melayani Kristus tetapi yang terjadi sesungguhnya kita melayani diri kita sendiri dan memperalat pelayanan untuk kepentingan pribadi atau jangan-jangan tanpa disadari sedang memperalat Tuhan untuk kepentingan diri.

Bahkan ada orang yang mengatakan percaya kepada Kristus tapi sesungguhnya sedang menista Dia. Saat mereka dengan pongahnya berkata bahwa mereka percaya dan memiliki hidup kekal tapi dalam kehidupannya tak perduli dengan segala perintah dan kemauan Tuhan. Tak peduli dengan kebenaran Firman Tuhan 'Yang penting saya percaya dan masuk sorga'

Kita sibuk dengan ibadah dan nyanyian-nyanyian yang sesungguhnya hanya untuk memuaskan emosi tanpa mau memahami dan mengenal pribadi yang empunya diri kita.

Biarlah ditengah hingar-bingarnya orang-orang merayakan/mengenang Kematian dan Kebangkitan Kristus dengan cara atau agenda masing-masing gereja maupun kelompok kita masih punya waktu untuk merayakan/mengenai Kematian dan Kebangkitan Kristus secara pribadi dalam arti sebenar-benarnya. Sehingga makna Kematian dan Kebangkitan Kristus yang benar tidak terlewatkan begitu saja.

“Dia mati bagi kita supaya kita hidup bagi Dia”

“Selamah PASKAH, Dia sudah bangkit kuburNya kosong supaya hati kita terisi”







Jumat, 01 Januari 2010

Tahun Baru 2010 (sebuah ungkapan hati)



Tulisan ini ditulis secara khusus ditulis untuk kel. besar Op. Sarmauli & orang-orang yangberminat untuk membacanya)


Dari kecil, kebiasaan itu sudah diperkenalkan. Saat semua kawan mengadakan acara tahun baru dengan pernak-perniknya saya dengan sangat terpaksa mengikuti acara keluarga. Duduk, menyanyi, berdoa hingga akhirnya tiba pada saat yang tidak mengenakkan. Satu persatu semua yang hadir diminta untuk menyampaikan isi hati, buat yang masih kecil mengucapkan selamat Tahun baru sudah dirasa cukup tapi yang sudah cukup besar dan beranjak remaja maupun dewasa kata-kata itu belum cukup.


Yach itulah suatu rutinitas yang biasa kami lakukan dan juga dilakukan oleh hampir semua orang batak pada malam tahun baru. Berkumpul bersama keluarga besar untuk saling mengkoreksi, menasehati dan mendoakan walau kadang kala saya merasakan acara tersebut kadang terasa berubah menjadi sebuah ajang menyalahkan, menyerang dan membanggakan pihak tertentu.


Waktu terus berlalu hingga saat ini tahun sudah berganti menjadi tahun 2010. Sesuai dengan bertambahnya usia dan status lajang menjadi berkeluarga, saya telah mengalami perubahaan pemikiran tentang pentingnya kebersamaan di malam tahun baru. Lebih penting dan bermakna dibandingkan dengan gemerlapnya acara tahun baru di hotel berbintang maupun sekedar bakar-bakar ikan ataupun aktifitas yang lain. Keluarga besar kami bertambah seiring dengan semakin banyaknya lae dan pariban yang berkeluarga sehingga masing-masing mempunyai acara tersendiri.


Kepergian mama ditahun 2009 cukup merubah situasi, biasanya mama menjadi pihak yang paling bersemangat, mengingatkan dan mengkordinir kami untuk bertahun baru bersama dan melakukan tradisi yang dahulu saya anggap kuno dan membosankan tetapi sekarang menjadi waktu-waktu yang sangat istimewa bisa betatap muka dengan orang-orang yang saya kasihi, saling menguatkan, menghibur dan mendoakan. Dahulu sungut-sungut, sekarang saya lebih mengerti arti air mata suka cita dan keharuan.


Adakah saya mengalami kemunduran karena memandang penting arti acara tahun baru model seperti itu ataukah saya mengalami kemajuan karena bisa menghargai kebersamaan dan nilai-nilai penting yang terkandung di dalamnya ?


Selama mama masih ada hampir tidak pernah kami melewati malam tahun baru tanpa kebersamaan. Saat ini saya bersyukur karena abang menjadi pengganti yang pas untuk memimpin acara tersebut. Tahun 2009 yang lalu sekalipun keluarga Festus tidak bisa bersama karena tinggal di Medan dan Ito sudah berkeluarga sehingga ber-tahun baru dengan keluarga besar lae, abang dan keluarga minus kakak sedang menjaga Tulang di Tebing yang sedang sakit, kami berkumpul bertahun baru di Serang Banten.


Tahun ini 2010, abang sekeluarga (Abang, kakak, Helga dan Niko) bertahun baru di Tebing Tinggi, kel Festus di Medan, kel Raphael di Pamulang dan kami di Serang. Sekalipun demikian saya sungguh bersyukur karena Lae, Ito dan Raphael (bere-ku) bermalam dan ber-Natal di tempat kami.


Hari itu 31 Desember 2009, saat pulang dari kantor saya mendapati terompet tahun baru yang pagi itu dibeli oleh istriku, “Buat dibunyiin nanti malam” sahutnya dengan antusias. Saya hanya terseyum mendengar ucapannya. Setelah mandi dan berkemas saya berangkat ke pabrik untuk mengikuti acara tahun baru (setelah meminta ijin untuk tidak bisa hadir di pertemuan pelayan gereja, tahun depan saya harus mengikutinya).


Tiba kembali dirumah suasana sepi terasa sekali tahun baru kali ini, tidak ada orang tua, tidak ada abang, adik, ito dan anak-anak/bere. Tapi saya memuji Tuhan karena ada seorang istri yang menemani dan penyertaan Tuhan yang nyata dan saya beryukur sekalipun istri saya bukan datang dari suku batak yang tidak terbiasa dengan tradisi 'kuno' tersebut.


Dia mengingatkan untuk berjaga sampai waktu menjelang pukul 00:00. Akhirnya sekalipun kami hanya berdua, lagu pujian. pengakuan dosa, ucapan syukur dan doa-doa tetap kami naikkan dan tentu saja tak terlewatkan ritual mandokk hata antar kami berdua tetap berjalan. Puji Tuhan.


Teringat acara sejenis dari tahun ke tahun yang pernah saya ikuti bersama dengan seluruh keluarga besar hingga saat ini hal itu sulit terwujud lagi, terucap di doa kiranya kami masing-masing tetap saling mengasihi dan tinggal di dalam kasihNya.


Selamat Tahun baru Abang Pa Helga, kakak Mama Helga, Helga, Niko, Pa Festus, Mama Festus, Festus, Lae Pa Raphael, Ito Mama Raphael, Raphael, Kel. Tulang Rempoa, Kel Tulang Lenteng, Kel Tulang Rinci, Kel. Tulang Boni, Lae dan pariban. Mudah-mudahan di tahun baru 2010 bukan hanya slogan di bibir bahwa kita memaafkan tapi juga di tindakan nyata. Lupakan segala ego dan harga diri biarlah kita menyadari kita tidak lebih dari orang lain dan kita juga orang yang penuh dengan kekurangan. Kita seperti sekarang ini hanya oleh karena kemurahan dan kebaikan Tuhan bukan karena kita mampu atau kita lebih baik dan lebih kita lebih dari yang lain.

Segala kemuliaan bagi Allah dalam Kristus Tuhan.


Selamat Natal 2009 & Tahun baru 2010

Jumat, 13 November 2009

Memberi dari kekurangan


Bulan Mei 2009, dalam sebuah pertemuan doa yang saya pimpin, diikuti oleh tidak lebih dari 8 orang saya dikejutkan dengan sebuah berkat yang Tuhan berikan melalui seseorang yang tidak saya duga sama sekali. Bapak tersebut memberikan kepada saya secarik uang kertas dalam nominal terbesar dalam mata uang rupiah.

Saya terperanjat dan berusaha menolak dengan halus, bagaimana mungkin saya tega menerima pemberian tersebut karena sepanjang sepengetahuan saya Bapak ini tidak terlalu berkelebihan. Dalam sebuah percakapan beliau pernah menceritakan bahwa untuk memberikan persembahan saja kadang dia harus bergumul dan berdoa supaya punya sejumlah uang untuk dimasukkan kedalam kantong kolekte.

Lha, justru hari itu dia menyodorkan uang tersebut kepada saya seraya berkata ‘Maaf pak bukannya saya kurang hormat memberikan uang ini kepada Bapak apalagi tanpa amplop, tapi saya tergerak untuk memberikannya kepada bapak setelah hari ini tanpa diduga saya memperoleh berkat dari Tuhan, ada seseorang yang berhutang kepada saya cukup lama hari ini membayar kepada saya’ begitu dia katakan kepada saya.

Saya mengenal bapak ini, dan saya percaya tidak ada maksud dia untuk tidak sopan dan menyombongkan diri dengan memberikan uang tersebut. Itulah sebabnya saya tidak sampai hati menolak pemberian yang tulus darinya. Saya tidak ingin mengecewakan dan membuat dia berkecil hati dengan menolak pemberian tersebut.

Terus terang keadaan keuangan saya memang pada waktu itu kurang baik, tapi bukan itu alasan saya menerima pemberiannya, tetapi kejujuran dan ketulusannyalah yang mendorong saya untuk menerimanya. Tetapi lebih dari itu, saya telah menerima sesuatu yang lebih besar jika dibandingkan dengan pemberian uang tersebut. Tuhan telah mengajar saya melalui bapak tersebut mengenai memberi dari kekurangan.

Sering sebuah perasaan berat dan tidak rela ketika disuatu kesempatan Allah mendesak saya untuk memberikan persembahan atau bantuan entah itu kepada perorangan, gereja atau sekelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan. Logika saya tidak sejalan dengan hati kecil saya, hati kecil ini terdorong untuk memberi tapi logika menolaknya dengan alasan logis ‘Saya aja masih kurang dan perlu bantuan, mana mungkin saya memberi bantuan kepada pihak lain, dan lagi kalau saya membantu apa yang saya akan beri tidak mempunyai dampak yang berarti’ Itulah perdebatan yang sering saya alami dan biasanya logika ini memenangkan perdebatan tersebut.

Tapi sungguh malam itu, hati dan pikiran saya tercekat dan terdiam malu. Saya belajar dan memohon pertolongan dari Tuhan untuk bisa juga mencontoh bapak ini berani memberi dari kekurangan untuk menolong dan mejadi saluran berkat bagi orang lain.

Puji Tuhan.
SHS

Minggu, 27 September 2009

Halooo Om… boleh kenalan ga ?


Pagi itu istri saya berangkat ke gereja terlebih dulu karena ada tugas di kebaktian pagi sedangkan saya akan ibadah di kebaktian dua. Sambil menunggu untuk berangkat saya mendapat tugas dari nyonya rumah untuk beres-beres termasuk untuk mencuci pakaian. Sekalipun saya seorang pria dan seorang suami mencuci dan menjemur pakaian di hari libur bukan perkara aneh, apalagi kesibukan istri di hari Minggu pastilah sangat banyak. Hitung-hitung variasi pekerjaan tidak apalah.

Nah, ketika sedang sendirian di rumah itulah tiba-tiba HP berdering dan dilayar tertera sebuah nomor XL yang tidak dikenal. Untuk menghargai si penelepon sayapun menjawab ‘Halo selamat pagi, ada yang bisa saya bantu’ dengan nada ramah. ‘Halo… selamat pagi, ini dimana ya? ‘ demikian jawaban seorang wanita muda yang saya duga dari suaranya. ‘Saya ada di Serang Banten ini dari siapa ya dan dari mana ?’ sahut saya cukup heran karena dia bukan menjawab pertanyaan saya tapi justru mengajukan pertanyaan. ‘Saya Ika om.. dari Indramayu, saya tahu dan pernah ke Serang’ begitu jawabnya, ‘Ika mau bicara dengan siapa dan ada perlu apa, kamu umur berapa?’ demikian saya menanggapi penjelasannya dan mengajukan pertanyaan itu karena dari suaranya terdengar manja merayu dan kira-kira baru di usia remaja. ‘Ika kelas 3 SMA om.. boleh kenalan ga om? Boleh kan?’. Deg, hati saya tertegun mendengar jawaban spontan dan terus terang maksudnya menelepon.

Bagaimana tidak terpana, di saat tidak ada istri mendapat telephone dari seorang remaja dengan suaranya yang manja bahkan dengan terang-terangan dia ingin mengajak berkenalan. Terlintas dalam pikiran saya untuk melanjutkan percakapan ini, toh cuma ngobrol iseng atau ingin sekedar menggoda, apa salahnya dia ada Indramayu dan saya ada di Serang, jarak yang jauh terbentang. Tetapi sekejap hati saya mengingatkan agar tidak meladeni percakapan ini dan harus segera mengakhirinya untuk tidak memberi peluang terhadap sesuatu yang lebih lanjut lagi. ‘Maaf ya kamu salah sambung saya tidak ada waktu untuk melanjutkan’ akhirnya demikian jawab saya sambil menjauhkan HP dari telinga dan samar-samar terdengar suara ‘Yach om… masa kenalan aja ga boleh sich om..’ dan HP pun saya matikan.

Kemudian saya berpikir dan merenung, seandainya saya terus melanjutkan percakapan ini entah apa yang terjadi, bisa saja akan terjadi percakapan-percakapan lain di kesempatan berikut yang tentu akan saya lakukan tanpa sepengetahuan istri dan bisa saja membuat saya menjadi penasaran dan akhirnya berlanjut dengan copy darat.

Saya mengucap syukur kepada Tuhan karena diberi keberanian untuk segera menghentikan percakapan tersebut, kemudian saya segera berkemas-kemas ke gereja dan selesai ibadah, dalam perjalanan pulang saya menceritakan peristiwa tersebut kepada nyonya. Seperti biasa, istri saya tetap mempercayai saya, inilah salah satunya yang membuat saya berhati-hati berhubungan dengan lawan jenis yaitu kepercayaannya, apalagi dalam keseharian di pekerjaan berkomunikasi dan berhubungan dengan wanita adalah pekerjaan sehari-hari, maklum di tempat saya bekerja 90 persen adalah pekerja wanita.

Saya teringat kepada kata-kata saya sendiri yang sering saya ucapkan kepada teman-teman ‘Kalau tidak ingin kena air jangan main air atau jika tidak ingin kena api ya jangan main api’. Godaan untuk iseng-iseng dan sekedar mencoba sesuatu yang baru sebagai sebuah variasi hidup dalam pernikahan selalu datang pada saat tiba-tiba dan tidak perlu diundang oleh karena itu waspadalah dan berjaga-jagalah.

SHS

Jumat, 11 September 2009

In Memoriam : Our Mother (Op. Helga) September 2008 - September 2009


Bagi wanita suku batak yang telah mempunyai anak akan mempunyai nama panggilan atau sebutan baru sesuai dengan nama anak pertamanya, demikian juga dengan mamaku tercinta. Ketika anak pertamanya lahir (kakak tertua kami), anak itu dinamai ‘Basaria’. Maka dengan sendirinya sebuatan mamaku berubah menjadi ‘Inang Basaria’ atau ‘Mama Basaria’. Nama panggilan atau nama sebutan itu tidak pernah berubah sampai kemudian dia mendapat cucu pertama. Ketika cucu pertamanya lahir nama panggilan atau sebutan mamaku berubah menjadi Opung Helga.

Panggilan Inang Basaria masih terus menjadi panggilannya hingga tahun 30 September 1995, padahal sejak tahun 1983 kakak pertama kami sudah meninggal. Ketika mama dipanggil pulang ke rumah Bapa di sorga saya mulai meyadari betapa mamaku ini termasuk wanita yang tegar dan tabah, bagaimana tidak selama dia hidup dia harus menghadapi kenyataan ditinggal pergi oleh 3 orang yang dikasihinya. Pertama dia ditinggal oleh anak pertamanya, tidak mudah bagi sesorang harus dipanggil selama kurang lebih 12 tahun menurut nama orang yang sudah meninggal, putri sulungnya yang menjadi kebanggaannya karena sebentar lagi akan mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang guru. Tentu setiap kali orang memanggilnya ‘Inang Basaria’ ingatan akan anak gadisnya yang telah meninggal akan terus dikenang, saya tidak tahu sampai kapan mama bisa menerima dengan lapang dada dan tidak terusik dengan panggilan itu.

Selang 1 tahun kemudian suaminya menyusul anak pertamanya, beban beratnya bukannya berkurang tapi justru bertambah, di kota Metropolitan Jakarta, tanpa bekal pendidikan yang memadai karena mama tak sampai lulus SD ditambah 5 orang anak yang masih sekolah. Saya belum mengerti banyak dan tentu belum bisa diajak tukar pikiran untuk membagi bebannya. Itulah sebabnya dia ‘bertarung’ dengan keras menghadapi kerasnya kehidupan di Jakarta. Tak jarang dia harus turun tangan langsung untuk menjaga sebuah kios kecil yakni sebuah bengkel tambal ban peninggalan almarhum ayah kami.

Setiap kali dia kehilangan orang yang dikasihinya (anak pertama, suami dan anak ke tiga) reaksi kesedihan yang ditunjukkannya pada saat itu agak berlebihan demikian menurut pendapat saya, kadang saya lelah dan agak kesal untuk menghibur dan mengingatkannya akan tetapi saya baru bisa menyadari dan mengerti arti kesedihan itu ketika saya kehilangan dia. Sekarang saya justru kagum dan bangga padanya yang bisa melewati kepedihan dan beban berat yang harus dialaminya.

Kehilangan seorang mama yang merangkap ayah bagi saya adalah sesuatu yang berat untuk dijalani. Kalau bukan karena kekuatan dari Tuhan dan dukungan dari orang-orang disekeliling saya tentu akan memerlukan waktu yang panjang untuk merelakannya. Tentu hal yang sama juga dialami oleh mama saya tercinta ketika dia kehilangan 3 orang yang dikasihinya.

Kami anak-anaknya diatur dengan tegas untuk tidak bersantai dan bermalas-malasan. Bukan hal yang aneh kalau setiap pagi terdengar teriakannya sambil sekali-kali memukul triplek tangga membangunkan kami yang tidur dilantai 2 untuk segera ke sekolah. Pada hari minggu itupun tetap dilakukannya ketika kami ingin merasakan bangun lebih siang dan santai sebentar mumpung libur.

Situasi menjadi lebih berat baginya karena kami anak-anaknya bersekolah di tempat yang banyak dihuni oleh siswa dari orang tua yang berada, hal ini cukup mempengaruhi mental kami, merasa minder. Tapi kami mengucap syukur karena mama dan ditambah dengan tulang-nantulang selalu membantu, mengingatkan dan menasehatkan agar kami ‘tahu diri’ dan mau berusaha lebih keras untuk membantu mama yang berjuang membesarkan kami.

Pernah suatu kali mama sangat marah kepada saya karena saya tidak mau pergi untuk menjaga bengkel dengan alasan mau pergi main dengan teman. Ketika itu dia sedang mencuci pakaian dan dalam marahnya dia melemparkan sikat baju kea rah saya ‘bumm..’, sikat itu tepat mengenai kening dan kaca mata yang saya kenakan patah menjadi dua. Saya kaget luar biasa disertai rasa malu kerena telah membantahnya, mama juga kaget dan segera menghampiri untuk meminta maaf dan mengelus kepala saya.

Ya, dia seorang ibu yang sangat menyanyangi anaknya banyak kenangan manis yang saya alami bersamanya. Pergi ke gereja selalu pada ibadah atau misa jam 6 pagi, dan menjadi kebahagiaan bagi saya setiap kali duduk bersebelahan untuk beribadah.

Setiap kali melewati pasar inpres Cipete selalu terkenang ketika menemaninya belanja, mencari karet gelang di pasar adalah kegiatan saya sambil menemaninya belanja sayur atau ikan dan membeli kue basah untuk oleh-oleh adalah waktu yang sangat saya nikmati. Kalaupun bukan giliran saya menemaninya ke pasar, entah itu adik atau abang maka saya akan menanti dengan tidak sabar kepulangannya membawa oleh-oleh kue basah dari pasar terutama ‘dadar gulung’.

Pernah satu kali saya diajaknya untuk dibelikan ikat pinggang di pasar Blok A. “Bang berapa ikat pinggangnya ? “ demikian tanyanya kepada penjual ikat pinggang. Terjadilah tawar menawar, rupaya harga yang diminta mama terlalu murah hingga ketika kami pergi penjualnya berteriak memanggil kami sambil berkata ‘Bu… ini ikat pinggangnya gratis saja’ kami tertawa sambil meninggalkan penjual itu.

Pernah juga ketika kami makan bakso di Blok M, kami tertawa karena harus ngebut makan bakso supaya ketika tukang ngamen pindah ke meja kami bakso selesai di santap. Banyak sekali kenangan manis yang kami alami bersama. Tak heran setiap kali saya bertemu mama kami betah berjam-jam untuk berbincang-bincang atau ‘marnonang’ sampai jauh malam. Itulah sebabnya menjelang kepulangannya ke rumah Bapa di sorga, selama saya menemaninya di rumah sakit kami banyak bercakap-cakap. Saya mengucap syukur kepada Tuhan, sekalipun istri saya bukan suku batak tapi mereka bisa betah ngobrol bahkan bisa berjam-jam.

Saya percaya ada banyak pergumulannya yang tidak bisa dia ceritakan kepada kami anak-anaknya yang dia bawa kepada Tuhan dalam doanya. Lagu ‘Di doa ibuku namaku disebut’ bukan sekedar sebuah lagu tanpa makna tapi itu sungguh dilakukannya. Banyak hal berat hal yang dialami, 3 orang yang dikasihinya meninggal, kebakaran yang dialami bengkelnya, kecelakaan yang dialami suaminya, kecelakaan yang dialami anak laki-laki pertamanya, suaminya pernah dipenjara sebagai penanggung jawab bengkel yang terbakar, anak laki-laki ke dua masuk penjara karena bandel (Puji Tuhan diakhir hidupnya mamalah yang merawatnya, hingga meninggal dalam perawatannya dia sadar dan bertobat), anak laki-laki terakhirnya pernah dipenjara karena perkelahian pelajar (kemudian dilepaskan karena tidak terlibat).

Suatu kali adik laki-laki saya pulang dari test penerimaan karyawan Merpati menghampiri mama dan berkata sambil menangis ‘Ma, siapin uang dong ma untuk Mangihut’, mama pun bertanya “Untuk apa amang, dari mana mama punya uang”. “Besok pengumuman diterima apa engga saya di Merpati, kata orang kalau ga punya duit gak mungkin diterima” sahutnya lagi. Kamipun terdiam dan pasrah, besoknya dia pulang dengan berita gembira kalau dia diterima sekalipun tidak menyediakan sepeserpun uang, saya melihat wajah mama, terlihat jelas disana rona kebahagiaan dan kebanggaan.

Saya bersyukur, diakhir hidupnya kami bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan kebanggaan kepadanya sekalipun tidak akan pernah sebanding dengan apa yang telah dia berikan kepada kami. Saat berlibur bersama di pinggir Danau Toba daerah Tongging dan sekitarnya adalah saat-saat yang tak terlupakan, melihat mama, kami, dan cucu-cucunya bersenda gurau.

Saya bersyukur sebelum dia kembali kepada Bapa di sorga kami semua anak-anaknya telah berumah tangga, terlebih ketika ‘Rosmina’ anak perempuan bungsunya menikah sehingga dia punya menantu lak-laki atau ‘Hela’ dalam bahasa batak.

Sebelum dia pulang kerumah Bapa, dia sempat juga berkeliling dengan abang, tulang-nantulang ke Sibolga dengan mengendarai mobil Pa Festus. “Biasanya mama yang numpang di mobil tulang-nantulang tapi sekali ini merekalah yang numpang sama mama” demikian Pa Festus berseloroh.

Kami berterima kasih kepada semua yang telah menemani, membantu dan menerima mama kami apa adanya khususnya kepada keluarga besar Op. Sarmauli terlebih Tulang dan Nantulang, tanpa mengurangi rasa hormat kami tidak bisa menyebut semua pihak karena terlalu banyak pihak yang tidak dapat disebut satu persatu.

Kami beryukur untuk banyak hal yang tidak bisa diuraikan satu-persatu di sini. Kami bersyukur kepada Allah Bapa, Tuhan Yesus dan kepada Roh Kudus ketiga yang Esa yang telah memberikan mama yang istimewa kepada kami dan memberikan bimbingan, kekuatan dan penghiburan kepadanya terlebih telah meyelamatkannya dan menyediakan rumah di sorga mulia dimana kami akan bersama-sama lagi untuk selamaya.

September 2009
SHS

Jumat, 28 Agustus 2009

PD Yeremia 22 Agustus 2009


PD Yeremia 22 Agustus 2009 di rumah Lucy Bungawan

Jam 15.15 saya dan istri melaju meninggalkan kota Serang lewat pintu tol serang barat untuk hadir dalam acara persekutuan doa dengan beberapa saudara seiman di rumah Lucy Bungawan daerah Cipete Cilandak.

Entah sampai kapan jalan tol Jakarta-Merak selesai diperbaiki, mungkin ini dilakukan untuk mengejar waktu mengingatkan rencana kenaikan tariff tol pada bulan September 2009. Memasuki daerah Balaraja perbaikan jalan semakin panjang lagi dan ini membuat laju kendaraan semakin lambat bahkan macet, karena jalur yang ada semakin berkurang menjadi satu jalur akibat ada 2 mobil truk tronton yang mengalami masalah. Jadilah kami harus bersabar ditengah kemacetan menjelang pintu tol cikupa.

Saya kurang suka untuk datang terlambat, tetapi saat itu tidak bisa berkata lain kecuali menerima kenyataan bahwa jalan tol betul-betul menjengkelkan. Menurut saya pelayanan jalan tol Jakarta-Merak masih jauh dari memuaskan.

Akhirnya sekitar jam 16.10 kami tiba juga di pintu tol cikupa, setelah itu baru jalan sangat lengang sehingga dapat melaju lebih cepat hingga keluar di pintu Kebun Nanas. Terus melaju dengan cepat ke arah tol Serpong dan sambil bercerita tentang tempat-tempat yang kami lalui akhirnya kami tiba di rumah Lucy sekitar jam 17.00 lebih 10 menit.

Ferry, Riana, Andre, Nathan (anaknya Andre), Diana (ada didalam) sudah hadir dan tentu saja Lucy sebagai tuan rumah. Saya tidak melihat tikar atau karpet yang di gelar ditempat itu tetapi justru kursi-kursi yang telah ditata rapi, padahal sebelum acara ini Lucy sudah ‘woro-woro’ untuk membawa tikar ataupun karpet dari rumah masing-masing. “Gak perlu tikarnya sebab jumlah hadir tidak terlalu banyak jadi pakai kursi aja’ demikian katanya.

Sebenarnya perut sudah memperlihatkan tanda-tanda pemberontakan karena lapar, tetapi karena kami pikir waktu sudah tidak bisa dikompromikan akhirnya kami berdua membatalkan rencana untuk makan di rumah makan. Kalau saja kami tahu bahwa masih banyak yang belum datang tentu kami tidak perlu harus makan malam di jam 21.30 di dekat Superindo Pamulang. Tetapi tidak apa-apa dirumah Lucy kami bisa mengganjal perut kami dengan kue dan risol buatan tante Bungawan.

Setelah beberapa waktu datanglah Yudi, disusul oma Ellen kemudian Atta juga datang, waktu Atta datang yang dicari pertama kali adalah sang suami Yudi. ‘Bukannya nyari tuan rumah atau yang lain masih aja suami dulu yang pertama di cari’ demikian canda kami.

Menanti kawan-kawan yang lain kami berbincang-bincang, karena waktu terus berjalan menuju waktu buka puasa, Ferry pun berkata ‘Nanti kalau ada yang datang kita langsung serempak nyanyi Bapa terima kasih, supaya mereka pikir sudah selesai kebaktian’ dan kami pun tertawa menyetujui.
Tetapi rencana itu kami batalkan karena yang datang kemudian adalah Yonan, istri dan kedua anaknya. ‘Ngak usah, ngak enak dibecandain masalahnya Yonan datang sekeluarga masa dibecandain’ demikian kata Ferry. Setelah itu datanglah penjaja villa dipuncak yang kami sewa untuk memainkan gitar yaitu Bambang Samuel. Dia datang dengan seragam khas penjaja villa minus senter.

Kebaktian

Semula Ferry yang akan memimpin ibadah sebagai MC tapi dia mengalihkan tugas itu kepada saya, ternyata pemain musik kita tidak terlalu mengikuti perkembangan musik yang banyak dinyanyikan di gereja-gereja Bethel-Pantekosta, sehingga harus menyesuaikan diri terlebih dahulu, tapi berkat kepiawaiannya tidak diperlukan waktu lama sehingga kebaktian bisa segera dimulai.

Lagu pujian dinaikkan, suka cita terpancar di wajah setiap kami dan sungguh Allah hadir di tengah-tengah kami. Satu lagu yang berkesan pada waktu saya pertama kali bergabung dengan PD Yeremia sekitar tahun 1985 adalah ‘Ku tahu Roh Allah ada disini’ menjadi lagu yang tak dilewatkan untuk dinyanyikan. Setelah menaikkan beberapa lagu pujian tiba saatnya Firman Tuhan diperdengarkan melalui hambaNya Pdt. Andre Koetin.

Bapak pendeta ini membacakan ayat dari Lukas 2 :52 “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dab besar-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia”.

Intinya sebagai berikut : Setelah beberapa lamanya kita tidak bertemu lagi tentu ada banyak perubahan pada tiap kita masing-masing. Usia bertambah, jumlah keluarga bertambah, berat badan bertambah atau mungkin deposito dan harta bertambah. Tetapi adalah hal yang lebih penting bagi kita semua anak-anak Tuhan untuk bertambah hikmat di dalam Tuhan, bertambah bijaksana, bertambah mencintai Firman Tuhan, bertambah waktu dalam berdoa dan bertambah peran dalam pelayanan.

Adakah hal itu menjadi sebuah perwujudan nyata sebagaimana Kristus yang bukan saja bertambah besar dalam fisik akan tetapi bertambah hikmat dalam Allah dan bertambah besar di dalam Tuhan. Sebagaimana lagu lama yang berbunyi ‘Dia harus semakin bertambah ku harus semakin berkurang….’

Bagaimana dengan waktu teduh kita ? sebagai bentuk nyata kerendahan hati kita dihadapan Allah kita akan selalu mencari wajah Tuhan dan kehendakNya setiap hari lewat doa dan Firman Tuhan, karena kita menyadari tanpa Dia kita tidak bisa apa-apa.

Bapak pendeta ini juga mengatakan bahwa kerinduan dia untuk lebih banyak lagi memperkenalkan Kristus kepada orang lain terdorong oleh amanat agung Tuhan Yesus. Waktu kita masih sama-sama bernaung di dalam PD Yeremia kita selalu punya pandangan ‘Jangan seorangpun memandang kita rendah karena kita muda, tetapi jadilah teladan bagi orang-orang percaya’. Kalau dulu waktu kita muda saja kita harus jadi teladan apalagi sekarang kita sudah bertambah usia, bertambah tua tentu keteladanan kita harus semakin berbobot. Jadi mari semua saudara-saudara dalam Tuhan seiring bertambahnya usia kita bertambah juga iman kita dalam Tuhan. Amin.

Acara dilanjutkan dengan sharing masing-masing pelayanan, di mulai dari saya sendiri. Saya megutarakan permintaan maaf kalau saya berperan besar dalam bubarnya PD Yeremia karena di masa kepengurusan sayalah PD Yeremia fakum dan bubar. Hal ini saya akui karena keteledoran dan keegoisan pribadi, kenyataan ini sempat menjadi penyebab keragu-raguan untuk mengkoordinir sebuah persekutuan pekerja di pabrik dimana saya bekerja sejak April 1995 di Serang yang mempunyai pekerja kurang lebih 40.000 dengan kira-kira 1000 pekerja beragama Kristen. Selain itu oleh karena anugerahNya saat ini juga terlibat pelayanan di GBI Eliezar Serang sebagai komisi pemuridan.

Ferry Simanjuntak, siapa yang tidak kenal pria ini, semua yang pernah mengenal PD Yeremia pasti mengenal dia, karena dia adalah sesepuh generasi ke generasi. Sesuai dengan latar belakang dan dunianya, saat ini dia tetap berkecimpung di dunia pendidikan Kristen salah satunya di STT IMAN jl. Wijaya dekat GSRI. Selain itu diapun aktif pelayanan di PGI propinsi DKI Jakarta, jadi kalau ada gereja di DKI yang akan mendirikan gedung gereja dia akan ikut sibuk membantu proses perijinannya.

Sebenarnya dia sudah diminta untuk menjadi Pendeta tetapi berhubung masih aktif di politik di belum bisa menyanggupinya. Mengenai politik, jangan apriori dulu, menurutnya politik adalah salah satu alat perjuangan. Di DPR kita bisa memperjuangkan rencanca anggaran dan rencana UU bagi kepentingan gereja. Ferry mengucap syukur sekalipun dia berasal dari sinode dan gereja yang tidak begitu besar tapi Tuhan memepercayakan dirinya untuk berkontribusi di PGI DKI.

Andre Kotien akhirnya terpanggil untuk menjadi pendeta sekalipun tidak mudah baginya untuk menjawab panggilan itu, sebelumnya dia merintis persekutuan di rumahnya dibantu oleh teman hidupnya di Pondok Pucung, ada persekutuan ibu-ibu, persekutuan remaja. Pelayanan-pelayanan yang Tuhan percayakan kepadanya semakin menambah kerinduannya untuk lebih banyak lagi menjangkau jiwa-jiwa terutama yang ada di luar tembok gereja. Di samping itu keterlibatannya dalam pelayanan antar wilayah dan budaya seperti Timika mengharuskan dirinya untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di sebuah perusahaan sekuler. Sebuah gereja yang hampir 7 bulan ditinggal oleh gembalanya karena aktif didunia politik membutuhkan dia di gembalakan.

Lucy Bungawan, kefakuman PD Yeremia tidak melarutkan dia dalam kefakuman melayani. Kembali ke GKI panglima Polim di mana dia berjemaat adalah kerinduannya untuk memuliakan Tuhan Yesus. Ada banyak karya yang dilakukan untuk Tuhan salah satunya adalah mengadakan KKR yang hampir mustahil di adakan di GKI Panglima Polim, tapi berkat bantuan rekan-rekan yang memiliki kerinduan sama dan tentunya oleh pertolongan Dia yang empunya pelayanan maka KKR tersebut bisa diadakan dengan dana awal 250ribu dan tanpa minta sumbangan kiri-kanan Tuhan mencukupkan dengan limpahnya.

Atta, melayani di GPIB Sumber Kasih dan sangat bersyukur dengan banyak pengajaran dan pembinaan di PD Yeremia yang menjadi bekal untuk melayani lebih lanjut. Saat ini dia terlibat aktif khususnya di pelayanan keluar untuk diakonia.

Mercy Mandagie, yang termuda dari seluruh ex PD Yeremia yang hadir tetap antusias dalam melayani di GPIB Sumber Kasih dan mempunyai harapan yang besar agar kita semua tidak berhenti sampai disini saja untuk menghangatkan persekutuan tetapi terus kontak dan saling mendukung.

Mengingat waktu yang tidak memungkinkan untuk memberi kesempatan kepada semua yang hadir maka di kesempatan berikutnya sharing dan kesesaksian akan dilanjutkan oleh yang lainnya. Mudah-mudahan ex PD Yeremia lebih banyak yang hadir dan kita bisa saling menopang dalam dunia pelayanan kita masing-masing.

Waktu hampir menunjukkan pukul 9 malam ketika tiba acara berfoto bersama dan satu persatu meninggalkan rumah Lucy. Ketika kami pulang Ferry, Ronal, Mercy, Diana, Riana, Yudi dan Atta serta Lucy tentunya masih tinggal untuk diskusi rencana pertemuan berikutnya terutama membahas usulan Ferry untuk merayakan ulang tahun Yeremia 4 Oktober 2009.

Sampai jumpa saudara-saudara seiman, Tuhan Yesus memberkati kita semua, setialah seperti Tuhan Yesus setia.

SHS
GBU

Kamis, 27 Agustus 2009

Beratnya cobaan ini


1 Kor 10 : 13 ‘Pencobaan…’

Malam tadi saya terlibat dalam pertarungan yang sangat sengit dengan seseorang, seluruh kemampuan dan kesaktian sudah dikerahkan tapi lawan yang saya hadapi tak kunjung menyerah dan takluk. Entah sudah berapa jurus sudah saya keluarkan, baik untuk pukulan mapun tendangan namun dia selalu bisa mengelak bahkan tak jarang dia balik menyerang dengan kuatnya. Setelah lama lawan tak juga mampu dikalahkan dan saya merasa lelah dan hampir menyerah tiba-tiba saya tersentak bangun dari tidur dan seketika itu juga lawan berat yang saya hadapi lari entah kemana.

Rupanya saya baru saja bermimpi bertarung dengan lawan yang sepadan dan seimbang, hal itu terbukti sampai saya selesai bermimpi lawan tersebut belum berhasil dikalahkan. Saya ingat saya terbangun dan lawan itu lari setelah saya bertanya kepada Tuhan dalam mimpi saya ‘Tuhan kenapa lawan ini sangat sukar dikalahkan ? Saya tidak sanggup lagi melawannya. Tuhan tolonglah saya ! ‘

Segera setelah saya terjaga dan mimpi itu buyar saya teringat akan Firman Tuhan dalam 1 Kor 10 : 13. Pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kemampuan kita dan pada waktu kita dicobai Tuhan akan memberikan jalan keluar supaya kita cakap menangungnya.

Alkitab mengatakan bahwa persoalan, pencobaan ataupun ujian yang kita alami atau hadapi sesungguhnya adalah hal biasa yang tidak akan melebihi kekuatan kita. Tapi yang sering terjadi adalah suatu tanggapan berlebihan yang kita hasilkan. Seolah-olah masalah atau persoalan itu terlalu berat, terlalu sulit untuk dihadapi. Kita berpikir Allah meninggalkan kita dan membiarkan kita terkapar dan dikalahkan oleh masalah tersebut. Tetapi sesungguhnya yang terjadi adalah kita merasa masalah itu terlalu besar tidak sebanding dengan kemampuan kita, padahal kita belum mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan yang kita miliki atau walaupun setelah semua daya dan kekuatan telah dikerahkan kita belum menambah kekuatan kita dengan kekuatan dan pertolongan dari Allah.

Salah satu contoh yang sering kita dengar adalah seorang ayah yang bijaksana tidak akan memberikan beban 5Kg kepada anaknya yang masih kecil yang hanya mampu mengangkat beban 1Kg.

Saya berpikir sesuatu yang lain, seorang anak kelas 1SD ketika dia harus diuji, tidak akan mungkin diuji dengan soal-soal untuk kelas diatasnya, begitu juga sebaliknya seorang siswa kelas 3SMA tidak akan mungkin diuji dengan soal kelas 6SD. Apakah kebanggaannya, ketika siswa kelas 3SMA itu bisa menjawab ujian kelas 6SD ?. Ketika seorang karateka Ban Hitam diuji dengan karateka Ban Hijau, apakah kebanggannya ? Atau sebaliknya karateka Ban Hijau tidak mungkin diuji dengan karateka Ban Hitam. Kita tambahkan lagi, seorang petinju kelas Ringan tidak mungkin bertanding dengan petinju kelas berat atau apakah kebanggaannya petinju kelas berat jika mampu mengalahkan petinju kelas ringan?

Tentu hal-hal tersebut adalah suatu keanehan. Jadi percayalah semua ujian, pencobaan atau masalah yang kita hadapi sesungguhnya masih sesuatu yang bisa kita atasi apalagi kita yakin bahwa Allah ada di pihak kita. Dia senantiasa siap menolong dan memberikan jalan keluar, Jadi jangan pernah merasa terlalu sulit, terlalu lemah, terlalu pesimis. Percayalah bersama dengan Tuhan kita pasti sanggup, pasti bisa menjadi pemenang.

Jangan pernah putus asa, karena sesungguhnya semua pencobaan itu adalah pencobaan biasa, jangan berlebihan dengan mengatakan persoalan kita sudah melewati kemampuan kita, jangan menjadi cengeng, percayalah kepada Kristus. Nyawa saja Dia berikan apalagi yang lain. Selamat bertanding, selamat berjuang dan jadilah pemenang dan selamat menyambut persoalan yang lebih berat lagi sesuai dengan kadar iman dan kekuatan kita.

SHS
GBU

Jumat, 07 Agustus 2009

SEMANGAT, KEGALAUAN , BERSERAH & KUASA TUHAN (part 2-end)

Dengan kepala terunduk tapi hati terangkat kepada Tuhan mereka kembali menaikkan doa-doa permohonan tapi tidak seperti yang sudah-sudah, kali ini lebih hening karena seolah-seolah semua kata sudah diutarakan, tinggallah hati yang berbicara kepada Allah sumber pertolongan yang sejati.

Setelah hening sejenak mulailah mereka berdiskusi dan mereka sepakat bahwa keadaan ini harus segera di sikapi dengan perbuatan iman. Doa sudah dinaikkan, harapan sudah diutarakan, saatnya bertindak.

Semua panitia mempersiapkan diri untuk memulai acara, para undangan diminta untuk menuju lapangan tempat acara akan diadakan. Kursi-kursi yang sudah dibersihkan siap menunggu mereka untuk duduk dan mengikuti acara. Lampu listrik belum menyala, cahaya remang-remang masih mendominasi setiap sudut lapangan.

Keadaan masih belum berubah, tidak ada yang bisa diperbuat. Semua menunggu dengan harap-harap cemas, bagaimana kelanjutan acara ini ? ditundakah, dilanjutkankah atau dibatalkan.

Kemudian MC naik ke atas panggung, semua berdiam diri menanti apa yang terjadi. MC membuka kalimat dengan ucapan selamat datang dan kemudian mengajak semua yang hadir untuk berdoa. Sementara itu di bawah panggung, dibelakang panggung dan dimana saja panitia ada mereka semua menundukkan kepala memohon Tuhan menyatakan kuasanya.

“Dalam nama Yesus kami berdoa, Ammmminnnnn” MC mengakhiri doanya dan lampu menyala, kegelapan hilang ditelan oleh terang benderang, ya seolah tak percaya, sebagian masih terpesona kagum yang lain menggumam kagum. Saya sulit untuk menggambarkan suasana hati masing-masing yang hadir, tapi itulah yang terjadi.

Lampu listrik menyala tepat kata ‘amin’ diucapkan, tepat ketika doa selesai dipanjatkan. Air mata bahagia, beban dan kesesakan terangkat diganti dengan suka cita dan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Allah tak pernah terlambat dalam menolong tapi Dia juga tak pernah tergesa-gesa, segala sesuatu indah pada waktunya.

Dengan penuh suka cita seluruh rangkaian cara dilanjutkan, berlangsung dengan baik hingga acara selesai. Tamu undangan satu-persatu meninggalkan lokasi dengan kesan masing-masing, ada yang bersyukur tapi mungkin ada juga yang menganggap itu adalah sebuah kebetulan. Panitia kembali bekerja untuk membereskan seluruh perlengkapan dan membersihkan lapangan upacara seperti diawal acara didalam kegelapan tetapi saat itu hati mereka sangat bersuka cita dan penuh ucapan syukur dalam terangnya lampu listrik.

Satu persatu dan ada yang bersama-sama meninggalkan lokasi, membawa kesan yang mendalam akan pertolongan Tuhan. Tuhan Yesus hidup dan berkuasa dan biarlah itu selalu mengingatkan kita. Saya yakin pertolongan di malam itu hanya salah satu dari sekian banyak pertolongan yang Tuhan lakukan di kehidupan kita masing-masing untuk menyatakan kesetiaanNya.

Maz 103 : 2 “Pujilah Tuhan, hai jiwaku dan janganlah lupakan segala kebaikkanNya!”



Nb.: nama masing-masing pelaku peristiwa sengaja tidak dicantumkan untuk mengajak mereka mengenang peristiwa itu berdasarkan kesan masing-masing. Kiranya ksih setia Tuhan terus menandai hari-hari kita dan mendorong kita terus memberikan hidup bagi Kristus yang sudah memilih dan menebus kita.

ditulis utk Nelson PL dan kawan-kawan PD Yeremia Cipete

Segala kemuliaan bagi DIA
SHS